Samir Amin: Manifesto Partai Komunis, 170 Tahun Kemudian // Bagian 3

Sumber: The Russian Revolution: A Verso Reading List; https://www.versobooks.com/blogs/3116-the-russian-revolution-a-verso-reading-list

3

Marx, lebih dari siapa pun, mengerti bahwa kapitalisme memiliki misi menaklukkan dunia. Dia menulis tentang hal itu pada saat penaklukan ini masih jauh dari selesai. Dia mempertimbangkan misi ini dari asal-usulnya, penemuan Amerika, yang meresmikan transisi tiga abad merkantilisme ke bentuk kapitalisme penuh yang terakhir.

Seperti yang ia tulis dalam Manifesto, “Industri modern telah membentuk pasar dunia, yang mana penemuan Amerika membuka jalannya... Kaum borjuis melalui eksploitasi pasar dunia memberikan karakter kosmopolitan terhadap produksi dan konsumsi di setiap negara.”[1]

Marx menyambut globalisasi ini, fenomena baru dalam sejarah kemanusiaan. Banyak bagian dalam Manifesto menunjukan tentang ini. Sebagai contoh: "Borjuasi, di mana pun ia berada di atas angin, telah mengakhiri semua hubungan feodal, patriarkal, relasi idilis."[2] Serta: "Borjuis telah menjadikan negara itu tunduk pada kekuasaan kota... dan dengan demikian telah menyelamatkan sebagian besar penduduk dari kebodohan [isolasi –Ed.] dari kehidupan pedesaan. Hal itu sama dengan telah membuat negara bergantung pada kota-kota, demikian juga telah membuat negara-negara barbar dan semi-barbar bergantung pada yang beradab, negara-negara petani di negara-negara borjuis, Timur di Barat.”[3]

Kata-katanya jelas. Marx tidak pernah berorientasi masa lalu, menyesali masa lalu yang indah. Dia selalu mengungkapkan sudut pandang modern, hingga tampak sebagai seorang Eurosentris. Dia pergi jauh ke arah ini. Namun bukankah barbarisasi tenaga kerja perkotaan sebagai sesuatu yang melemahkan bagi kaum proletar? Marx tidak mengabaikan kemiskinan kota yang menyertai ekspansi kapitalis.

Apakah Marx dari Manifesto mengukur dengan tepat konsekuensi politik dari penghancuran kaum tani di Eropa itu sendiri dan, bahkan lebih lagi, di negara-negara jajahan? Saya kembali ke pertanyaan-pertanyaan ini sehubungan langsung dengan karakter yang tidak setara dari penyebaran kapitalisme di seluruh dunia.

Marx dan Engels, dalam Manifesto, masih tidak tahu bahwa penyebaran kapitalisme di seluruh dunia bukanlah yang menyeragamkan sebagaimana yang mereka bayangkan, yaitu, memberikan kepada Timur yang ditaklukkan kesempatan untuk keluar dari jalan buntu yang mana sejarahnya telah menutupnya, dan untuk menjadi, sesuai dengan citra negara-negara Barat, negara-negara "beradab" atau negara-negara industri. Beberapa teks Marx menyajikan penjajahan India dalam cahaya yang menghibur. Tetapi Marx kemudian berubah pikiran. Alusi ini, alih-alih merupakan argumentasi yang diuraikan secara sistematis, menyaksikan efek destruktif dari penaklukan kolonial. Marx secara bertahap menjadi sadar akan apa yang saya sebut pembangunan tidak setara, dengan kata lain, konstruksi sistematis dari kontras antara pusat-pusat dominan dan pinggiran-pinggiran yang dominan, dan, dengan itu, ketidakmungkinan “mengejar ketinggalan” dalam kerangka globalisasi kapitalis (imperialistik oleh sifatnya) dengan alat-alat kapitalisme.

Dalam hal itu, jika mungkin untuk “mengejar ketinggalan” dalam globalisasi kapitalis, tidak ada kekuatan politik, sosial, atau ideologis yang dengan berhasil dapat menentang hal ini.

Sehubungan dengan pertanyaan “pembukaan” Tiongkok, dalam Manifesto Marx mengatakan bahwa “harga-harga murah dari komoditasnya adalah artileri berat yang digunakannya untuk merobohkan semua tembok-tembok Tiongkok, yang dengannya ia menaklukkan kebencian kaum bar-bar yang berkepala batu terhadap orang-orang asing."[4]

Kita tahu bahwa ini bukanlah cara pembukaan ini dioperasikan: kanon-kanon Angkatan Laut Inggris yang "membuka" Cina. Produk-produk Cina seringkali lebih kompetitif daripada produk-produk Barat. Kita juga tahu bahwa bukan industri Inggris yang lebih maju yang memungkinkan dominasi India yang sukses (sekali lagi, tekstil India memiliki kualitas yang lebih baik daripada milik Inggris). Sebaliknya, dominasi atas India (dan penghancuran terorganisir industri India) yang memberi Inggris posisi hegemonik dalam sistem kapitalis abad ke-19.

Namun, seorang Marx yang lebih tua belajar bagaimana meninggalkan Eurosentrisme di masa mudanya. Marx tahu bagaimana mengubah pandangannya, dalam cahaya evolusi dunia.

Oleh karena itu, pada tahun 1848, Marx dan Engels membayangkan secara kuat kemungkinan atas satu atau lebih revolusi sosialis di Eropa pada zaman mereka, yang menegaskan bahwa kapitalisme hanya mewakili peran singkat dalam sejarah. Fakta-fakta segera membuktikan mereka benar. Komune Paris 1871 adalah revolusi sosialis pertama. Namun, itu juga revolusi terakhir yang dicapai di negara kapitalis maju. Dengan berdirinya Internasional Kedua, Engels tidak kehilangan harapan dalam kemajuan revolusioner yang baru, khususnya di Jerman. Sejarah membuktikan dia salah. Namun, pengkhianatan Internasional Kedua pada tahun 1914 seharusnya tidak mengejutkan siapa pun. Di luar arus reformis mereka, keberpihakan partai-partai buruh di seluruh Eropa pada waktu itu dengan politik-politik borjuis mereka yang ekspansionis, kolonialis, dan imperialis mengindikasikan bahwa tidak banyak yang bisa diharapkan dari partai-partai Internasional Kedua. Garis depan untuk transformasi dunia bergerak ke arah Timur, ke Rusia pada tahun 1917 dan kemudian ke Cina. Tentu saja Marx tidak memprediksikan hal ini, tetapi teks-teksnya yang kemudian memungkinkan kita untuk menganggap bahwa dia mungkin tidak akan terkejut oleh Revolusi Rusia.

Mengenai dengan Cina, Marx berpikir bahwa revolusi borjuislah yang ada dalam agenda. Pada Januari 1850, Marx menulis: "Ketika kaum reaksioner Eropa kita... akhirnya tiba di Tembok Besar Tiongkok... siapa yang tahu jika mereka tidak akan menemukan tulisan tentang legenda itu: République chinoise, Liberté, Egalite, Fraternité."[5] Kuomintang dari revolusi 1911, dari Sun Yat-sen, juga membayangkan ini, seperti Marx, memproklamirkan Republik (borjuis) Tiongkok. Namun, Sun tidak berhasil mengalahkan kekuatan rezim lama yang panglima perangnya mendapatkan kembali wilayah itu, atau ketika mengusir dominasi pasukan imperialis, terutama Jepang. Aliran Kuomintang dari Chiang Kai-shek membenarkan argumen Lenin dan Mao bahwa tidak ada lagi ruang untuk revolusi borjuis yang otentik; era kita adalah eranya revolusi sosialis. Sama seperti Revolusi Februari Rusia 1917 yang tidak memiliki masa depan karena tidak mampu menang atas rezim lama, karena itu menyerukan Revolusi Oktober, Revolusi Tiongkok 1911 menyerukan revolusi Komunis Maois, yang merupakan satu-satunya yang mampu menjawab harapan pembebasan, secara bersamaan nasional dan sosial.

Dengan demikian Rusia, "mata rantai lemah" dari sistem, yang memprakarsai revolusi sosialis kedua setelah Komune Paris. Namun Revolusi Oktober Rusia tidak didukung, tetapi diperjuangkan oleh gerakan buruh Eropa. Rosa Luxemburg menggunakan ekspresi kasar untuk pergerakan buruh Eropa dalam hal ini. Dia berbicara tentang kegagalan, pengkhianatan, dan "ketidakberesan kaum proletar Jerman untuk memenuhi tugas-tugas bersejarahnya."[6]

Saya telah tiba pada penarikan ini, dari kelas pekerja di negara-negara Barat yang maju, yang mana mereka meninggalkan tradisi revolusioner mereka, dengan menekankan efek yang menghancurkan dari ekspansi kapitalisme imperialis dan manfaat yang diperoleh masyarakat imperial secara keseluruhan (dan tidak hanya borjuisnya) menarik dari posisi dominan mereka. Karena itu saya menganggap perlu untuk mendedikasikan seluruh bab dalam bacaan saya tentang kepentingan universal dari Revolusi Oktober untuk analisis perkembangan yang menyebabkan kelas-kelas pekerja Eropa melepaskan tugas-tugas bersejarah mereka, mengambil istilah-istilah Luxemburg. Saya merujuk pembaca ke bab empat Oktober 1917 Revolution buku saya.

//Bersambung



Cataran-catatan
  1. Marx dan Engels, The Communist Manifesto, 4-8.
  2. Marx dan Engels, The Communist Manifesto, 5.
  3. Marx dan Engels, The Communist Manifesto, 9. Catatan Editor [Monthly Review]: “Idiocy” (terbelakang) adalah penerjemahan yang salah, karena dalam bahasa Yunani klasik Idiotes merujuk pada isolasi dari polis, makna yang terbawa dalam bahasa Jerman — sebuah fakta yang diakui dalam beberapa terjemahan dari Manifesto. Lih: Hal Draper, The Adventures of the Communist Manifesto (Berkeley: Center for Socialist History, 1998), 211.
  4. Marx dan Engels, The Communist Manifesto, 9.
  5. Karl Marx dan Frederick Engels, On Colonialism (New York: International Publishers, 1972), 18.
  6. Rosa Luxemburg, Revolusi Rusia, 1918, tersedia di http://marxists.org.


Ekonom Mesir Samir Amin berbicara ketika krisis Eropa pada Festival Subversif di Zagreb (9 Juli 2012). Samir Amin (1931-2018) adalah direktur Forum Dunia Ketiga di Dakar, Senegal, dan penulis buku, yang terbaru adalah Imperialisme Modern, Kapitalisme Monopoli Keuangan, dan Hukum Nilai Marx (Monthly Review Press, 2018). // Sumber gambar: monthlyreview.org

Esai ini pertama kali diterbitkan dalam jurnal Sociološki Pregled / Sociological Review 52 (2), pp. 430-452, doi:10.5937/socpreg52-16323 oleh Serbian Sociological Association (Beograd, Serbia) (lihat: https://drive.google.com/file/d/1msN83o5n8hPrHewbH_PQBJeBHbJMhKxo/view). Dan, sebelum Samir Amin meninggal, ia mengirim esai ini ke Monthly Review (lihat: https://monthlyreview.org/2018/10/01/the-communist-manifesto-170-years-later/). Dengan ijin dari sumber tersebut (melalui Profesor Uroš Šuvaković, PhD — Pemimpin Redaksi Sociološki pregled / Sociological Review) tulisan ini dipublikasi di sini untuk materi pembelajaran.

Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia tidak diotorisasi oleh penulis esai.
Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Redaksi Alienasi pada Januari 2019



Posting Komentar

0 Komentar