Pentingnya Riset: Mengenal Keadaan, Melihat Kebenaran



Riset;

Riset atau yang lebih sering kita kenal sebagai penelitian berasal dari Bahasa Inggris Research. Kata research sering di kenal untuk mewakili serangkaian kegiatan atau untuk mengartikan sesuatu yang kurang tepat sehingga perlu di luruskan terlebih dahulu[1].
Sementara itu, riset atau penelitian sendiri tidak lain dari suatu metode studi yang dilakukan seseorang melalui penyelidikan yang hati-hati dan sempurna terhadap suatu masalah, sehingga diperoleh pemecahan masalah yang tepat terhadap permasalahan tersebut[2]. Frederick L. Whitney dalam bukunya The Elements of Research mengemukakan beberapa pengertian riset menurut beberapa pendapat ahli, seperti Parson mengemukakan bahwa penelitian merupakan pencarian atas sesuatu (Inquiry) secara sistematis dengan penekanan bahwa pencarian ini dilakukan terhadap masalah-masalah yang dapat dipecahkan. Pendapat lain dalam buku yang sama, Woody mengungkapkan bahwa penelitian merupakan sebuah pemikiran kritis (critical thinking). Penelitian meliputi pemberian definisi dan redefinisi terhadap masalah, memformulasikan hipotesa atau jawaban sementara, membuat kesimpulan dan sekurang-kurangnya mengadakan pengujian yang hati-hati atas semua kesimpulan untuk menentukan apakah ia cocok dengan hipotesa[3].

Berdasarkan beberapa penjelasan singkat di atas, dapat sedikit kita ambil kesimpulan bahwa riset merupakan proses pengumpulan, menganalisis dan menerjemahkan informasi atau data secara sistematis untuk menambah pemahaman kita terhadap suatu fenomena tertentu yang menarik perhatian kita. Dengan demikian, riset tidak hanya mengumpulkan informasi tentang sesuatu atau beberapa hal (information discovery). Ia bukan merupakan aktifitas memindahkan fakta dari satu lokasi ke lokasi lain dengan menghilangkan inti dari riset itu sendiri (intepretasi data). Ia bukan aktifitas mencari informasi tertentu secara acak, misalkan kita ingin membeli sebuah smartphone kemudia kita mencari informasi-informasi tentang tipe-tipe smartphone yang se-level, harga yang mendekati, design atau model-model yang di tawarkan melalui brosur-brosur atau tabloid gadget untuk menentukan smartphone seperti apa yang kita inginkan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan. Riset, untuk kesekian kalinya ia bukanlah sebuah istilah untuk menarik perhatian! Beberapa iklan produk menggunakan kata “riset” untuk menarik perhatian konsumen dan meyakinkan konsumen bahwa produk mereka bermutu.


Riset: Tidak Hanya Tentang Metode Puluhan Tahun, yang Kembali Digunakan untuk Menciptakan Data yang Diinginkan.

Pada tulisan ini, penulis tidak akan membahas tentang bagaimana metode riset, atau bagaimana riset itu dilakukan, jika ingin mengetahui hal tersebut kami sarankan untuk membeli saja buku-buku yang membahas tentang Metodologi Riset atau yang mengkaji tentang riset seperti “Pengantar Riset Kuantitatif dan Kualitatif”, atau kalau ingin lebih fokus pada suatu bidang, misal pendidikan, yaa tinggal beli saja Riset Pendidikan, atau bidang lain misalnya Riset Makanan, Riset Pemasaran, Kajian Riset Akuntansi dsb. Karena, penulis hanya akan membahas tentang pentingnya sebuah riset secara garis besar berdasarkan sejarah dan fenomena sekarang. Jika kalian pernah membaca sebuah buku dengan judul “Kaum Tani Mengganyang Setan-Setan Desa” karya D.N. AIDIT tahun 1964 (jika belum, saya sarankan silahkan dibaca setelah membaca tulisan ini), di dalamnya memaparkan riset yang dilakukan tokoh Partai Kiri tersebut bersama tim risetnya. Pada bagian pertama saja, dia dengan jelas memaparkan bahwa faktor yang menjadi sebab kenapa Partai Komunis Indonesia (PKI) bisa dengan cepat mengalami kemajuan, yaitu adanya pekerjaan riset yang mereka lakukan. Sejak tahun 1951, mereka telah melakukan riset-riset untuk mengetahui detail permasalahan yang ada, seperti permasalahan agraria. Metode riset mereka pun pada tahun tersebut, masih terbilang metode riset dibawah standar (atau standar sekarang), bahkan lebih cenderung pada kegiatan-kegiatan survei yang tidak bisa mengakomodasi dan memberikan wadah untuk melihat permasalahan yang ada dengan gamblang sehingga kurang mampu memberikan jawaban-jawaban yang sepenuhnya dan sebenarnya dari permasalahan tersebut. Bahkan Aidit sendiri menyatakan metode survei tersebut (membagikan kuisioner, angket, tanya-jawab singkat dengan responden dsj.) adalah metode yang keliru, karena tidak mengadakan kontak langsung dengan kenyataan yang kongkrit. Dari situlah ia membuat rumusan-rumusan riset – (yang kita kenal dengan 3 sama, 4 harus, 4 jangan) – yang sangat terbukti mampu mencerabut permasalahan sampai akarnya (mengetahui permasalahan secara detail) sehingga mampu memunculkan hipotesa jawaban dari permasalahan yang ada, untuk di tanamkan (dipraktekan untuk menjawab permasalahan tersebut). Sebelum lebih jauh lagi, Aidit juga mengatakan untuk menekankan betapa pentingnya sebuah riset yaitu, bahwa Partai Komunis yang tidak melakukan riset, pantas diragukan kemurniannya sebagai Partai Marxis-Leninis[4]. Berdasarkan yang baru saja dipaparkan di atas, bisa kita lihat betapa pentingnya sebuah riset. Perannya dalam mencari titik permasalahan dan mengenal keadaan. Jika kita melihat sekarang, hampir tidak ada lembaga yang benar-benar melakukan riset di masyarakat dengan metode yang bisa di bilang “lebih sukses” dari pada metode yang digunakan oleh aidit. Bahkan mayoritas lembaga yang melakukan riset cenderung lebih banyak menggunakan metode yang 50 tahun lalu sudah dinyatakan keliru oleh Aidit, akibatnya data yang di hasilkan pun diragukan validitasnya, sehingga jawaban-jawaban dari permasalahan yang di dapat juga tidak akan bisa menjawabnya, selain karna memang tidak ada keseriusan untuk menjawab permasalahan yang memang sejak awal di ragukan ke validannya. Mangkanya tidak heran jika lembaga-lembaga di Indonesia yang melakukan penelitian, tidak mampu memaparkan data valid dan fakta yang sebenarnya serta prediksi-prediksi (forecasting) atau kemungkinan terhadap apa yang akan terjadi dan jawaban dari permasalahan yang ada di lapangan, terlepas dari banyaknya variable, tentunya metode riset lah yang menjadi dasar permasalahan disamping banyaknya kepentingan terhadap riset tersebut. Lembaga-lembaga pendidikan akademis seperti Sekolahan, Perguruan Tinggi, Pondok Pesantren, Institut dsb yang seharusnya menjadi pusat kegiatan riset selain untuk kegiatan pengembangan ilmu pengetahuan murni, juga seharusnya menjadi pusat kajian riset terhadap kondisi serta permasalahan yang ada di masyarakat. Karena itulah sebenarnya fungsi dan tujuan dari kegiatan mereka di dalamnya. Jadi mereka tidak hanya sekedar belajar tentang filsafat, tentang memahami alam semesta yang membawa mereka untuk memberikan kesimpulan dan hanya mengamini bahwa alam raya ini pada dasarnya berjalan secara harmoni, mereka tidak hanya belajar tentang ilmu alam, belajar ilmu terapan –akan tetapi tidak pernah memprakteknya untuk menjawab permasalahan di masyarakat, apalagi ilmu sosial yang hanya bersosialisasi dengan teman sekelas, bangku belajar, kertas dan bulpen saja. Mereka harusnya terjun langsung, melihat langsung chaos-chaos, permasalahan-permasalahan yang ada di masyarakat. Tentunya dengan metode riset yang benar untuk bisa melihat hal tersebut yang nantinya akan bisa memberikan rumusan-rumusan jawaban untuk menjawab permasalahan yang ada di masyarakat.

Riset: Antara Data Ilmiah dan Data Sampah untuk Menggendong Kepentingan

Mengutip hasil riset kesehatan dasar (Rikesdas) 2010, ada sekitar 95 juta orang di Indonesia terpapar asap rokok, termasuk di dalamnya 40,3 juta anak Indonesia berusia 0-14 tahun sebagai perokok pasif. Paparan asap rokok memiliki dampak negatif yang sama bahayanya dengan perokok aktif. Dalam kutipan buku The Tobacco Atlas yang diterbitkan American Cancer Society dan World Lung Foundation dinyatakan pula paparan asap rokok meningkatkan risiko terkena kanker paru-paru sebesar 30 persen dan penyakit jantung koroner sebanyak 25 persen. Hasil penelitian Global Adult Tobacco Survey (GATS) periode 2008 – 2013 menunjukkan data persentase prevalensi paparan asap rokok terhadap orang dewasa di Indonesia. GATS mencatat lebih dari 85 persen orang dewasa Indonesia terkena paparan asap rokok di rumah, lebih dari 78 persen di tempat makan, dan 50 persen di tempat kerja[5].

Di atas adalah salah satu contoh hasil riset yang di lakukan GATS tentang bahaya paparan asap rokok bagi orang yang bukan perokok. Selanjutnya mari kita simak hasil riset yang dilakukan oleh John Josselyn tentang pemanfaatan tembakau sebagai obat, tahun 1675.

Tembakau (bahan baku utama rokok) melancarkan pencernaan, meringankan encok, sakit gigi, mencegah infeksi melalui bau-bauan; tembakau menghangatkan yang kedinginan, sekaligus menyejukkan mereka yang berkeringat, menimbulkan rasa kenyang bagi yang kelaparan, memulihkan semangat loyo, mencegah nafsu makan, membunuh kutu rambut dan telurnya; tumbukan daun hijaunya, meski beracun, menyembuhkan luka akibat sakit gangren; bisa dibikin sirup untuk aneka penyakit; dijadikan asap untuk sakit tuberkolusis, batuk paru-paru, diuapkan untuk sakit rematik, dan semua penyakit akibat hawa dingin dan lembab; bagus untuk seluruh badan yang terkena dingin dan lembab dengan meletakkannya di atas perut kosong; jika ditaruh di atas perut kenyang, ia melancarkan pencernaan[6].

Berdasarkan 2 riset yang kami kutip untuk dipaparkan di atas, riset mengenai Tembakau, Rokok dan pengaruhnya untuk manusia, bisakah kita menyimpulkan bahwa tembakau itu baik untuk kesehatan dengan landasan ia bisa dijadikan obat? Atau bisakah kita menarik kesimpulan bahwa Rokok adalah sumber utama penyakit kanker? Jika anda masih ragu untuk menjawabnya, saya akan kembali bertanya, pernahkah anda membaca buku dengan judul Nicotin War? Saya rasa pertanyaan itu sangat mudah di jawab. Jika pernah, anda pasti dengan yakin dan mantap bisa menjawab pertanyaan sebelumnya. Pertanyaan selanjutnya adalah, tahukah anda tentang Junk Science? Jika tidak, sedikit akan saya jelaskan, junk science atau pengetahuan palsu, pengetahuan sampah atau apalah orang menyebutnya, ia bukanlah merupakan ilmu pengetahuan mengenai limbah sampah dan sejenisnya, akan tetapi ia adalah ilmu pengetahuan yang berdasar pada ciri-ciri pengetahuan (rasional, empiris, berdasarkan data, analisis, teori dsb) yang berisi tentang pengetahuan yang sebenarnya semu, palsu, tipu, sehingga sebagian kalangan juga menyebutnya sebagai Pseudoscience (Bahasa yunani; Pseudo = semu). Satu poin penting yang perlu kita pahami adalah Pengetahuan itu bersifat objektif, akan tetapi ia tidak netral. Pada setiap masa, setiap fase, setiap rezim, setiap dinasti, pengetahuan selalu sukses memainkan perannya. Entah pengetahuan itu posisinya dibuat berada di dalam istana sebuah rezim atau ia berada di selokan-selokan dan lorong-lorong gelap bersama kaum miskin, terpinggirkan dan kaum tertindas. Permasalahan tentang Rokok adalah salah satu produk dari ilmu pengetahuan, banyak riset yang melihat rokok dengan kacamata positif, dan ada juga yang berusaha melihat dengan kacamata negatif. Jika kita membaca buku Nicotine War, di situ dipaparkan dengan jelas tentang perang dagang antara industri tembakau dan industri farmasi (obat-obatan). Secara sederhana, mari kita lihat sedikit fenomena yang telah lalu. Dulu ada riset yang menyatakan bahwa merokok itu tidak sehat, akan tetapi tesis tersebut selanjutnya bisa di jawab oleh masyarakat sebagai kesadaran individu, “mau ngerokok atau enggak, ya terserah saya. Saya mau sehat, terserah saya”, dengan begitu maka tesis hasil riset pertama tadi tidak mampu untuk menghapuskan Rokok di masyarakat. Beberapa tahun selanjutnya ada riset kembali yang meberikan tesis bahwa perokok itu selain tidak sehat, juga mencemari lingkungan dan mengganggu orang sekitar perokok. Di tahap ini, tesis kedua mulai mengarahkan hubungan antara individu perokok dengan orang sekitarnya. Akan tetapi tesis ini segera bisa di jawab dengan dibangunnya kawasan-kawasan untuk merokok (smoking area) di samping semakin banyaknya kawasan dilarang merokok. Pada tahap ini, kembali tesis kedua gagal untuk memegang kendali untuk menghapus tembakau di masyarakat. Beberapa tahun terakhir, riset selanjutnya memberikan tesis bahwa paparan asap rokok itu sangat berbahaya. Artinya para perokok pasif itu lebih besar terkena penyakit akibat asap rokok dari pada perokok aktifnya itu sendiri. Pada tesis ketiga ini, mulai memberikan hubungan antara kontrol masyarakat sekitar dengan perokok, artinya sang perokok bisa benar-benar di salahkan jika dia merokok di tempat yang tidak ada orang ngerokoknya sama sekali, karena sang perokok lah satu-satunya yang menjadi perokok aktif, sedang yang lainnya pasif dan lebih besar kemungkinannya terkena penyakit, berdasarkan riset tersebut. Sementara itu jika kalian membaca data-data riset dari Centers for Desease Control (CDC), perkembangan signifikan terkait merokok dengan kesehatan, kalian akan mendapati upaya industri farmasi dalam menciptakan obat yang mengandung nikotin sebagai pengganti rokok. Kenapa demikian? Kembali pada awal tadi, semua riset-riset yang ada tadi, sebagiannya adalah junk science, fungsinya jelas untuk menekan Konsumsi Rokok di masyarakat oleh industri farmasi, dengan harapan industri farmasi lah satu-satunya perusahaan yang akan memproduksi obat nikotin dan mendistribusikannya. Henningfield, ahli farmakologi di Johns Hopkins dan mantan ilmuwan di National Institute of Drug Abuse, menyatakan di dalam “Smoking Aside, Nicotine Remains an Amazing Chemical” bahwa "Nikotin Adalah Zat Kimiawi yang Mencengangkan”. Mengingat kajian-kajian di atas, di samping sejumlah besar kajian tentang manfaat terapeutis nikotin yang sudah diterima luas, tak sulit memahami minat industri obat terhadap zat tersebut. Walaupun perusahaan-perusahaan farmasi tidak bisa mematenkan nikotin itu sendiri, mereka bisa mematenkan sarana pengantar nikotin serta senyawa-senyawa terapeutis baru yang memakai nikotin sebagai kandungan utamanya. Industri farmasi jelas akan senang jika perusahaan-perusahaan tembakau dan “sarana pengantar nikotin mereka” (yaitu rokok) dilenyapkan sama sekali. Dengan demikian, para Pedagang Obat akan menjadi satu-satunya penyedia nikotin untuk dunia.


Nah, melihat kenyataan yang demikian, kita bisa tahu bahwa riset yang ada, sangat sulit kemungkinannya menyajikan data valid dan objektif netral. Selain itu berdasarkan fenomena di atas, riset sangatlah penting untuk mengambil tindakan, kesimpulan, dan jawaban-jawaban atas segala permasalahan yang ada, di samping juga harus di barengi dengan metode riset yang benar dan kongkrit dalam melihat keadaan. Para kaum intelektual haruslah merebut (keluar dari “riset pesanan” kaum pemodal) senjata ini (riset) dari kalangan kaum yang penuh dengan kepentingan segelintir golangan saja. Dengan begitu, harapannya setiap pokok permasalahan akan jernih dan bisa ditemukan jawaban-jawaban berdasarkan data ilmiah yang ada. Sekarang coba kita bayangkan seandainya para kalangan akademis, membentuk sebuah tim dan melakukan sebuah gerakan-gerakan untuk turun ke masyarakat, tidak usah jauh-jauh, cukup turun saja ke daerah mereka masing-masing untuk melakukan riset, atau jika mereka khawatir dengan indepedensi risetnya, mereka bisa bertukar tempat daerah riset dengan kawan dekatnya. Maka, berapa banyak data yang bisa disajikan untuk dikaji dilembaga-lembaga pendidikan untuk menarik pokok permasalahan yang ada ditiap daerah serta merumuskan jawaban-jawaban dari permasalahan tersebut. Bukankah memang seharusnya itu salah satu tugas bagi kalangan akademis??















[*] https://parademic.typepad.com/my-blog/2017/04/parademic-notes-week-ending-170430.html, diakses 30 Oktober 2018
[1] Proboyekti, Umi. Reasearch. Yogyakarta: UKDW
[2] Hillway, Tyrus, (1956), Introduction to Research. Boston: Houngton Mifflin Company
[3] Hillway, Tyrus, (1956), Lamson, Frederick Whitney, (1948), The Elements of Research. New York: Prentice-Hall
[4] Aidit, D.N., (1964), Kaum Tani Mengganya Setan-Setan Desa. Djakarta: Pembaruan
[5] Global Adult Tobaco Survey: Indonesia Report 2011, [Online]. (http://www.searo.who.int/tobacco/data/gats_indonesia_2011.pdf, diakses 30 Oktober 2018)
[6] Weslager, C.A., (1974), Magic Medicines of The Indians. New York: Signet



  Apabila anda merasa situs ini bermanfaat dan ingin mendukung kami supaya bisa terus menyajikan konten berkualitas secara gratis. Maka anda dapat berkontribusi untuk keberlangsungan situs ini, di antaranya dengan memberikan donasi melalui halaman berikut:

Kirim Donasi


Posting Komentar

0 Komentar