Samir Amin: Manifesto Partai Komunis, 170 Tahun Kemudian // Bagian 2

Sumber: The Communist Manifesto – Marx and Engels’ Seminal Text Brought to the Comics Page by Martin Rowson and SelfMadeHero; http://www.brokenfrontier.com/communist-manifesto-martin-rowson-selfmadehero/

2

Sebaliknya, Marx dan Engels sangat menyarankan, sejak ‘masa’ Manifesto, bahwa kapitalisme hanya merupakan ‘tanda kurung singkat’ dalam sejarah kemanusiaan. Namun, cara produksi kapitalis pada masa mereka tidak melampaui Inggris, Belgia, wilayah kecil Perancis utara, atau bagian barat Prusia Westphalia. Tidak ada yang sebanding keberadaannya di wilayah lain di Eropa. Terlepas dari ini, Marx sudah membayangkan bahwa revolusi sosialis akan terjadi di Eropa "segera." Harapan ini terbukti dalam setiap baris Manifesto.

Marx, tentu saja, tidak tahu di negara mana revolusi akan dimulai. Apakah itu Inggris, satu-satunya negara yang sudah maju dalam kapitalisme? Tidak. Marx tidak berpikir ini mungkin, kecuali, jika proletariat Inggris membebaskan diri dari dukungannya terhadap penjajahan Irlandia. Apakah Perancis, yang kurang maju dalam hal perkembangan kapitalisnya, tetapi lebih maju dalam hal kematangan politik rakyatnya, yang diwarisi dari revolusi besarnya [Glorius Revolution]? Mungkin, dan Komune Paris tahun 1871 mengkonfirmasi intuisinya. Untuk alasan yang sama, Engels berharap banyak dari Jerman yang "terbelakang”: revolusi proletar dan revolusi borjuis di sini bisa bertabrakan bersama. Di Manifesto, mereka mencatat hubungan ini:

Kaum Komunis mengalihkan perhatian utama mereka ke Jerman, karena negara itu sedang menyongsong revolusi borjuis yang pasti untuk dilakukan di bawah kondisi peradaban Eropa yang lebih maju dan dengan proletariat yang lebih maju daripada yang ada di Inggris pada abad ketujuh belas, dan di Prancis pada abad ke-18, dan karena revolusi borjuis di Jerman akan menjadi awal dari revolusi proletar yang segera akan menyusul.[1]

Ini tidak terjadi: penyatuan di bawah penjahat sejarah-dunia (Bismarck) dari Prusia yang reaksioner, dan kepengecutan dan mediokritas politik borjuasi Jerman memungkinkan nasionalisme untuk menang dan memarginalkan pemberontakan rakyat. Menjelang akhir hidupnya, Marx mengalihkan pandangannya ke arah Rusia, yang ia harapkan dapat terlibat dalam jalur revolusioner, seperti yang disaksikan oleh korespondensinya dengan Vera Zasulich.

Dengan demikian, Marx memang memiliki intuisi bahwa transformasi revolusioner dapat dimulai dari pinggiran sistem —"mata rantai yang lemah," dalam bahasanya Lenin. Namun, Marx, pada waktu itu tidak menarik semua kesimpulan yang memaksakan diri dalam hal ini. Adalah perlu untuk menunggu sejarah melaju ke abad kedua puluh untuk melihat, pada V.I. Lenin dan Mao Zedong, para komunis menjadi mampu untuk membayangkan strategi baru, yang memenuhi syarat sebagai "pembangunan sosialisme di satu negara." Ini adalah ungkapan yang tidak tepat, yang saya lebih suka yaitu ungkapan panjang: “Kemajuan yang tidak setara dalam perjalanan panjang transisi sosialis, dilokalkan di beberapa negara, di mana strategi perlawanan terhadap imperialisme dominan, adalah untuk berjuang terus-menerus dan berusaha memisahkannya secara militan.”

Perdebatan yang berkaitan dengan transisi historis panjang dari sosialisme ke arah komunisme, dan ruang lingkup universal dari gerakan ini, menimbulkan serangkaian pertanyaan mengenai transformasi proletariat dari kelas di dalam dirinya sendiri ke kelas untuk dirinya sendiri, kondisi dan efek dari globalisasi kapitalis, tempat kaum tani dalam transisi panjang, dan keragaman ekspresi pemikiran anti-kapitalis.

//Bersambung



Cataran-catatan
  1. Marx dan Engels, The Communist Manifesto, 61-62.


Ekonom Mesir Samir Amin berbicara ketika krisis Eropa pada Festival Subversif di Zagreb (9 Juli 2012). Samir Amin (1931-2018) adalah direktur Forum Dunia Ketiga di Dakar, Senegal, dan penulis buku, yang terbaru adalah Imperialisme Modern, Kapitalisme Monopoli Keuangan, dan Hukum Nilai Marx (Monthly Review Press, 2018). // Sumber gambar: monthlyreview.org

Esai ini pertama kali diterbitkan dalam jurnal Sociološki Pregled / Sociological Review 52 (2), pp. 430-452, doi:10.5937/socpreg52-16323 oleh Serbian Sociological Association (Beograd, Serbia) (lihat: https://drive.google.com/file/d/1msN83o5n8hPrHewbH_PQBJeBHbJMhKxo/view). Dan, sebelum Samir Amin meninggal, ia mengirim esai ini ke Monthly Review (lihat: https://monthlyreview.org/2018/10/01/the-communist-manifesto-170-years-later/). Dengan ijin dari sumber tersebut (melalui Profesor Uroš Šuvaković, PhD — Pemimpin Redaksi Sociološki pregled / Sociological Review) tulisan ini dipublikasi di sini untuk materi pembelajaran.

Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia tidak diotorisasi oleh penulis esai.
Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Redaksi Alienasi pada Januari 2019



Posting Komentar

0 Komentar