Translate

Salah-Paham tentang Kiri dan Kita Tidak Berbicara [Perjuangan] tentang Keadilan atau Moralitas Lainnya

Gambar: https://wallup.net/superman-red-superman-superman-red-son/

Tulisan ini hanyalah sebuah pembelaan-ilmiah jika tidak boleh dikatakan sebagai sebuah klarifikasi-penyadaran. Tentu saja, penulis mengharapkan adanya balasan tulisan –yang nantinya entah akan terbit di media yang sama dari yang sebelumnya atau di mana pun terserah ybs. –menanggapi tulisan ini.

Sering kita mendengar para aktivis [terlepas pengertian aktivis secara spesifik-sosial –semoga teoritikus-vulgar memaafkan saya] mulai dari kalangan reformis sampai kalangan revolusioner, meneriakkan slogan-slogan jargonistik yang terkesan moralis. Hal tersebut dilakukan karena mengingat berbagai alasan. Yang umum diketahui: bahwa slogan-slogan tersebut mampu memantik/mengisi-ulang semangat–yang sudah terkuras; dan, mampu menyebarkan pengetahuan –setidaknya memperkenalkan –karena ia mudah diingat selain karena ia juga diulang-ulang. Namun, jika kita tanyakan satu-persatu pada para aktivis yang menggunakan slogan-slogan tersebut mengenai “apa tujuan mereka meneriakkan slogan-moralitas dan bagaimana pandangan mereka tentang slogan tersebut?” tentunya kita akan mendapat jawaban yang beragam. Akan tetapi, jika menaruh perhatian pada jawaban-jawaban mereka, kita akan dapat menemukan dan memeriksa pemahaman mereka dari yang paling dangkal tentang gerakan-sosial, perkembangan-sejarah, bahkan filsafat.

Dari sini, informasi pertama yang bisa didapat: bahwa tidak semua aktivis adalah sama, secara asal maupun maksud.

Selanjutnya, secara tegas kita dapat membagi mereka berdasarkan pandangannya tentang bagaimana cara mendapatkan – asal-usul –pengetahuan: Idealism; Materialism. Kita semua tentu tahu bahwa perdebatan antara dua mazhab tersebut hampir sama usianya dengan awal lahirnya kelas. Meskipun hal itu bukan alasan, tetapi agaknya tidak-perlu [dalam tulisan ini] untuk melakukan pembahasan mengenai perdebatan tersebut yang bukan maksud primer dari tulisan ini.

Kalangan revolusioner, hampir dapat dipastikan memegang teguh filsafat materialisme. Tetapi tidak sedikit juga dari kalangan reformis pun mendaku dirinya sebagai seorang materialis.

Baik revolusioner ataupun reformis kebanyakan berasal dari golongan intelektual. Meskipun istilah tersebut mengandung banyak pengkaburan-makna, lagi kita tahu bahwa golongan intelektual bukanlah kelas sosial, secara sederhana ia tidak mendefinisikan hubungannya dalam aktivitas re;produksi secara material. Ia juga merupakan konsep dari buah filsafatnya para borjuis [idealism] bukan dari sisi lainnya. Ia mengidentifikasikan posisinya dalam sosial sebagai pemilik status tertentu. Maksudnya jadi, meskipun mendominasi, kelas borjuis bukanlah pengisi seluruhnya golongan intelektual. Sehingga dari sinilah lahir pencapaian tertinggi dari intelektual borjuis dengan filsafatnya materialisme secara konsisten: Marxism.

Sebagai ilmu, marxisme bersifat ilmiah bukan dogmatis. Artinya ia bukanlah serangkaian konsep yang sudah pasti-baku dan terjadi sejak-akan ada-diucapkannya. Tetapi ia merupakan metode-ilmiah –pisau bedah–untuk menganalisis hubungan-hubungan sosial-produksi serta perkembangan sejarah manusia. Dengan begitu ia juga memerlukan pengujian, tidak hanya dalam laboratoriumnya intelektual, tetapi dalam ruang-praktiknya kelas proletar, ia harus diuji langsung oleh besi dan palu. Meskipun demikian, lebih sering kita melihat sejarah mengkonfirmasi teori-teori marxisme. Sehingga tidak jarang, bagi kalangan yang tidak berhati-hati akan terjatuh pada revisionisme marxisme bahkan menjadikannya sebagai dogma yang, sungguh disayangkan dapat menyelewengkan teori-teori marxisme, bahkan membawanya pada pseudo-marxisme yang sebenarnya anti-marxisme.

Inilah yang juga merupakan sebab dari informasi sementara yang kita dapat tadi. Yang mana juga tingkat pembacaan terhadap marxisme berpengaruh terhadap apa yang dikerjakannya dengan mendasarkannya pada marxisme, sementara pada tingkat pemahamannya bisa jadi berada pada posisi yang berbeda bahkan sebaliknya.

Lebih lanjut, terdapat pertanyaan sederhana “apakah seorang marxis itu kiri dan/atau semua orang kiri itu marxis?” Pertanyaan ke-dua mungkin lebih mudah dijawab jika dibandingkan pertanyaan pertama yang membutuhkan jawaban empiris. Meskipun demikian, terkadang beberapa kalangan memberikan label marxis pada siapa saja yang mendaku kiri. Padahal yang demikian adalah jelas keliru dan tindakan sembrono.

Kembali pada 3 dan 4 paragraf sebelumnya. Sebagai marxis–yang tidak pernah mendaku sebagai kiri –tentunya tidak-bisa-tidak untuk-tidak mempelajari –dan menjadikannya sebagai dasar berfikir sebelum bertindak –filsafat materialisme dialektika-historis. Sehingga umum baginya untuk memberikan penjelasan, klarifikasi bahkan penolakan terhadap reflek-historis dari perkembangan kontradiksi yang terjadi secara objektif material.

Berpaham materialis, membawa pada pemikiran-pemikiran dan tindakan yang didasarkan pada materialisme. Sehingga sesuatu yang idealis atau berasal dari idealisme adalah sebuah kemunduran pada tingkat tertentu [bisa jadi ia menjadi pemberhentian terakhir] atau, sesuatu yang boleh dicampakkan berdasarkan skala dan tingkat kegentingannya [bisa jadi ia menjadi terminal-singgahan pertama dari sebuah perjalanan].

Karenanya, konsep-konsep ideal bukanlah awal atau maksud dari setiap apa yang sedang dilakukan/diperjuangkan oleh kaum marxis. Bahkan secara teori, kita akan dibuat kesulitan untuk dapat menemukan terma-terma idealis secara teoritis seperti “keadilan”, “kebaikan” atau sejenisnya di dalam karya-karya Marx maupun Engels [guru para proletariat]. Karena awal dan maksud kritik ekonomi-politik bukanlah berlandaskan idealisme-moral –meskipun latarbelakang lahirnya marxisme adalah akibat keprihatinan terhadap kondisi buruh di Eropa pada masa Revolusi Industri.

Lantas, jika bukan atas-nama keadilan atau bahkan bertumpu pada kebaikan, kemudian apa yang diperjuangan [awal dan maksud tindakan] kaum marxis?

Pertanyaan tersebut mungkin banyak-perlu untuk dijawab, tetapi penulis akan mengulasnya di lain pertemuan. Namun, secara-sedikit penulis akan mengulasnya di sini untuk mencoba meluruskan kesalahan-kesalahan pemahaman dasar tentang marxisme.

Sekali-lagi, marxisme adalah ilmu, karenanya ilmiah. Hasil analisis-kritisnya pun merupakan terapan, begitu juga pada thesis perkembangan sejarah. Karenanya terapan, thesis tentang perkembangan sejarah pun tidak bisa diterapkan [secara universalitas] kembali. Akan lucu-rancu jadinya jika melakukan terapan pada terapan.

Lebih lanjut, marxisme sebagai ilmu, ia tidak menganggap kapitalisme sebagai sebuah kejahatan atau anti-kebaikan atau, moralitas – yang dianggap “rendah” –lainnya. Bukan sebaliknya, tetapi bukan juga pada sisi lain, ia memandang kapitalisme sebagai akibat dari perkembangan dan majunya kekuatan-produktif–perkembangan teknik-produksi–dan hubungan sosial di dalam sejarah perkembangan manusia. Mengapa demikian? kita tentu harus memahami manusia secara ilmiah. Artinya harus memahami apa penyebab lahirnya manusia dan apa yang selanjutnya menopang siklus kelahiran tersebut –secara materialis.

Di dalam sejarah, marxisme menemukan bahwa untuk dapat bereproduksi secara harfiah, manusia harus bisa memenuhi kebutuhannya secara material. Sementara itu, pemenuhan kebutuhan ditopang oleh perkembangan teknik-produksi [aktivitas kerja] yang, selanjutnya menciptakan dan cenderung menopang hubungan-hubungan sosial manusia dan berikutnya secara timbal balik di dalam sejarah.

Dari sinilah marxisme menemukan bahwa cara manusia berproduksi, sepanjang sejarah, memiliki perbedaan. Artinya re;produksi adalah memiliki modelnya [cara] yang pada periode tertentu dengan periode lainnya memiliki perbedaan. Marxisme menyebutnya sebagai “mode of production”.

Nah, moda produksi kapitalisme, dalam sejarahnya merupakan buah dari filsafat borjuis. Karenanya semangat-semangat yang dibawa pun idealis. Mereka, para borjuis, bercita-cita mendirikan sebuah sistem [dengan ideologinya liberal dan moda produksinya kapitalisme] yang mampu menghadirkan keadilan bagi rakyat secara luas.

Kita jumpai sebaliknya. Krisis-krisis dalam kapitalisme, justru membawa sistem yang dianggap adil secara moral dan legal secara hukum, menemui kehancurannya.

Dari sini, kelas borjuis dalam tugas historisnya, tidak mampu menyelesaikan atau berperan lebih lanjut. Oleh karena itu, hanya kelas proletarlah yang dapat memikul dan menuntaskan tugasnya di dalam sejarah.

Hal tersebut bukan tanpa dasar, tetapi kita tahu bersama bahwa aktivitas produksi berada di tangan buruh secara harfiah. Kelas borjuis tidak memproduksi apapun. Kelas proletarlah yang melakukan kegiatan produksi. Karenanya keliru, kalau ada yang berpendapat [mengkritik] jika seorang marxis yang mengkritik kapitalisme tetapi mengonsumsi barang-barang ber-merk, sebagai seorang marxis yang pro barang ciptaan kapitalis. Sungguh tidak berdasar!

Lebih lanjut, karenanya objek utama dari marxisme adalah kapitalisme. Sementara kapitalisme sendiri merupakan moda produksi yang mengharuskan segala sesuatu dapat dikuantifikasikan–bahkan tenaga-kerja yang sifatnya abstrak sekalipun–yang juga akibat dari orientasi kapitalis pada laba dan desakan logika akumulasi kapitalisme. Sehingga, kritik moral pun tidak-akan berlaku pada kapitalisme selain karena hubungan-produksi yang mengkehendaki adanya kepemilikan alat-produksi yang sendirinya adalah buah dari idealisme.

Di sisi lain mungkin kita menemui/membaca dari media di mana terdapat banyak kapitalis yang berderma, menyumbangkan hartanya kepada orang lain, atau sekedar memberikan motivasi, kata-mutiara sebagai penghargaan pada etos kerja buruh atau bahkan mereka melakukan kritik terhadap kondisi sosial yang diakibatkan moda produksi kapitalisme. Namun hal tersebut hanyalah sebuah paradoksal-filantropis.

Dengan demikian, krisis yang dialami dan disebabkan oleh kapitalisme, bukanlah karena para borjuis tersebut tidak bermoral–meskipun pada kenyataanya memang demikian. Bukan juga karena adanya hukuman [dari ide absolut] akibat dari perbuatan manusia yang merusak alam. Tetapi karena logika akumulasi kapitalisme yang menuntut untuk intensifikasi kegiatan produksi.***

Perkembangan teknik-produksi yang kelak membawanya untuk mendobrak hubungan-sosial dalam moda produksi kapitalisme, telah lebih dulu membawanya pada penciptaan antagonisme-kelas. Meskipun demikian, tidak meniscayakan para buruh menjadi revolusioner pada tingkat tertentu. Yang lebih parah bahkan mampu melemparkan kelas ini pada perjuangan-perjuangan sektoral-parsial dan cenderung reformis.

Sementara itu, golongan intelektual [yang saya maksud adalah yang berasal dari keluarga buruh-mampu yang dapat belajar di lembaga pendidikan borjuis] juga berada dalam kondisi yang tidak pasti. Pada satu sisi mereka harus bersiap untuk di ambil nilai-lebihnya [dan bersaing] dalam aktivitas produksi, di sisi lain mereka harus mengkomunikasikan pengetahuannya dengan para buruh dalam perjuangan kelas. Yang disayangkan adalah ketika kegagalan dalam memahami kondisi objektif material yang, justru membuat mereka turut terseret dan berkutat [berputar-putar] dalam perjuangan sektoral-parsial dan cenderung reformis. Pada tingkat tertentu hal tersebut dapat mengakibatkan kemunduran dalam gerakan, bahkan menghancurkannya.

Perjuangan-perjuangan sektoral-parsial, tanpa melibatkan kelas proletar atau sebaliknya, hanya akan sampai pada titik tertentu. Atau malah menemui hambatan-hambatan berarti [melemahkan gerakan-perjuangan tersebut] yang dapat membunuh gerakan itu sendiri. Dari sinilah, dibutuhkan orang-orang yang konsisten dan memiliki kemampuan dalam melakukan kerja-kerja teoritis, riset, serta analisis untuk selanjutnya menentukan prognosis dalam kerja-kerja ke depan. Dan, marxisme menyediakan ini semua di gudang-gudang senjatanya.

Sehingga, seorang marxis harus selalu berdiri di garis depan dalam setiap perjuangan [dengan berdasarkan analisisnya untuk sampai pada kesimpulan tersebut –turut serta dalam perjuangan atau bahkan sebaliknya], meskipun perjuangan tersebut tidak diinisiai oleh kaum marxis atau bahkan dalam perjuangan yang reformis sekalipun. Hal tersebut merupakan upaya untuk mempersiapkan kondisi-kondisi dan syarat material secara objektif dalam mendukung revolusi sosialis.

Bisa kita lihat, dalam aksi-aksi yang secara jelas bisa ditarik garis tujuannya yang parsial, misalnya penuntasan kasus korupsi, tuntutan menaikan upah-buruh, tuntutan pengurangan jam-kerja, tuntutan menolak diskriminasi dsj., kaum marxis selalu ikut dan berperan dalam perjuangannya.

Permasalahan muncul ketika sentimen terhadap marxisme atau terhadap kaum marxis yang didasarkan pada kemalasan belajar atau pada kesalah-pemahaman/sentimen terhadap kesalahan-kesalahan dalam praktik menuju sosialis. Karena hal tersebut bisa lebih berbahaya dari pada reformisme: reaksionerisme yang, dapat membawanya pada kehancurannya sendiri.

Kelompok reaksioner [selain kontra-revolusioner] adalah salah satu musuh kaum marxis. Karenanya mereka lebih sering terpisah dan menarik diri dari gerakan revolusioner. Bahkan reaksionerimse dapat membawa pada sentimen dan kekecewaan yang berujung pada identitas, misalnya dengan menolak kaum kiri dan mengidentifikasi secara general bahwa kaum kiri adalah marxis. Hal tersebut adalah tindakan tidak-serius [remeh dan sembrono].

Marxisme sendiri memang memiliki banyak pengembangan [aliran] karena ia –pada titik tertentu membutuhkannya –dikemukakan pada konteks dan periode yang berbeda dari sekarang. Bahkan, marxisme juga mengalami banyak revisionismenya berdasarkan faktor-faktornya. Misalkan kekecewaan terhadap revisionisme yang dilakukan Stalinis memunculkan pengembangan Marxisme-Humanis di satu sisi, dan di sisi lain menjadikanya sebagai revisionisme karena kontradiksi asal filsafat Humanisme dengan Materialisme.***

Pada periode sekarang, yang mana moda produksi kapitalisme telah menjadi akut dan menemui banyak kontradiksi di dalam dan di luar dirinya. Semakin bisa kita melihat ketimpangan sosial dan kerusakan di bumi. Memang, moda produksi kapitalisme mencirikan adanya pembagian kelas antara yang dirugikan dan yang mengambil keuntungan. Namun, terdapat elemen sosial yang paling menderita kerugian karena harus menerima berbagai beban dan melakukan berbagai peran, mereka adalah “perempuan”. Di sini, tidak perlu kita membahas secara khusus mengenai sejarah penindasan terhadap perempuan, selain karena bukan –lagi – tujuan tulisan ini, juga karena kita dapat mengetahuinya lewat perkembangan sejarah manusia secara material [ijinkan penulis membahas ini pada lain waktu] berhubungan dengan akar-masalah penindasan tersebut, yakni “moda produksi”.

Sebagaimana moda produksi perbudakan dan feodalisme, patriarki pun dapat dilanggengkan dalam moda produksi kapitalisme, sejauh ia mendatangkan banyak keuntungan bagi kapitalis. Namun, berbeda dengan dua sebelumnya, patriarki sendiri bukanlah moda produksi. Ia adalah sistem sosial yang dicipta-tercipta akibat moda produksi dominan pada suatu periode yang, mengijinkan adanya sebuah kondisi tertentu. Sehingga meskipun moda perbudakan dan feodalisme telah digantikan oleh kapitalisme, namun sistem sosial, tradisi dan kebudayaan dalam moda produksi tersebut (perbudakan dan feodalisme), dapat tetap dipertahankan di dalam moda produksi kapitalisme, demikian dengan patriarki. Lantas, apakah solusi dari masing-masing masalah tersebut adalah perlawanan dengan membentuk gerakan yang murni anti-perbudakan?, gerakan yang murni untuk penggulingan dan penghapusan feodalisme? Dan, gerakan yang murni untuk pembebasan perempuan dan penghapusan patriarki?

Jika kita menjawab “iya”, maka kemunduran sejarah kembali terjadi. Tetapi jika kita menjawab “tidak”, berarti harus ada jawaban lain atas solusi tersebut.

Dari sinilah, marxisme mampu memblejeti hal-hal yang terjadi dan menjelaskannya secara ilmiah. Dengan marxisme, kita mampu mengetahui mana yang fenomena/akibat dan mana yang sebab. Lebih lanjut mana yang kontradiksi primer, sekunder, atau bahkan tersier.

Krisis-krisis yang terjadi sekarang ini, sebagian besar adalah fenomena/akibat dari moda produksi kapitalisme. Misalnya krisis hubungan-sosial-politik dengan terjadinya perampasan ruang-hidup, PHK (pemutusan hubungan kerja) secara massal, kasus korupsi-kolusi-nepotisme, bahkan sampai krisis ekologis seperti bencana banjir, longsor, dampak limbah pabrik, hingga krisis pergantian iklim dst., adalah segudang kontradiksi yang diciptakan kapitalisme. Lantas apakah kita akan melakukan perlawanan terhadap kontradisk-kontradiksi tersebut secara terpecah-pecah [sektoral-parsial] ditambah dengan sentimen terhadap gerakan perlawanan yang lain karena tidak ikut berpartisipasi? Hal tersebut justru akan melemahkan gerakan perlawanan itu sendiri.

Lantas bagaimana?

Perumpamaan sederhana: Jika kita ingin terbebas dari rantai yang membelenggu, solusinya bukanlah mengendorkan rantai tersebut, bukan pula merengek belas-kasihan untuk dilepaskan dari belenggu tersebut. Tetapi kita sendiri yang harus menghancurkan rantai tersebut. Membebaskan diri kita sendiri dari belenggu!

Perjuangan-perjuangan secara sektoral-parsial, hanya mungkin sampai pada wilayah pengendoran rantai belenggu. Hal itu mungkin dapat memperpanjang usia perjuangan, tetapi pada akhirnya akan tetap membunuhnya, karena perjuangan yang telah sakit dalam kekangan.

Jalan satu-satunya adalah menghancurkan rantai-belenggu itu sendiri melalui perjuangan kelas. Bukan tanpa alasan [sebagaimana paragraf 21], hanya kelas buruh revolusioner-lah yang dapat memimpin perjuangan tersebut. Sehingga perjuangan sektoral-parsial yang murni anti-perbudakan, malah dapat menyeretnya dalam penjara kerja-upahan. Perjuangan yang murni anti-feodalisme, malah dapat membawanya pada budaya borjuis-idealis-liberal yang mengerikan dan anti-kemajuan. Perjuangan yang murni pembebasan-perempuan, malah dapat menyeret perempuan ke arena produksi kapitalisme. Semua itu terjadi, karena orientasi kapitalis adalah laba dan, apapun yang dapat memperbesar laba, mereka akan melakukannya bahkan jika harus mendukung perjuangan sektoral-parsial dengan jubah progresif, atau jubah-jubah moralis.

Dari sini, sebagian yang masih memiliki sentimen dan kesalah-pemahaman tentunya mempunyai pemikiran bahwa kaum marxis mencoba untuk mendikte gerakan. Pada kenyataannya memang analisis-kritis sangatlah dibutuhkan. Bukan sebagai sentimen, tetapi untuk melihat situasi objektif material. Sehingga darinya, terlepas anggapan “dikte-mendikte” gerakan, sumbangan kaum marxis adalah dengan memberikan hasil analisis-kritis beserta prognosisnya bagi sebuah gerakan perjuangan –yang di dalamnya dimungkinkan terdapat subjek revolusioner.

Dengan demikian, perjuangan kelas merupakan satu-satunya langkah awal untuk mencapai cita-cita bersama–menciptakan kehidupan sosialis. Kelas proletar secara ideologis [yang saya maksud secara ideologis: bukan definisi proletar secara teoritis oleh Marx, tetapi proletar yang saya definisikan sebagai siapapun dari elemen sosial yang sepakat dengan perjuangan kelas untuk mencapai cita-cita bersama –sosialisme ilmiah, –artinya bisa-jadi ia adalah borjuis yang bunuh-diri kelas] harus berdiri di bawah satu panji untuk menumbangkan kapitalisme.

Sehingga, pada tahapan ini slogan-slogan moralis-jargonistik dalam perjuangan, tidak hanya dimaknai sebagai moralitas-sempit-borjuis. Tetapi memiliki makna yang terintegrasi secara materialis dengan kehidupan sosialis secara ilmiah. Artinya, ia mensyaratkan suatu kondisi di mana kehidupan sosialis dapat tumbuh dan berkembang. Dengan begitu, maka mengatakan marxisme tidak ada hubungannya dengan keadilan, humanisme, kebaikan dan moralitas lainnya, merupakan sebuah kekeliruan.

Di sisi lain, mengidentifikasikan marxisme dengan keadilan, humanisme, kebaikan dan moralitas lain secara vulgar adalah sebuah revisionisme yang mengarah pada degenerasi. Sungguh sesuatu yang sangat mengerikan.


Tidak ada pahlawan bagi para buruh, kecuali para buruh itu sendiri ~ David
[Iklan Solidaritas]

Click to comment