Samir Amin: Manifesto Partai Komunis, 170 Tahun Kemudian // Bagian 5

Sumber: “Lenin at the map of GOELRO. 1920”; http://paretski.org/shop/11073/

5

Marx dan Engels tidak pernah percaya, baik dalam pengeditan Manifesto maupun setelahnya, pada potensi revolusioner spontan dari kelas-kelas pekerja, karena “Ide-ide yang menguasai dalam tiap-tiap zaman adalah senantiasa ide-ide kelas yang berkuasa.”[1] Karena fakta ini, pekerja, seperti yang lain, menganut ideologi persaingan, sebuah pondasi dari fungsi masyarakat kapitalis, dan, karenanya, “terorganisasinya kaum proletar menjadi kelas, dan membawanya menjadi partai politik, senantiasa menjadi bingung [kacau, dirusak] lagi oleh persaingan antara para pekerja sendiri.”[2]

Ekonom Mesir Samir Amin berbicara ketika krisis Eropa pada Festival Subversif di Zagreb (9 Juli 2012).
 
Samir Amin (1931-2018) adalah direktur Forum Dunia Ketiga di Dakar, Senegal, dan penulis buku, yang terbaru adalah Imperialisme Modern, Kapitalisme Monopoli Keuangan, dan Hukum Nilai Marx (Monthly Review Press, 2018). // Sumber gambar: monthlyreview.org
Oleh karena itu transformasi proletariat dari sebuah kelas di dalam dirinya sendiri menjadi sebuah kelas untuk dirinya sendiri memerlukan intervensi aktif dari garda depan komunis: “Kaum Komunis… di satu sisi secara praktik merupakan bagian yang paling maju dan teguh hati dari partai-partai kelas pekerja di setiap negara, bagian yang mendorong semua bagian-bagian yang lain; di sisi lain, secara teoritis, mereka memiliki lebih dari sekedar massa proletariat yang besar dengan keuntungan dari memahami secara jelas garis gerakan basis, syarat-syarat, dan hasil umum terakhir dari gerakan proletar."[3]

Penegasan peran garda depan yang tidak terhindarkan tidak berarti bagi Marx suatu advokasi yang mendukung partai tunggal. Ketika ia menulis dalam Manifesto, "Kaum Komunis tidak membentuk partai terpisah yang menentang partai-partai kelas pekerja lainnya... Mereka tidak membentuk prinsip sektarian mereka sendiri, yang digunakan untuk menentukan dan membentuk gerakan proletar."[4]

Dan kemudian, dalam konsepsinya tentang apa yang seharusnya menjadi sebuah Internasional Proletar, Marx menganggap perlu untuk mengintegrasikan ke dalamnya semua pihak dan arus pemikiran dan tindakan yang mendapat manfaat dari khalayak ramai yang populer dan khalayak pekerja. Internasional Pertama termasuk dalam anggotanya Blanquists Prancis, Lasallian Jerman, serikat buruh Inggris, Proudhon, anarkis, Bakunin. Marx tentu saja tidak mengesampingkan kritiknya, yang malah sering disampaikan dengan keras, terhadap banyak mitranya. Dan orang mungkin mengatakan bahwa mungkin kekerasan dari perdebatan konflik ini adalah akar dari kehidupan singkat Internasional ini. Biarlah apa adanya. Namun organisasi ini adalah sekolah pertama untuk pendidikan para kader masa depan yang terlibat dalam perang melawan kapitalisme.

Dua pengamatan mengarah pada pertanyaan tentang peran partai dan kaum komunis.

Yang pertama terkait dengan hubungan antara gerakan kaum komunis dan kaum nasionalis. Seperti yang dapat kita baca di Manifesto: “Para pekerja tidak memiliki negara. Kita tidak bisa mengambil dari mereka apa yang tidak mereka miliki dan dapatkan. Karena proletariat pertama-tama harus memperoleh supremasi politik, harus bangkit untuk menjadi kelas bangsa yang terkemuka, harus membentuk dirinya sebagai bangsa, ia sejauh ini adalah nasional, meskipun tidak dalam arti kata borjuis. ”[5] Dan, “Meskipun tidak secara substansial, namun dalam bentuknya, perjuangan kaum proletar dengan kaum borjuis pada awalnya adalah perjuangan nasional.”[6]

Di dunia kapitalis kaum proletar tidak mendapatkan bagian nasionalisme di negara mereka; mereka bukan milik bangsa itu. Alasannya adalah bahwa di dunia borjuis satu-satunya fungsi nasionalisme adalah untuk memberikan legitimasi, di satu sisi, untuk eksploitasi pekerja di negara tertentu dan, di sisi lain, untuk perjuangan borjuis melawan pesaing asing dan pemenuhan ambisi imperialistiknya. Namun, dengan kemenangan revolusi sosialis akhirnya, semua akan berubah.

Hal tersebut di atas berkaitan dengan tahap-tahap panjang pertama dari transisi sosialis di masyarakat pinggiran. Ini juga mengungkapkan ekspresi terhadap keragaman yang diperlukan dari jalan yang diambil. Selain itu, konsep tujuan akhir komunisme memperkuat pentingnya keanekaragaman nasional dari bangsa-bangsa proletar ini. Manifesto sudah merumuskan gagasan bahwa komunisme dibangun di atas keanekaragaman individu, kolektif, dan bangsa. Solidaritas tidak mengecualikan tetapi menyiratkan pengembangan bebas dari semua. Komunisme adalah antitesis kapitalisme, yang, terlepas dari pujiannya terhadap "individualisme," memberikan dalam kenyataannya, melalui persaingan, klon-klon dibentuk oleh dominasi modal.

Dalam hubungan ini saya akan mengutip apa yang baru-baru ini saya tulis di October 1917 Revolution:

Dukungan atau penolakan terhadap kedaulatan nasional menimbulkan kesalahpahaman yang parah selama isi kelas dari strategi dalam kerangka yang dioperasikannya tidak diidentifikasi. Blok sosial dominan dalam masyarakat kapitalis selalu menganggap kedaulatan nasional sebagai instrumen untuk mempromosikan kepentingan kelasnya, yaitu eksploitasi kapitalis terhadap pekerja rumahan dan sekaligus konsolidasi posisinya dalam sistem global. Saat ini, dalam konteks sistem liberal global yang didominasi oleh monopoli finansial Triad (AS, Eropa, Jepang), kedaulatan nasional adalah instrumen yang memungkinkan kelas penguasa untuk mempertahankan posisi kompetitif mereka dalam sistem. Pemerintah AS menawarkan contoh paling jelas dari praktik yang terus-menerus ini: kedaulatan dipahami sebagai perlindungan eksklusif modal monopoli AS dan untuk itu hukum nasional AS diberikan prioritas di atas hukum internasional. Itu juga merupakan praktik kekuatan imperialis Eropa di masa lalu dan itu terus menjadi praktik negara-negara Eropa utama di dalam Uni Eropa.[7]

Dengan mengingat hal itu, orang memahami mengapa wacana nasional dalam mangagungkan kebaikan-kebaikan kedaulatan, menyembunyikan kepentingan kelas dalam layanan yang dioperasikannya, selalu tidak dapat diterima oleh semua orang yang membela kelas buruh.

Namun kita seharusnya tidak menjadikan pertahanan kedaulatan itu menjadi modalitas nasionalisme borjuis. Pertahanan kedaulatan juga tidak kalah menentukan untuk perlindungan akan alternatif populer di jalan panjang menuju sosialisme. Itu bahkan merupakan kondisi yang tak terhindarkan untuk kemajuan ke arah tersebut. Alasannya adalah bahwa tatanan global (serta tatanan sub-global Eropa) tidak akan pernah berubah dari atas melalui keputusan kolektif kelas penguasa. Kemajuan dalam hal itu selalu merupakan hasil dari kemajuan perjuangan yang tidak merata dari satu negara ke negara lain. Transformasi sistem global (atau subsistem Uni Eropa) adalah produk dari perubahan yang beroperasi dalam kerangka kerja berbagai negara, yang, pada gilirannya, memodifikasi keseimbangan kekuatan internasional di antara mereka. Negara-bangsa tetap menjadi satu-satunya kerangka kerja untuk penyebaran perjuangan yang menentukan yang, pada akhirnya mengubah dunia.


Orang-orang di pinggiran sistem, yang secara alami berpolarisasi, memiliki pengalaman panjang yang positif, nasionalisme progresif, yang anti-imperialis, dan menolak tatanan global yang dipaksakan oleh pusat-pusat, dan karena itu berpotensi anti-kapitalis. Saya katakan hanya berpotensi karena nasionalisme ini juga dapat mengilhami ilusi tentang kemungkinan pembangunan tatanan kapitalis nasional yang mampu mengejar ketinggalan dengan kapitalisme nasional yang memerintah pusat-pusat. Dengan kata lain, nasionalisme di pinggiran hanya progresif dengan syarat bahwa ia tetap anti-imperialis, bertentangan dengan tatanan liberal global. Nasionalisme lain mana pun (yang dalam hal ini hanya fasad) yang menerima tatanan liberal global adalah instrumen kelas penguasa lokal yang bertujuan untuk berpartisipasi dalam eksploitasi rakyat mereka dan pada akhirnya dari mitra yang lebih lemah lainnya, yang karenanya beroperasi sebagai kekuatan sub-imperialis.

Kebingungan antara dua konsep-konsep antonimik tentang kedaulatan nasional ini, dan karenanya penolakan terhadap nasionalisme apa pun, memusnahkan kemungkinan untuk keluar dari tatanan liberal global. Sayangnya, kaum kiri — di Eropa dan di tempat lain —kerap jatuh menjadi sasaran kebingungan seperti itu.

Poin kedua berkaitan dengan segmentasi kelas pekerja, meskipun penyederhanaan masyarakat yang terkait dengan kemajuan kapitalisme, muncul dalam Manifesto: “Zaman kita, zaman borjuis, memiliki, bagaimanapun, sifat khas ini; itu telah menyederhanakan antagonisme kelas. Masyarakat secara keseluruhan semakin terpecah menjadi dua kubu besar yang bermusuhan, menjadi dua kelas besar yang berhadapan langsung satu sama lain: Borjuis dan Proletariat. ”[8]

Gerakan ganda ini—generalisasi posisi proletar dan sekaligus segmentasi dunia pekerja—saat ini jauh lebih terlihat daripada pada tahun 1848, ketika hampir tidak tampak.

Kita telah menyaksikan selama abad kedua puluh yang panjang, sampai hari-hari kita, generalisasi tanpa preseden dari kondisi proletar. Saat ini, di pusat-pusat kapitalis, hampir totalitas populasi diubah menjadi status karyawan yang menjual tenaga kerjanya. Dan, di pinggiran, para petani diintegrasikan lebih dari sebelumnya ke jaring-jaring komersial yang telah memusnahkan status mereka sebagai produsen independen, menjadikan mereka mendominasi subkontraktor, yang pada kenyataannya malah mengubah mereka menjadi status penjual tenaga kerja mereka.

Gerakan ini dikaitkan dengan proses kemiskinan: individu "menjadi miskin, dan kemiskinan berkembang lebih cepat daripada populasi dan kekayaan."[9] Tesis kemiskinan ini, diambil kembali dan diperkuat di Capital, yang mana adalah objek kritik sarkastik oleh para ekonom vulgar. Dan tetap saja, pada level sistem kapitalis dunia — satu-satunya level yang memberikan cakupan penuh pada analisis realitas — pemiskinan ini jauh lebih terlihat dan nyata daripada yang dibayangkan Marx. Namun, bersamaan dengan ini, kekuatan-kekuatan kapitalis telah berhasil melemahkan bahaya yang diwakili oleh proletarisasi yang digeneralisasi dengan menerapkan strategi-strategi sistematis yang ditujukan untuk mensegmentasi kelas-kelas pekerja di semua tingkatan, secara nasional dan internasional.

//Bersambung



Cataran-catatan
  1. Marx dan Engels, The Communist Manifesto, 37.
  2. Marx dan Engels, The Communist Manifesto, 18-19.
  3. Marx dan Engels, The Communist Manifesto, 25-26.
  4. Marx dan Engels, The Communist Manifesto, 25.
  5. Marx dan Engels, The Communist Manifesto, 35-36.
  6. Marx dan Engels, The Communist Manifesto, 22.
  7. Amin, Oktober 1917, 83–85. Saya telah membahas persoalan ini khusus untuk Eropa di bab empat buku saya The Implosion of Contemporary Capitalism (New York: Monthly Review Press, 2013).
  8. Marx dan Engels, The Communist Manifesto, 3.
  9. Marx dan Engels, The Communist Manifesto, 23.


Esai ini pertama kali diterbitkan dalam jurnal Sociološki Pregled / Sociological Review 52 (2), pp. 430-452, doi:10.5937/socpreg52-16323 oleh Serbian Sociological Association (Beograd, Serbia) (lihat: https://drive.google.com/file/d/1msN83o5n8hPrHewbH_PQBJeBHbJMhKxo/view). Dan, sebelum Samir Amin meninggal, ia mengirim esai ini ke Monthly Review (lihat: https://monthlyreview.org/2018/10/01/the-communist-manifesto-170-years-later/). Dengan ijin dari sumber tersebut (melalui Profesor Uroš Šuvaković, PhD — Pemimpin Redaksi Sociološki pregled / Sociological Review) tulisan ini dipublikasi di sini untuk materi pembelajaran.

Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia tidak diotorisasi oleh penulis esai.
Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Redaksi Alienasi pada Januari 2019



  Apabila anda merasa situs ini bermanfaat dan ingin mendukung kami supaya bisa terus menyajikan konten berkualitas secara gratis. Maka anda dapat berkontribusi untuk keberlangsungan situs ini, di antaranya dengan memberikan donasi melalui halaman berikut:

Kirim Donasi


Posting Komentar

0 Komentar