Natal dan Kritik atas Kritiknya


Gambar: diss.ltd

Sabtu malam di sebuah wilayah terpencil di negara berkembang, seorang bocah laki-laki berusia 9 tahun sedang duduk di teras rumahnya. Ia mengamati beberapa cicak yang ada di atasnya. Cukup lama ia di sana, entah apa saja yang dilakukannya kemudian. Mungkin saja sesuatu yang tidak penting bagi orang dewasa, seperti berkhayal sedang menerbangkan pesawat tempur atau menjadi seorang jagoan yang tidak bisa dikalahkan musuh-musuhnya.

Di tengah kesibukan bocah tersebut dengan imajinasinya, tiba-tiba sebuah mobil datang dan berhenti tepat di depan rumah tersebut. Mobil mewah dengan logo biru-putih tersebut mencuri perhatian Sang Bocah. Ia pun langsung berdiri menghampiri mobil tersebut. Tidak lama terbukalah pintu mobil dan keluarlah seorang laki-laki berkumis tebal dengan rambut keriting yang, di bagian atasnya terdapat sedikit uban sehingga terlihat seperti “bunga jambu-air”. Laki-laki berkumis tersebut adalah ayah dari Sang Bocah. Sang Ayah keluar dari mobil dengan membawa sebuah kresek hitam dan memberikannya pada Sang Bocah sambil berkata “ini kue, pemberian Kak Laura. Selamat Natal dan Salam darinya”. Sang Bocah nampaknya tidak terlalu memperdulikan apa yang dikatakan ayahnya, ia langsung menyambar kue tersebut dan membawanya masuk ke dalam rumah.

Saya bisa sangat yakin terhadap apa yang dirasakan bocah tersebut waktu itu, perasaan senang bercampur imajinasi akan Natal, dengan salju di mana-mana. Sebuah cerobong asap dan kaos kaki menempel di dekat perapian, sebuah pohon Natal lengkap dengan bintang di ujung atasnya dan kotak-kotak hadiah disekitarnya, persis seperti suasana Natal ala Eropa yang ditampilkan di film-film saat itu telah memenuhi imajinasi Sang Bocah. Perlu diketahui bahwa latar belakang keluarga bocah tersebut adalah pemeluk agama Islam yang taat. Bahkan Sang Bocah setiap sore pergi ke pondok pesantren untuk mengaji sampai lepas waktu sholat Isya’. Sementara itu, Kak Laura adalah seorang pemeluk agama Katolik. Ia merupakan anak dari adiknya nenek dari ayah Sang Bocah, atau dalam kategori sosial disebut “Bibi”. Adik dari nenek Sang Bocah memang seorang pemeluk agama Katolik yang taat, meskipun sebelumnya juga beragama Islam. Ia memeluk agama Katolik setelah menikah dengan seorang laki-laki dari Sumatra. Sehingga seluruh keluarganya –termasuk Kak Laura –juga memeluk agama Katolik.

Sementara itu, Sang Ayah merupakan seorang sopir-barang (distributor-lapangan) yang bekerja pada kakak perempuannya sendiri. Meskipun ia bekerja pada saudarinya, namun tidak ada perlakuan istimewa terhadapnya. Malah sebaliknya, ia harus bekerja lebih keras dibandingkan dengan rekan kerjanya yang lain, ditambah dengan relasi semi-feodal antara dirinya dengan saudarinya.

Kapitalisme Membajak Perayaan Natal

Meskipun secara khusus merujuk pada agama Kristen, namun Natal mempunyai arti tersendiri bagi para buruh, baik yang memeluk agama Kristen maupun bukan. Sang Ayah tersebut misalkan, ketika Natal tiba, ia mendapatkan jatah libur 3 hari dari aktivitas kerjanya yang brutal tersebut. Sehingga ia dapat pulang dan mengajak keluarganya jalan-jalan. Momen-momen seperti itu selalu dinantikan oleh Sang Bocah, yang mana ia pergi bersama keluarga untuk rekreasi dengan menaiki mobil milik kakak dari Sang Ayah, atau "Bude" jika dilihat relasi keluarganya dari Sang Bocah berdasarkan kategori sosial. Iya! Mobil mewah dengan logo biru-putih tersebut bukanlah mobil milik Sang Ayah. Keluarga tersebut tidak cukup kaya bahkan untuk membeli motor sekalipun. Di hari-hari biasa, Sang Ayah hanya akan mengenderai mobil box (mobil muatan barang). Hanya ketika libur hari besar saja, terkadang Sang Ayah membawa mobil mewah milik kakaknya, itu pun karena dipaksa Sang Kakak karena Sang Ayah sendiri sebenarnya takut jika harus membawa mobil mewah. Khawatir dengan keamanan mobil, bagaimana jika "baret", bagaimana jika terjadi musibah di jalan dan seterusnya.

Lalu kemana mereka biasa merayakan hari libur? Secara sederhana mereka –beserta para keluarga buruh lainnya –mengunjungi Alun-alun Kota atau ke Pasar Tradisional untuk membeli bahan makanan yang lebih spesial dari hari-hari biasa, misalnya daging sapi atau burung puyuh dsj. Memang, ketika Natal tiba, kita dapat melihat kenaikan tingkat konsumerisme barang menjadi berkali-kali lipat sebagai sebuah hal yang wajar. Bahkan sebenarnya lebih parah ketika menjelang hari raya Idul Fitri –yang merupakan hari besar dalam agama Islam yang merupakan agama dengan pemeluk terbanyak di negara berkembang tersebut. Namun, di sini kita tidak sedang membandingkan hari-hari besar agama manakah yang lebih tinggi dampaknya terhadap pembelian barang-barang di pasar. Akan tetapi kita mengetahui bersama, bahwa semua hari-hari besar agama-agama yang ada (hari Natal, hari raya Idul Fitri, tahun baru Imlek, dll.), berdampak pada meningkatnya tingkat konsumerisme, terlebih bagi yang merayakannya. Dari sinilah kita dapat membaca berbagai kritik terhadap hari-hari besar agama-agama tersebut. Yang menjadi menarik adalah, kritik yang paling tepat –lagi dan lagi –hanya dapat dilakukan oleh seorang Marxis dengan pisau analisisnya yang tajam. Berkaitan dengan perayaan Natal saja, kita dapat dengan mudah menemukan banyak kritik terhadapnya. Akan tetapi “sungguh-sangat-amat” sial bagi orang yang hidup di negara –yang mayoritas rakyatnya masih “terbelakang” –yang, memiliki sejarah kelam dengan Marxisme atau setidaknya “revisionis-Marxisme”. Sehingga apapun yang berkaitan dengan Marxisme akan dicap sebagai “setan” yang harus ditolak lebih dulu dan disingkirkan dari hadapannya. Kritinya terhadap Natal misalnya, akan lebih dulu dimuntahkan pemahaman bahwa “Marxisme itu atheis dan anti agama”, sehingga dipahami bahwa kritik yang dilakukan seorang Marxis merupakan bentuk penolakan terhadap agama. Selanjutnya, setelah mereka (kaum reaksioner) memuntahkan hal tersebut, mereka akan memakan muntahnya kembali dan akan memuntahkannya, lagi, pada hal lain jika datang dari, atau berkaitan dengan Marxisme. Hal tersebut membuat kritik terhadap Natal misalnya, yang sebenarnya ingin menyampaikan bobroknya moda produksi kapitalisme, karena moral kapital–yang sebenarnya merupakan kegagalan pemahaman dengan mengatakan bahwa kapital memiliki moral –telah merusak moral dan nilai-nilai agama, gagal tersampaikan.

Misalnya saja kritik terhadap budaya pada momen perayaan Natal[1][2][3], yang mana seseorang akan memberikan hadiah “istimewa” bagi keluarga atau seseorang lain. Budaya pemberian hadiah dengan sifat “istimewa” tersebut, membuat banyak orang harus membeli barang-barang yang, harganya relatif mahal. Sementara itu, moral yang gagal tersampaikan adalah bahwa pada awalnya, sekitar pertengahan abad 19, pemberian hadiah “istimewa” dilakukan dengan memberikan hadiah berupa barang “kerajinan tangan” (handmade) yang dibuat dengan sepenuh hati oleh orang yang akan memberikannya.

Gambar: integralworld.net

Di sisi lain, industri-industri milik kapitalis memanfaatkan Natal –dan parayaan hari besar lainnya–dengan berbagai tawaran menarik dengan tujuan meningkatkan penjualannya. Bahkan salah satu industri yang menghisap nilai-lebih dari jutaan karyawannya, dengan berani mengatakan “It's not christmas until have seen our classic advert! […]”[4]. Padahal dalam iklan tersebut tidak lebih hanya berisikan ajakan untuk membeli komoditi yang telah diproduksi yang mana (borok tersebut), dibalut dengan menampilkan sebuah keluarga yang hangat, dan hubungan antara “kasih sayang” dengan “pertukaran hadiah” yang, pada dasarnya melanggengkan moral kapitalisme, yakni konsumerisme. Sayangnya, kritik singkat tadi gagal tersampaikan. Sehingga perayaan Natal dalam imajinasi Sang Bocah tepat sebagaimana perayaan Natal yang digambarkan oleh media-media para kapitalis. Beruntung Sang Bocah bukan seorang anak yang gampang merengek meminta hadiah ini-itu pada orang tuanya. Namun kita tidak tahu di luar sana. Berapa banyak orang tua yang –mayoritas adalah buruh –harus membelikan barang mahal untuk menuruti keinginan sang anak atau keluarga lainnya sebagai bentuk “kasih sayang” –yang telah dikonstruksi oleh sistem produksi kapitalisme –pada momen Natal.

Bangun Solidaritas! Kabarkan Perlawanan!

Sebagian orang yang mengklaim dirinya progresif, bisa saja melakukan kritik terhadap perayaan Natal. Namun apakah mereka memberikan solusi atas kritik yang dilemparkannya? Sayangnya, mereka langsung menarik garis-tegas yang sebenarnya mudah dihancurkan, karena tidak memiliki pondasi yang kuat padanya tidak berdasarkan kondisi objektif material.

Solusi atas berbagai kritik terhadap Natal bukanlah menolak perayaan Natal. Bukan! Tetapi dengan menunjukan bagaimana seharusnya Natal dirayakan sesuai dengan kondisi objektifnya. Pada periode ini, akan sangat sulit untuk menghindari konsumerisme yang sudah akut ketika momen hari-hari besar seperti Natal tiba. Akan tetapi kelas buruh harus sadar bahwa, mereka gembira atas Natal dan hari libur, yang mana ekspresi kegembiraan tersebut sebenarnya datang dari kebencian terhadap aktivitas kerja sehari-hari mereka. Setiap hari mereka dihadapkan dengan mesin, catatan-catatan dan alat produksi lainnya. Mereka beraktivitas dan melakukan sesuatu tidak sesuai dengan yang mereka kehendaki. Sehingga ketika ada kesempatan, bahkan satu hari saja, untuk pergi dari situ –dari aktivitas yang membuat mereka kehilangan potensinya sebagai manusia–mereka akan mengambil kesempatan tersebut.

Gambar: CommunistChristmasCarols

Kelas buruh yang sadar akan hal tersebut juga harus menyadarkan yang lainnya. Karena –kembali kita mengulang-ulang–emansipasi kelas buruh adalah tugasnya kelas buruh itu sendiri. Sehingga pada momen perayaan Natal, perlu kita kabarkan bahwa spirit Natal, di mana secara religius membawa kabar gembira ke dunia atas lahirnya Al-Masih, membawa pula bersamanya perlawanan terhadap penguasa tiran dan para pemodal. Membawa pula rasa takut yang akan menyelimuti penguasa tiran dan para pemodal!

Mari bersama, apapun Agama mu, apapun Suku dan Bangsa mu, kita rapatkan barisan untuk melakukan perlawanan terhadap segala bentuk penjajahan dan penindasan. Mari akurasi bersama perlawanan kita, untuk menyiapkan dan mematangkan syarat-syarat material untuk mencapai tujuan utama menghancurkan kapitalisme! Bergabunglah dalam Organisasi Progresif, Serikat Buruh Progresif yang, memiliki perspektif dan kritik ekonomi-politik yang memihak pada rakyat dan kelas buruh, bukan sebaliknya!

Lipat-gandakan semangat Kita! Menjadi spirit perjuangan yang tidak akan pernah terputus sampai rantai yang membelenggu kita berhasil diputus dan dihancurkan! Selamat Natal! Selamat Libur Wahai Kelas Buruh!


“Mereka yang tidak bergerak, tidak akan merasakan rantainya”
~ Rosa Luxemburg





Catatan-catatan
  1. S, Katherina. 2013. The Marxist Critique of Christmas. Lih. prezi.com (Diakses pada 22 Desember 2019)
  2. Humphreys, Joe. 2013. Unthinkable: Is Christmas a cause for celebration?. Lih. irishtimes.com (Diakses pada 24 Desember 2019)
  3. Dala, Nollan. 2015. A Marxist Interpretation of Christmas Carols. Lih. nolandalla.com (Diakses pada 24 Desember 2019)
  4. Sekitar tahun 2007, Coca-Cola merilis iklan “klasik” tentang Natal di Youtube dan membagikan informasi tentang iklan tersebut di Facebook.


  Apabila anda merasa situs ini bermanfaat dan ingin mendukung kami supaya bisa terus menyajikan konten berkualitas secara gratis. Maka anda dapat berkontribusi untuk keberlangsungan situs ini, di antaranya dengan memberikan donasi melalui halaman berikut:

Kirim Donasi


Posting Komentar

0 Komentar