Membaca May Day Hari Ini

Gambar: versobooks.com

Perjuangan dalam pembebasan Kelas Buruh, kembali tiba pada momentum 1 Mei. Momen yang secara internasional diamini sebagai hari lahirnya kelas buruh. Hari dimana kelas buruh seharusnya mengawali kehidupan dengan terbebas dari penindasan, merdeka seterusnya, serta lepas dari cengkeraman kelas kapitalis yang mengengkang setiap jengkal bagian tubuhnya. Tetapi, sebagaimana kita melihat masa-masa yang sebelumnya. Nampaknya kelas buruh terlempar terlalu jauh dari posisinya. Kita melihat degenerasi gerakan buruh khususnya di Indonesia. Peringatan 1 Mei masih diisi dengan pembahasan yang berputar-putar pada persoalan ekonomi para buruh. Kita melihat situasi perburuhan saat ini, di bawah modus produksi kapitalisme, meniscayakan perjuangan kaum pekerja yang hanya berkutat pada permasalahan upah rendah, ancaman PHK, serta bayang-bayang terlempar menjadi tenaga kerja cadangan. Lebih jauh lagi, sebagaimana pembacaan awal oleh kawan Coen Husain Pontoh pada artikelnya yang ditulis 11 tahun yang lalu dan sepertinya sekarang, kita masih belum beranjak dari persoalan tersebut.

Dalam agenda besar kita yaitu pembebasan kelas buruh. Tuntutan-tuntutan program minimum merupakan salah satu langkah yang, meskipun bersifat reformis, tetapi harus tetap diperjuangkan. Akan tetapi, dalam beberapa tahun kita melihat progres perjuangan kelas buruh, justru membuat kelas yang dianggap paling sadar dan paling revolusioner oleh Marx, mundur jauh kebelakang dan terjebak pada masalah-masalah sekunder. Lebih jauh lagi, kita melihat agenda May Day hanya sebagai perayaan dan ritual untuk mengenang perjuangan kelas buruh semata. Oleh sebab itu dalam momen May Day, kita perlu melihat sejarah dan membaca keadaan –bukan sebagai diskursus dan safari intelektual samata, melainkan untuk menentukan prognosis kedepannya. Sehingga tuntutan-tuntutan dan langkah yang diambil, bukanlah reaksi yang sifatnya anvonturisme pun pedantik.


1791 – 1866 – 1889

Bila kita ingin melihat dan mengukur sejauh mana signifikansi May Day dalam agenda utama pembebasan kelas buruh, maka kita harus melihat dari awal gerakan kelas buruh dalam memperjuangkan kepentingan kelas beserta karakternya. Sehingga, berbicara tentang sejarah May Day, tentu kita harus melihat kembali Revolusi Prancis 1789. Karena dari situlah kita akan melihat dengan jelas, perkembangan kapitalisme secara signifikan dan vulgar, merangkak menaiki bangkai politik kaum borjuasi . Memang, Revolusi 1789 tersebut merupakan revolusi nasional yang, mencapai kemenangan dengan ekspresi klasiknya di bawah pimpinan kelas borjuis.

Pada periode Prancis itulah, kita melihat kelas borjuis sebagaimana digambarkan oleh Trotsky, sebagai kelas yang tercerahkan, yang aktif, yang belum sadar akan kontradiksi-kontradiksi di dalam posisinya, yang oleh sejarah dibebankan tugas kepemimpinan perjuangan demi sebuah orde baru.
Pada tahun-tahun berikutnya, di bawah kepemimpinan kelas borjuis, kita mulai melihat kontradiksi-kontradiksi yang terjadi. Kelas proletar terancam dan menemui kondisinya berada di bawah tumpukan permasalahan dari sistem kapitalisme. Anak kandung dari sistem kapitalisme ini mulai menyadari posisinya di dalam sejarah. Perkembangan kapitalisme yang menuntut untuk pendisiplinan kerja, serta pengintensifan jam kerja yang tidak didukung dengan upah yang layak, memaksanya untuk melahirkan perlawanan dari kalangan buruh dan barisan kelas proletar.

Gambar: pinterest.com
Sistem kapitalisme yang memproduksi banyak kontradiksi di dalamnya, mejadi salah satu faktor utama yang merevolusionerkan relasi-relasi sosial yang ada. Akibatnya pada tahun 1791 di Amerika Serikat (AS), para tukang kayu memberikan respon dengan melakukan pemogokan menuntut pengurangan jam kerja dari yang sebelumnya 18 sampai 20 jam kerja per hari, menjadi 10 jam kerja per hari. Ini menjadi salah satu titik yang mengawali sejarah perjuangan buruh dalam konteks May Day. Selanjutnya, sebagaimana kita membaca dalam banyak sejarah, perjuangan tuntutan tersebut berlanjut. Di Philadelpia, AS, pada tahun 1835 para buruh kembali melakukan pemogokan umum di bawah pimpinan buruh tambang batubara Irlandia. Aksi menuntut pengurangan jam kerja tersebut, disambut oleh serangkaian aksi di belahan bumi lainnya. Hal itu, menjadi gambaran bahwa mulai munculnya kesadaran internasional dikalangan para buruh. Kesadaran untuk bersatu menyuarakan tuntutan yang sama dalam agenda perjuangan kelas. Akibatnya, tercatat pada tahun 1830 sampai 1860 terjadi pengurangan jam kerja dari 12 jam menjadi 11 jam. Selanjutnya, Pada 1866 berlangsung Kongres Umum Pekerja di Baltimore, AS, sebagaimana dalam banyak tulisan yang mengutip catatan Marx dalam kongres tersebut, agenda pembebasan kelas buruh, berarti secara parsial juga harus membebaskan suatu negeri dari perbudakan kapitalis, yaitu menjadikan tuntutan 8 jam kerja per hari menjadi hari kerja normal di seluruh pabrik di AS. Sehingga pasca kongres, agenda utamanya adalah melakukan pengorganisiran para buruh dalam merealisasikan tuntutan 8 jam kerja.

Aksi-aksi kelas buruh yang direspon oleh penguasa dan pemilik alat produksi dengan aksi represif dan penyerangan, tidak membuat sedikitpun para buruh yang berdiri sebagai barisan kelas proletar itu gentar. Akibatnya, situasi yang terus berlangsung tersebut dianggap sebagai pertanda terhadap perkembangan gerakan buruh di AS. Sehingga sebagaimana tercatat di banyak tulisan, pada tahun 1889, lebih dari 400 delegasi bertemu di Paris, Prancis untuk menghadiri Kongres Internasional Kedua yang pertama, bertepatan dengan peringatan 100 tahun Revolusi Prancis 1789. Dari kongres tersebutlah, salah satu peserta kongres Raymon Lavigne mengajukan proposal untuk mengadakan demonstrasi pada 1 Mei 1890 sebagai penghormatan dan peringatan pada peristiwa di Hay Market (reaksi penyerangan kelas kapitalis terhadap aksi kelas buruh yang mengakibatkan jatuhnya korban). Proposal tersebut disambut juga oleh Samuel Gompers yang dulu menjadi pemimpin Knight of Labor dalam menggerakan para buruh dengan prinsip “kesukarelaan” buruh (bekerja dengan nyaman). Selain itu, dalam kongres tersebut menyatakan bahwa 1 Mei sebagai hari buruh internasional dan mengeluarkan resolusi yang berisi:

Sebuah aksi internasional besar harus diorganisir pada satu hari tertentu di mana semua negara dan kota-kota pada waktu yang bersamaan, pada satu hari yang disepakati bersama, semua buruh menuntut agar pemerintah secara legal mengurangi jam kerja menjadi 8 jam per hari, dan melaksanakan semua hasil Kongres Buruh Internasional Prancis.

Pasca itu, hasil dari kongres tersebut disambut oleh ribuan buruh diberbagai belahan bumi. Tujuannya satu, yaitu menjadikan tuntutan 8 jam kerja menjadi legal.

Berdasarkan pengalaman sejarah gerakan buruh tersebut, kita bisa melihat bahwa pembebasan dari perbudakan kapitalis dimulai dengan perjuangan pembebasan para buruh atas rantai yang membelenggunya. Sehingga tugas selanjutnya yaitu menyadarkan kaum buruh untuk menghancurkan sistem yang memproduksi rantai perbudakan tersebut. Di sinilah formulasi tugas-tugas pokok dan tuntutan yang bersifat revolusioner menjadi penting.


Sekilas Keunikan Perkembangan Perburuhan di Indonesia

Pasca revolusi nasional 1945, rakyat Indonesia praktis dihadapkan pada masalah-masalah pokok yang menyangkut masa depan rakyat Indonesia secara luas. Pada hari-hari pasca Revolusi 1945, lebih jauh kita melihat, tugas-tugas pokok yang harus diselesaikan pasca revolusi menjadi perdebatan di kalangan pemimpin bangsa ini. Keputusan di sinilah yang akan menentukan kondisi perburuhan di Indonesia, berikut arah perjuangan, beserta karakternya. Jika kita membandingkan perkembangan situasi perburuhan yang akan menciptakan kesadaran di kalangan buruh dengan perkembangan situasi perburuhan di negeri-negeri lainnya, kita bisa mengatakan bahwa karakter utama dalam perkembangan situasi perburuhan di Indonesia adalah keterlambatannya dan kelambanannya secara komparatif.

Berdasarkan dokumen Konferensi Strategi dan Taktik SEDAR 2018, kita melihat Situasi Peburuhan saat ini, tidak terlepas dari akibat adanya kudeta 1965, khususnya terhadap gerakan kelas buruh. Hal tersebutlah yang menjadi salah satu penyebab keterlambatannya. Akan tetapi tulisan ini tidak akan membahas lebih jauh mengenai penyebab-penyebab dasarnya. Meskipun demikian, tetap tidak bisa terelakan bahwa situasi perburuhan di Indonesia berjalan dan terbangun dari pondasi ekonomi-politiknya yang lebih miskin dan primitif.

Lebih jauh lagi, gerakan buruh di Indonesia yang disambut dengan berdirinya banyak serikat buruh, belum bisa melepaskan bekas cengkeraman karakter orde baru yang, pada waktu itu hanya memperkenankan para buruh bernaung di bawah organisasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI), yang justru menjadi rantai belenggu bagi para buruh. Sehingga – meskipun buruh sekarang bebas berserikat – pengaruhnya terhadap gerakan buruh yang ada sekarang, merupakan watak dasarnya. Tidak mengherankan jika metode-metode yang digunakan dalam pengorganisiran cenderung bersifat oportunistik. Hal tersebut tentunya menverifikasi perdebatan klasik yang sifatnya fundamental, bahwa manifestasi dari gerakan buruh bukanlah dalam bentuk Serikat, tetapi dalam bentuk Partai.

Dari sini, bukan bermaksud untuk memberikan kritik reaksioner terhadap serikat buruh yang ada. Akan tetapi, sebagaimana kita ketahui bahwa tuntutan-tuntutan serikat hanyalah mungkin sampai tingkatan reformis. Dengan begitu, gelombang kontradiksi yang menyudutkan para buruh, tidak akan selesai karena tuntutan-tuntutan dari buruh itu sendiri tidak akan pernah sampai (menyasar) titik pokok.

Lebih lanjtu, situasi yang paling penting dari kondisi perburuhan di Indonesia, yang pengaruhnya pada perumusan formulasi tuntutan-tuntutan tahunannya dalam momen May Day, adalah keterisolasian para buruh. Sehingga buruh dengan karakternya, kesulitan dan tidak mampu mengawal tuntutan-tuntutan tersebut.

Kita melihat para buruh tidak memiliki pengetahuan yang ketat tentang ekonomi-politik. Selain itu, keterisolasiannya menjadikan para buruh tidak memiliki kemandirian politik. Disisi lain, membaca sistuasi perburuhan saat ini berarti membaca juga kondisi para mahasiswa yang terepresentasikan sebagai intelektual [sedikit penjelasan yang saya ambil ketika merujuk dan menggunakan istilah debatable ini, bisa di baca di sini]. Mereka tidak memiliki kekuatan kelas, bahkan cenderung jauh dengan basis. Di waktu lain, para intelektual ini mengekori saudara tuanya dengan menjadi tokoh yang mengorganisir dengan sifatnya yang oportunis. Mengutip apa yang dikatakan Bronstein, “Mereka membingungkan diri mereka sendiri dengan kontradiksi-kontradiksi yang tidak bisa diselesaikan, dan membawa kebingungan ini kemana saja mereka pergi”.


Mempertajam Klas Buruh

Sejarah seluruh umat manusia adalah sejarah perjuangan Klas

Demikian kutipan salah satu kalimat dalam draft Manifesto Partai Komunis (Manifesto) yang diterbitkan pertama kali di London, 171 tahun yang lalu. Sehingga, untuk menjawab rumusan masalah apa yang harus dilakukan dan siapa yang menjadi subyek, hanya bisa dilakukan dengan mempertegas posisi kelas buruh.

Pada bagian sebelumnya, kita melihat sekilas situasi perburuhan di Indonesia. Lebih dalam, kita melihat bahwa era orde baru dengan kebijakan politiknya yang merupakan reaksi atas ketakutan terhadap kelompok revolusioner, sampai sekarang belum terbukti! Dengan demikian, maka hal tersebut mengamini bahwa penggerak ideologis dari May Day, bukanlah ideologi Komunisme. Hal tersebut dikarenakan, kondisi perburuhan kita yang masih jauh untuk mencapai suatu “Kesadaran Kelas”. Sehingga tidak heran jika di kelompok yang merepresentasikan kalangan intelektual, perdebatan tentang Kelas Buruh, dan Buruh masih belum terselesaikan.

Untuk itu, kita perlu membaca ulang materi tersebut dan mendiskusikannya untuk mencapai kesepakatan bersama. Dan di sini, saya akan mengambil sedikit penjelasan Marx. Di dalam Manifesto Partai Komunis (Manifesto), ia menyinggung tentang buruh yang dapat kita kembangkan pembahasannya untuk mengetahui siapa "kelas buruh" itu. Pada Manifesto, Marx menggunakan terma Proletar untuk menjelaskan "kondisi" buruh;

[...] seiring dengan itu berkembang pulalah proletariat, klas buruh modern, yang hanya hidup selama mereka mendapat pekerjaan, dan hanya mendapat pekerjaan selama kerja mereka memperbesar kapital.
∗∗∗

Dalam perkembangannya, kelas buruh tidak hanya didefenisikan sebagai kelompok yang menghasilkan komoditas dan nilai lebihnya dihisap oleh pemodal. Tetapi lebih ketat secara ideologis, kelas buruh merupakan seluruh elemen masyarakat yang berdiri di barisan revolusioner untuk menentang sistem kapitalisme serta segala bentuk penindasan, dan penjajahan. Dengan demikian, perdebatan definisi antara kelas buruh dan buruh atau antara proletariat dan kelas proletar menjadi lebih tegas dan spesifik berdasarkan perspektif ideologi.

Dari sini, sekali lagi, perlu adanya identifikasi kelas di antara masyarakat. Identifikasi kelas, yang selanjutnya akan menjadi subjek sasaran pendidikan bersama dan (secara bersama) berdiri di barisan kelas buruh. Inilah salah satu tanggung jawab dari setiap kelompok yang "sadar" akan tugas dan posisinya di dalam kelas.

Dan, pada kondisi objektif saat ini, kita melihat kalangan mahasiswa dan kelompok-kelompok intelektual yang dianggap sebagai representasi dari faksi intelektual yang "diharapkan" sadar terhadap tugas dan posisinya, ternyata belum menemuinya. Sehingga tidak heran jika mereka belum mampu untuk berperan dalam tugas tersebut secara signifikan. Hal itu tentunya sangat dipengaruhi oleh sistem pendidikan yang ada sekarang. Sehingga alih-alih kelompok intelektual tersebut sadar terhadap posisinya, malah membuat kelompok tersebut jauh dari kata mengenal tugas dan tanggung jawabnya.

Akibatnya disini, dikarenakan pemahaman yang salah kaprah bahkan sesat tentang kelas buruh, berdampak pada gerakan-gerakan buruh yang ada. Sehingga kita tidak melihat garis kemenangan bagi kelas buruh, tapi malah melihat kontradiksi-kontradiksi dari gerakan itu sendiri berdasarkan kondisi objektif materialnya.


Menyambut Serikat Buruh dengan Partai Buruh

Pada bagian sebelumnya, kita sempat menyinggung tentang manifestasi gerakan buruh. Apakah melalui serikat buruh atau melalui partai buruh. Dari sini, jika kita melihat sejarah dan kondisi objektif yang ada, maka tuntutan-tuntutan untuk pembebasan kelas buruh dari perbudakan, hanya akan sampai ditingkatan reformis. Kenapa demikian? Tentunya kita perlu memahami bersama, bahwa untuk dapat merealisasikan tuntutan-tuntutan (program minimum), tidak dapat hanya melalui aksi-aksi demontrasi momentual yang cenderung ritualistik serta pendampingan oleh elemen profesional dan sukarelawan diwilayah parlemen.

Selain itu, kita melihat ada 2 sifat umum dari tuntutan yang, secara material berhubungan dengan subjek. Pertama, kita melihat proposal tuntutan yang berisi poin-poin yang melampaui kondisi objektif. Hal tersebut tentunya menggambarkan karakter subjeknya yang berlandaskan heroisme dan romantisme. Kedua, kita melihat proposal tuntutan yang secara parsial berkutat diwilayah sekunder bahkan tersier. Ibarat gerakan pembebasan budak, ia hanya menuntut untuk pelonggaran rantai yang membelenggu budak tersebut. Jangankan untuk bisa sampai pada gerakan penggulingan sang tuan budak yang memproduksi rantai perbudakan – untuk penghancuran rantai perbudakan itu sendiri, ia tidak akan pernah sampai. Hal tersebut tentunya dipengaruhi oleh situasi perburuhan saat ini yang menjadi cerminan karakter gerakan buruh.

Oleh sebab itu, diperlukan lokomotif baru dan perubahan arah rel gerakan buruh. Sehingga pada bagian ini, kita perlu membahas urgensitas pembentukan Partai Buruh, bukan untuk serangan terhadap serikat buruh yang ada, tetapi sebagai upaya yang, salah satunya juga untuk merevolusionerkan serikat-serikat buruh.

Akan tetapi, salah satu kekhawatiran yang selanjutnya muncul adalah tumpang tindihnya dalam menentukan tugas dan fungsinya antara serikat buruh dan partai buruh. Hal tersebut merupakan kekhawatiran umum yang muncul dikalangan yang tidak mengetahui tentang tugas dan relasi partai dengan kelas buruh. Lebih lanjut, dan ini tergolong dalam perdebatan klasik tentang strategi, yakni adanya ketidaksepakatan akan adanya Partai Buruh pun Revolusi Sosialis yang kemungkinan tiba pada kediktatoran proletariat.

Dengan demikian, maka agenda mendesak kita adalah mendiskusikan persoalan ini. Mencari jalan keluarnya, agar tidak hanya berkutat di "itu-itu" saja. Sudah saatnya bagi kita untuk bertemu, memperdebatkan pandangan, persepsi, pendapat dan pemahaman untuk mencari kebenaran yang sejati yang, selanjutnya menjadi landasan perjuangan bersama. Tanpa hal itu, sulit bagi saya membayangkan adanya Revolusi. Jangankan 100 tahun, sampai bumi kiamat karena membusuknya kapitalisme pun, ia (revolusi) masih sangat diragukan kedatangannya.
∗∗∗


Kamerad, kita mencintai matahari yang memberi kita cahaya,
Tetapi jika orang kaya (pemodal) dan agresor (penguasa) mencoba memonopoli matahari,
Kita harus mengatakan:
“Biarkan matahari padam, biarkan kegelapan memerintah, malam abadi… [!]”
– LT