Samir Amin: Manifesto Partai Komunis, 170 Tahun Kemudian // Bagian 6 dan 7

Sumber: Marx and Engels in the NRZ’s Cologne printing house at the time of the 1848-1849 revolution. Painting by E. Capiro.

6

Bagian ketiga dari Manifesto, yang berjudul "Literatur Sosialis dan Komunis," bisa kelihatan bagi pembaca kontemporer bahwa itu benar-benar milik masa lalu. Di sini Marx dan Engels menawarkan kepada kita komentar-komentar mengenai subyek-subyek sejarah dan produksi intelektual mereka yang menjadi milik zaman mereka. Sudah lama terlupakan, persoalan-persoalan ini tampaknya menjadi perhatian para arsiparis secara eksklusif.

Ekonom Mesir Samir Amin berbicara ketika krisis Eropa pada Festival Subversif di Zagreb (9 Juli 2012).
 
Samir Amin (1931-2018) adalah direktur Forum Dunia Ketiga di Dakar, Senegal, dan penulis buku, yang terbaru adalah Imperialisme Modern, Kapitalisme Monopoli Keuangan, dan Hukum Nilai Marx (Monthly Review Press, 2018). // Sumber gambar: monthlyreview.org
Namun, Saya dikejutkan oleh analogi persisten dengan yang lebih baru, bahkan kontemporer, dengan gerakan dan wacana. Marx mengecam kaum reformis dari semua bentuk, yang tidak memahami logika penyebaran kapitalis. Apakah ini hilang dari tempat kejadian? Marx mengecam kebohongan orang-orang yang mengutuk kesalahan kapitalisme, namun demikian, "dalam praktik politik... mereka bergabung dalam segala tindakan kekerasan terhadap kelas pekerja."[1] Apakah kaum fasis abad ke-20 dan hari ini, atau yang diduga gerakan-gerakan agama (Ikhwanul Muslimin, para fanatik Hindu dan Budha), ada bedanya?

Kritik Marx terhadap berbagai tandingan Marxisme dan ideologi mereka, serta upayanya untuk mengidentifikasi milieus [milieus: linkungan; suasana—Penj.] sosial yang menjadi juru bicaranya, tidak menyiratkan bahwa bagi Marx, dan bagi kita, gerakan anti-kapitalis yang otentik tidak harus selalu terdiversifikasi di sumber-sumber inspirasi. Saya mengarahkan pembaca ke beberapa tulisan saya baru-baru ini tentang masalah ini, yang disusun dari perspektif rekonstruksi Internasional baru sebagai syarat untuk keberhasilan perjuangan rakyat dan visi masa depan.[2]


7

Saya akan menyimpulkan dengan beberapa kata yang berdasarkan pembacaan saya tentang Manifesto.

Manifesto adalah nyanyian pujian untuk kemuliaan modernitas kapitalis, dari dinamisme yang diilhami, yang tidak memiliki paralel selama sejarah panjang dari peradaban. Tetapi pada saat yang sama penyair lagu dari sistem ini, yang gerakannya sendiri tidak lebih dari satu generasi dari kekacauan, sebagaimana Marx selalu mengerti dan mengingatkan kita. Rasionalitas historis kapitalisme tidak melampaui produksi dalam waktu singkat dari semua syarat-syarat —material, politik, ideologis, dan moral—yang akan mengarah pada supersesi.

Saya selalu berbagi sudut pandang itu, yang saya yakini sebagai Marx, dari Manifesto hingga zaman pertama Internasional Kedua yang dijalani oleh Engels. Analisis yang saya usulkan berkenaan dengan proses pemasakan yang panjang dari kapitalisme — sepuluh abad — dan kontribusi berbagai wilayah di dunia terhadap pematangan ini (Cina, Timur Islam, kota-kota Italia, dan akhirnya Eropa Atlantik), puncaknya yang pendek (abad kesembilan belas), dan akhirnya kemunduran panjang yang memanifestasikan dirinya melalui dua krisis sistemik yang panjang (yang pertama dari tahun 1890 hingga 1945, yang kedua dari tahun 1975 hingga zaman kita). Analisis-analisis ini bertujuan untuk memperdalam apa yang dalam Marx hanya sebuah intuisi.[3] Visi tempat kapitalisme dalam sejarah ini ditinggalkan oleh arus reformis dalam Marxisme Internasional Kedua dan kemudian berkembang di luar Marxisme. Ia digantikan oleh sebuah visi yang dengannya kapitalisme akan menyelesaikan tugasnya hanya ketika ia akan berhasil menyeragamkan planet ini sesuai dengan model pusat-pusat yang dikembangkannya. Melawan visi gigih dari perkembangan global kapitalisme ini, yang sama sekali tidak realistis karena sifatnya adalah polarisasi, kami mengedepankan visi transformasi dunia melalui proses-proses revolusioner —memutuskan dengan tunduk pada perubahan mematikan dari dekadensi peradaban.



Cataran-catatan
  1. Marx dan Engels, The Communist Manifesto, 44.
  2. Lihat "Unité et Diversité des Mouvements Populaires au Socialisme" dalam buku Mesir, Nassérisme et Communisme; dan "L’Indispensable Reconstruction de l’Internationale des Travailleurs et des Peuples," di blog Investig'Action, http://investigaction.net/fr.
  3. Lihat Samir Amin, The Implosion of Contemporary Capitalism.


Esai ini pertama kali diterbitkan dalam jurnal Sociološki Pregled / Sociological Review 52 (2), pp. 430-452, doi:10.5937/socpreg52-16323 oleh Serbian Sociological Association (Beograd, Serbia) (lihat: https://drive.google.com/file/d/1msN83o5n8hPrHewbH_PQBJeBHbJMhKxo/view). Dan, sebelum Samir Amin meninggal, ia mengirim esai ini ke Monthly Review (lihat: https://monthlyreview.org/2018/10/01/the-communist-manifesto-170-years-later/). Dengan ijin dari sumber tersebut (melalui Profesor Uroš Šuvaković, PhD — Pemimpin Redaksi Sociološki pregled / Sociological Review) tulisan ini dipublikasi di sini untuk materi pembelajaran.

Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia tidak diotorisasi oleh penulis esai.
Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Redaksi Alienasi pada Januari 2019



  Apabila anda merasa situs ini bermanfaat dan ingin mendukung kami supaya bisa terus menyajikan konten berkualitas secara gratis. Maka anda dapat berkontribusi untuk keberlangsungan situs ini, di antaranya dengan memberikan donasi melalui halaman berikut:

Kirim Donasi


Posting Komentar

0 Komentar