Samir Amin: Manifesto Partai Komunis, 170 Tahun Kemudian // Bagian 1

Sumber: A Class Act: Martin Rowson’s graphic take on The Communist Manifesto; https://downthetubes.net/?p=45776

1

Tidak ada teks lain yang ditulis pada pertengahan abad kesembilan belas yang dapat bertahan sebaik Manifesto Partai Komunis (selanjutnya Manifesto) tahun 1848 oleh Karl Marx dan Frederick Engels. Bahkan apa yang telah mereka kerjakan (menyusun Manifesto) pada 1848, pada hari ini, seluruh teks paragraf di dalamnya lebih sesuai dengan realitas kontemporer dibandingkan [ketika ia disusun] pada 1848. Berawal dari premis-premis yang hampir tidak terlihat pada zamannya, Marx dan Engels menggambarkan kesimpulannya [demikian] bahwa perkembangan sejarah selama 170 tahun sepenuhnya diverifikasi.

Apakah Marx dan Engels adalah para nabi yang terilhami, pesulap yang mampu melihat ke dalam bola kristal, makhluk dengan kemampuan luar biasa sehubungan dengan intuisi mereka? Tidak. Mereka hanya memahami lebih baik daripada orang lain, pada zaman mereka dan zaman kita, esensi dari apa yang mendefinisikan dan mencirikan kapitalisme. Marx mencurahkan seluruh hidupnya untuk memperdalam analisis ini melalui pemeriksaan berulang-ulang atas ekonomi baru [ini], diawali dengan contoh yang terjadi di Inggris, dan politik-politik mutakhir yang, dimulai dari contoh yang ada di Prancis.[1]

Capital Marx menyajikan analisis ilmiah yang ketat tentang mode produksi kapitalis dan masyarakat kapitalis, dan bagaimana perbedaan mereka dari bentuk sebelumnya. Volume 1 menggali inti masalah. Ini secara langsung mengklarifikasi makna dari generalisiran pertukaran komoditas antara pemilik properti-pribadi (sebuah fenomena yang dalam sentralitasnya unik bagi dunia kapitalisme modern, meskipun pertukaran komoditas [sudah] ada sebelumnya), khususnya kemunculan dan dominasi nilai dan kerja abstrak. Dari pondasi itulah, Marx menuntun kita untuk memahami bagaimana penjualan terhadap kaum proletar atas tenaga kerjanya kepada "manusia yang memiliki uang" yang menentukan produksi dari nilai-lebih yang diambil oleh si kapitalis, dan yang, pada gilirannya, adalah suatu kondisi untuk melakukan kegiatan akumulasi modal. Dominasi nilai tidak hanya mengatur reproduksi sistem ekonomi kapitalisme, tetapi juga setiap aspek kehidupan sosial dan politik modern. Konsep alienasi komoditas menunjuk pada mekanisme ideologis yang dengannya, kesatuan keseluruhan reproduksi secara sosial diekspresikan.

Instrumen intelektual dan politik ini, yang divalidasi oleh perkembangan Marxisme, menunjukkan nilai [worth: nilai/manfaat/berharga] mereka dalam memprediksi dengan tepat, evolusi historis umum dari realitas kapitalis. Tidak ada upaya untuk memikirkan kenyataan ini di luar dari Marxisme —bahkan perlawanan terhadapnya—yang membuahkan hasil yang sebanding dengan apa yang ada pada Marxisme. Kritik Marx terhadap keterbatasan pemikiran borjuis, dan khususnya ilmu ekonomi, yang dengan tepat ia gambarkan sebagai sesuatu yang "vulgar," sangatlah tepat dan luarbiasa terhadapnya [Masterful]. Karena tidak mampu memahami apa itu kapitalisme dalam realitas esensialnya, pemikiran yang teralienasi ini [pemikiran borjuis] juga tidak dapat membayangkan ke mana arah masyarakat kapitalis. Akankah masa depan ditempa oleh revolusi sosialis yang akan mengakhiri dominasi modal? Atau akankah kapitalisme berhasil memperpanjang hari-harinya, sehingga membuka jalan menuju dekadensi masyarakat? Pemikiran borjuis mengabaikan pertanyaan ini, yang diajukan oleh Manifesto.

Memang, kita membaca dalam Manifesto bahwa ada "[…], suatu perjuangan yang setiap kali berakhir dengan penyusunan-kembali [revolutionary reconstitution] masyarakat umumnya atau dengan sama-sama binasanya kelas-kelas yang bermusuhan."[2]

Kalimat ini telah menarik perhatian saya sejak lama. Mulai dari itu, saya secara bertahap sampai untuk merumuskan pembacaan tentang pergerakan sejarah yang berfokus pada konsep pembangunan yang tidak setara dan kemungkinan berbagai proses yang berbeda untuk transformasinya, yang kemungkinan besar berasal dari pinggiran/periferalnya dan bukan dari pusatnya. Saya juga melakukan beberapa upaya untuk mengklarifikasi masing-masing dari dua model respons terhadap tantangan: cara revolusioner dan cara dekadensi.[3]

Memilih untuk mengambil hukum materialisme historis dari pengalaman universal, saya telah mengusulkan formulasi alternatif dari satu mode pra-kapitalis yang unik, yaitu, mode anak sungai [tributary; yang mana terdapat negara jajahan yang membayar upeti atau disebut “negara anak-sungai”—Penj.], ke arah yang mana kecenderungan semua masyarakat kelas. Sejarah Barat — pembangunan zaman kuno Romawi, disintegrasi, pembentukan Eropa feodal, dan, akhirnya, kristalisasi negara-negara absolut pada zaman merkantilisme — dengan demikian mengungkapkan, dalam bentuk tertentu, kecenderungan dasar yang sama yang disajikan di tempat lain terhadap pembangunan negara-negara anak sungai yang lengkap dan tidak terputus, yang mana Cina adalah contoh paling kuat. Mode budak, tidak universal dalam pembacaan sejarah kita, seperti juga mode anak sungai dan kapitalis; itu khusus dan muncul secara ketat sehubungan dengan perluasan hubungan komoditas. Selain itu, mode feodal adalah bentuk primitif, tidak lengkap dari mode anak sungai.

Hipotesis ini memandang pendirian dan disintegrasi Roma selanjutnya sebagai upaya prematur untuk membangun anak sungai. Tingkat pengembangan kekuatan-kekuatan produktif tidak memerlukan sentralisasi anak sungai pada skala Kekaisaran Romawi. Upaya pertama yang tak terhindarkan ini kemudian diikuti oleh transisi paksa melalui fragmentasi feodal, atas dasar mana sentralisasi sekali lagi dipulihkan dalam kerangka kerja monarki absolut di Barat. Baru kemudian mode produksi di Barat mendekati model anak sungai yang sempurna. Lebih jauh lagi, hanya dimulai dengan tahap ini bahwa tingkat perkembangan kekuatan-kekuatan produktif di Barat mencapai tingkat mode anak sungai yang sempurna dari kekaisaran Cina; tidak diragukan lagi, ini bukanlah suatu kebetulan.

Keterbelakangan Barat, yang diekspresikan oleh kegagalan Roma dan oleh fragmentasi feodal, tentu saja memberinya keunggulan historis. Memang, kombinasi elemen-elemen spesifik dari mode anak sungai kuno (acient-tributary) dan mode komunal barbar mencirikan feodalisme dan memberi Barat fleksibilitas. Ini menjelaskan kesuksesan secara pesat di mana Eropa mengalami fase anak sungai yang lengkap, dengan cepat melampaui tingkat perkembangan kekuatan produktif di Timur, yang menyusul, dan diteruskan ke kapitalisme. Fleksibilitas dan kecepatan ini kontras dengan evolusi mode-mode anak sungai timur [Orient: Asia, Timur; Ketimuran] yang relatif kaku dan lambat.

Tidak diragukan lagi, kasus Romawi-Barat bukanlah satu-satunya contoh konstruksi anak sungai yang gagal. Kami dapat mengidentifikasi setidaknya tiga kasus lain dari jenis ini, masing-masing dengan kondisi spesifiknya sendiri: kasus Bizantium-Arab-Ottoman, kasus India, dan kasus Mongol. Dalam setiap contoh ini, upaya untuk mengukuhkan sistem sentralisasi negara anak-sungai terlalu jauh di depan persyaratan pengembangan tenaga produktif yang harus ditetapkan dengan kuat. Dalam setiap kasus, bentuk-bentuk sentralisasi mungkin merupakan kombinasi khusus dari cara-cara negara, para-feodal, dan komoditas. Di negara Islam, misalnya, sentralisasi komoditas memainkan peran yang menentukan. Kegagalan India yang berurutan tentunya berkaitan dengan ajaran ideologi Hindu, yang saya kontraskan dengan Konfusianisme. Mengenai sentralisasi kekaisaran Jenghis Khan, itu, seperti kita ketahui, usia pemerintahannya sangat pendek [1206-1227 M].

Sistem imperialis kontemporer juga merupakan sistem sentralisasi surplus pada skala dunia. Sentralisasi ini beroperasi atas dasar undang-undang dasar mode kapitalis dan kondisi dominasinya atas mode-mode pra-kapitalis negara pinggiran. Saya telah merumuskan hukum akumulasi modal pada skala dunia sebagai ekspresi dari hukum nilai yang beroperasi pada skala ini. Sistem imperialis untuk sentralisasi nilai, dicirikan oleh akselerasi akumulasi dan oleh perkembangan kekuatan-kekuatan produktif di pusat sistem, sementara di pinggiran mereka ditahan dan dideformasi. Pengembangan dan keterbelakangan adalah dua sisi dari mata uang yang sama.

Hanya masyarakat yang membuat sejarah mereka sendiri. Tidak ada hewan maupun benda mati yang mengendalikan evolusi mereka sendiri; mereka tunduk padanya. Konsep praksis cocok untuk masyarakat, sebagai ekspresi sintesis determinisme dan intervensi manusia. Hubungan dialektik antara basis-struktur dan supra-struktur juga sesuai untuk masyarakat dan tidak memiliki padanan. Hubungan ini tidak sepihak. Supra-struktur bukanlah cerminan kebutuhan basis-struktur. Jika ini masalahnya, masyarakat akan selalu teralienasi dan tidak mungkin untuk melihat bagaimana ia bisa berhasil membebaskan diri.

Inilah alasan mengapa kami mengusulkan untuk membedakan dua jenis transisi yang berbeda secara kualitatif dari satu mode produksi ke mode produksi lainnya. Jika transisi ini berkembang dalam ketidaksadaran, atau dengan kesadaran teralienasi, yaitu, jika ideologi yang memengaruhi kelas tidak memungkinkan mereka untuk mengendalikan proses perubahan, proses ini tampak seolah-olah beroperasi secara analog dengan perubahan alam, dengan demikian, ideologi menjadi bagian dari alam ini. Untuk jenis transisi ini kami menggunakan ungkapan "model dekadensi." Sebaliknya, jika ideologi menangkap dimensi nyata dari perubahan total yang diinginkan dalam totalitasnya, barulah kita dapat berbicara tentang revolusi.

Pemikiran borjuis harus mengabaikan pertanyaan ini untuk dapat berpikir tentang kapitalisme sebagai sistem rasional yang dapat diterima selamanya, untuk dapat memikirkan "akhir sejarah."

//Bersambung



Cataran-catatan
  1. Saya menulis tentang hal ini dalam bab tiga buku saya Revolusi Oktober 1917: A Century Later (Montreal: Daraja, 2017).
  2. Karl Marx dan Frederick Engels, The Communist Manifesto (New York: Monthly Review Press, 1998), 2.
  3. Saya telah menulis lebih lanjut mengenai persoalan ini dalam kesimpulan buku saya Class and Nation (New York: Monthly Review Press, 1980).


Ekonom Mesir Samir Amin berbicara ketika krisis Eropa pada Festival Subversif di Zagreb (9 Juli 2012). Samir Amin (1931-2018) adalah direktur Forum Dunia Ketiga di Dakar, Senegal, dan penulis buku, yang terbaru adalah Imperialisme Modern, Kapitalisme Monopoli Keuangan, dan Hukum Nilai Marx (Monthly Review Press, 2018). // Sumber gambar: monthlyreview.org

Esai ini pertama kali diterbitkan dalam jurnal Sociološki Pregled / Sociological Review 52 (2), pp. 430-452, doi:10.5937/socpreg52-16323 oleh Serbian Sociological Association (Beograd, Serbia) (lihat: https://drive.google.com/file/d/1msN83o5n8hPrHewbH_PQBJeBHbJMhKxo/view). Dan, sebelum Samir Amin meninggal, ia mengirim esai ini ke Monthly Review (lihat: https://monthlyreview.org/2018/10/01/the-communist-manifesto-170-years-later/). Dengan ijin dari sumber tersebut (melalui Profesor Uroš Šuvaković, PhD — Pemimpin Redaksi Sociološki pregled / Sociological Review) tulisan ini dipublikasi di sini untuk materi pembelajaran.

Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia tidak diotorisasi oleh penulis esai.
Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Redaksi Alienasi pada Januari 2019



Posting Komentar

0 Komentar