Membaca "Binatangisme" George Orwell di Abad 21: Korupisme dan Doktrinerisme

Sumber: China Bans George Orwell’s Classics 1984 and Animal Farm

Telah lama saya rampung membaca buku ini dan, meskipun jarang, saya biasanya menggunakan beberapa bagian di dalam buku ini sebagai bahan candaan. Adalah kawan saya yang memperkenalkan buku ini ketika saya terlanjur menghabiskan karya Solzhenitsyn yang mengenyangkan—Gulag.

Suatu hari, kawan saya mengajak saya untuk bergabung dalam perjuangan di jalur “Dimitrov” dalam rangka ingin merealisasikan kisah dalam novel Binatangisme. Tentu saja, hal tersebut hanyalah salah satu gurauannya. Dari situlah, saya selanjutnya meminjam buku “tua” ini dari kawan saya lainnya yang kebetulan sudah dianggurkan.


Pada bagian sampul tertulis dengan jelas judul buku; “BINATANGISME” dengan gambar seekor babi yang berlagak seperti manusia yang sok licik. Saat itu, buku yang saya baca adalah terbitan IQRA, salah satu penerbit dari Bandung. Dengan kertas buramnya, membuat saya harus berhati-hati ketika membawa buku tersebut karena khawatir akan membuatnya tambah buram.

Selanjutnya, setelah sekian lama akhirnya pada momen krisis ini, ketika kita dipaksa berlindung dari pandemi dengan tanpa perlengkepan dasar, membuat saya tertarik untuk mengisahkan isi dari karya ini ke beberapa keponakan saya pada forum rutinan setiap sore.
∗∗∗

Binatangisme sendiri merupakan buah terjemahan oleh Mahbub Djunaidi pada 1983, yang mana karya aslinya berjudul Animal Farm diterbitkan pertama kali pada 17 Agustus 1945. Adalah George Orwell sastrawan dari Inggris yang menyusun karya tersebut pada penghujung musim dingin, di tengah situasi Perang Dunia II dan pergolakan ekonomi politik yang keras di Eropa.[1]

Menurut informasi di sampul belakangnya, karya ini, disebut-sebut sebagai karya terbaik Orwell. Klaim tersebut tentunya memiliki dasar dan tujuannya tersendiri. Terlepas dari itu, saya cukup merekomendasikan karya ini bagi anda yang doyan menikmati sebuah karya sastra yang ringan namun cukup berkilau, atau untuk anda yang membenci propaganda atas informasi palsu, otoriterianisme dan, tentunya, hypermoralism. Akan tetapi, jika itu dirasa belum cukup dan ekspresi atas keraguan membaca karya ini masih diungkapkan, maka saya akan mencoba menghadirkan jawaban tersebut lewat paragraf-paragraf yang akan saya sampaikan di sini.


Potret Dongeng Binatangisme

Karya ini menceritakan tentang kehidupan para binatang di peternakan “Manor”, di Inggris yang—mula-mula dan telah lama—dikelola oleh manusia bernama Jones. Dan, tanpa basa-basi, Orwell menuliskan pada Bab 1 dasar-dasar dan kunci dari jalannya cerita, yang mana “mimpi” dan perubahan kehidupan sosial para binatang dimulai. Adalah babi Major, tokoh yang disegani dalam dongeng tersebut—dan sebentar lagi menemui ajalnya—yang mengilhami mimpi-mimpi para binatang lewat ajaran yang disampaikannya.

Babi Major, sebelum kematiannya, membagikan mimpi-mimpi tersebut lewat pidatonya. Ia menggugat kepada para binatang disertai paparan sejumlah kenyataan tentang kehidupan bangsa mereka. Dalam pidatonya ia menyampaikan; “Apa itu hakikat kehidupan kita? […] Hidup kita ini sebenarnya menyedihkan. Hidup kita terbebani kelewat banyak kerja keras.”[2]

Bertolak dari ketidakterimaan atas kondisi tersebut, babi Major memaparkan bahwa kesemua itu bukanlah sebuah takdir. Berbagai kemalangan yang dialami para binatang tidaklah terjadi tanpa sebab, tidak karena tanah Inggris terlampau kurang untuk menghidupi mereka, tidak pula karena kehendak alam.[3] Namun, menurut pembacaannya, hal tersebut disebabkan oleh manusia; bangsa pencuri bangsat dari semua yang telah dikerjakan oleh bangsa binatang.[4]

Setelah hampir merampungkan pidatonya, ia berkesimpulan bahwa satu-satunya jalan untuk mengakhiri kemalangan mereka—para binatang—adalah dengan menumbangkan tirani bangsa manusia atas bangsa binatang. Pemberontakan; revolusi: perjuangan untuk perubahan secara radikal adalah jalannya. Kemudian babi Major mengajarkan beberapa prisip yang dapat dijadikan senjata dalam perjalanan dan perjuangan meraih mimpi terciptanya kehidupan binatang tanpa penindasan oleh manusia. Prinsip tersebut terkait apa-apa saja yang tidak boleh dilakukan dan harus dilawan. Dan akhirnya, pidato babi Major ditutup dengan lagu perjuangan yang baru saja ia ajarkan pada para binatang yang, selanjutnya, lagu tersebut diberi judul “Binatang-Binatang Inggris”.[5]

Pada Bab 2 menceritakan bagaimana revolusi disiapkan. Tentunya si babi Major telah tiada, sementara ajarannya yang telah mengilhami banyak binatang, membawa pada lahirnya para pelopor yang menjadi pemimpin gerakan. Adalah Snowball dan Napoleon, dua tokoh utama dalam cerita ini yang dikisahkan sebagai babi kader teladan dan pemimpin para binatang. Dua babi tersebut dibantu oleh Squealer, tokoh babi lainnya yang lebih inferior namun perannya cukup signifikan. Mereka bertiga mengembangkan ajaran babi Major dan memberi nama ajarannya sebagai “Binatangisme”.[6] Di dalam ajaran itu sendiri memegang erat prinsip dan semangat babi Major, serta keyakinannya akan pecahnya revolusi, walaupun mereka sendiri tidak tahu kapan itu terjadi, kapan hari itu akan datang sebagaimana disampaikan oleh babi Major.

Setelah minggu-minggu dilalui, berbagai jenis usaha, persiapan, propaganda dilakukan. Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu itupun datang tanpa pernah diduga sama sekali. Revolusi pecah! Dan manusia bernama Jones—pemilik peternakan Manor—terusir dari peternakan karena tidak dapat menghadapi dahsyatnya pemberontakan para binatang. Manusia itu berhasil dikalahkan, dan untuk pertama kalinya, para binatang, memimpin bangsa mereka sendiri, memimpin diri mereka sendiri.

Hari-hari pasca revolusi, mereka isi dengan bekerja sama dan belajar, bahkan para babi kader teladan dan beberapa binatang lainnya telah mampu mengembangkan pengetahuannya, termasuk pengetahuan cara membaca dan menulis. Mereka pun mengganti nama peternakan tersebut menjadi peternakan “Binatang” dan, prinsip-prinsip ajaran “Binatangisme” dituangkan dalam “Tujuh Pedoman Utama”.
∗∗∗

Pada dongeng ini, konflik utama bermula ketika penyakit “birokratisme” menyerang para babi kader teladan. Sementara di antara mereka sendiri—khususnya antara Napoleon dan Snowball—yang telah terjangkiti birokratisme dan menjadi akut, juga terpecah belah karena kepentingan dan tujuan yang berbeda. Akhirnya setelah serangkaian penyimpangan dan intrik politik yang terjadi, babi Napoleon berhasil menyingkirkan babi Snowball.[7] Dengan demikian, babi Napoleon keluar sebagai satu-satunya pemimpin peternakan “Binatang” yang kemudian hari berubah nama menjadi “Republik Binatang”.

Berbagai penyimpangan, fitnah, intrik-politik, propaganda palsu dan segala kebejatan moral dapat kita lihat pada bagian-bagian selanjutnya setelah birokrasi babi Napoleon berhasil menancapkan kuku kotornya sebagai penguasa tunggal. Misalnya pada Bab 6, ketika Napoleon mengambil kebijakan untuk membuka perdagangan antara peternakan “Binatang” dengan manusia. Hal tersebut tentunya bertentangan dengan salah satu prinsip “Binatangisme”. Atau pada Bab 7, ketika para demonstran yang tidak terima terhadap peraturan aneh dari peternakan “Binatang” dan melakukan sejumlah sabotase harus menerima ganjarannya dengan dihukum mati.

Pada akhirnya, seluruh prinsip “Binatangisme” lah yang harus diganti dan disesuaikan dengan peraturan; keinginan “Pemimpin Napoleon”, begitu mereka—dipaksa--memanggil babi kader teladan tersebut. Bahkan bendera simbol peternakan “Binatang” yang berkibar juga telah dirubah dari corak sebelumnya. Peternakan Binatang sekarang, tidak lebih daripada karikatur birokratsime babi Napoleon yang dijalankan secara otoriter.

Meskipun demikian, setelah berbagai kemalangan yang menyelimuti peternakan “Binatang” terjadi, mereka—para binatang—tetap percaya dan yakin bahwa kehidupan yang diramalkan Major, si babi tua yang telah tiada, yang mana hasil alam dapat mereka nikmati dengan bebas, ketiadaan penindasan terhadap binatang, dan sirnanya seluruh kesialan yang dialami para binatang, pasti akan terwujud. Masa-masa itu pasti akan datang, meskipun mereka sendiri tidak tahu kapan waktunya.[8]

Akhirnya, dongeng itupun ditutup secara menggantung dengan kalimat satir ketika para babi—binatang yang diunggulkan daripada lainnya—sedang mengadakan pertemuan dengan para manusia—musuh utama para binatang. Sementara itu, para binatang “biasa” yang tidak memiliki hak untuk ikut dalam perjamuan tersebut, berada diluar dan mengintipnya; “Mereka meneliti seksama wajah-wajah yang berada di dalam gedung: dari wajah manusia, kemudian ke wajah babi, kemudian ke wajah manusia lagi, lalu beralih lagi ke babi. Kini rasanya sudah mustahil membedakan mana yang manusia dan mana yang babi! Babi dan manusia sama saja.”[9]


Kritik Terhadap Moralitas dan Isme-Isme Doktriner

Sudah banyak ulasan tentang buku ini, dan sebagian besar mengarahkannya pada kediktatoran Uni Soviet di masa Stalin. Mungkin, dan barangkali benar, yang menjadi inspirasi Orwell untuk menulis dongeng tersebut adalah tirani di Eropa tersebut. Namun, saya mencoba mengajak para pembaca, tidak serta merta—hanya—melemparkan maksud satir dalam novel tersebut pada birokratisme Stalin, tetapi—selain juga terlalu sembrono jika mengarahkannya pada Negara Buruh tersebut karena selain absennya “perjuangan kelas” juga beberapa hal di sana dan di sini yang ada pada karya tersebut saya rasa kurang tepat untuk mengekspresikan Stalinisme—hemat saya, lebih tepat jika kritik tersebut ditujukan pada segala bentuk kekuasaan yang berdiri di atas bangunan dasar yang mengagungkan moralitas, utopisme, sementara realitas objektif disingkirkan darinya.

Bisa kita lihat, “Binatangisme” adalah pengembangan atas ajaran yang disampaikan oleh babi Major. Yang mana jika kita menaruh perhatian atasnya, penyimpangan demi penyimpangan terjadi karena lebih banyak mengambil nilai-nilai moral.

Ajaran babi Major, mengutuk kebrutalan eksploitasi yang dilakukan manusia terhadap binatang. Melawan cara hidup manusia yang dilakukan melalui perbudakan. Sementara itu, ajaran “Binatangisme” justru kelewat sempit dengan hanya menaruh perhatian pada cara hidup bangsa manusia; misalnya tidur di kasur, minum alkohol, dan memakai teknologi, dsb. Sedangkan mereka—para binatang—, tidak melihat lebih jauh pada bagaimana manusia mendapatkan semua itu, bagaimana manusia “menghajar” sesama bangsanya demi keuntungan yang, sayangnya tidak banyak dikisahkan dalam dongen tersebut. Saya hanya melihat sedikit gambaran tentang bagaimana perlakuan manusia atas manusia lainnya yang ditunjukkan pada “Pertempuran Kandang Sapi”, sementara persaingan lainnya; seperti: pada kasus “kayu gelondongan” dsb., tidak digambarkan.[10]

Lebih lanjut, dalam praktiknya, yang saya maksud terlampau moralis adalah penafsiran atas ideologi “Binatangisme”. Mereka para binatang, hanya melihatnya sesuatu sebagai “yang baik” dan “yang jahat” (lihat: “Tujuh Pedoman Utama”). Sementara kondisi materiil atas perjalanan kehidupan, perkembangan sejarah, terlampau diabaikan.

Kemudian yang terakhir, yang membuat novel ini cukup berkilau bagi saya adalah kritiknya atas ideologi. Memang, sebuah gerakan, perjuangan, harus memegang erat ide-ide, gagasan, dan teori-teori revolusioner. Namun, hal tersebut menjadi reaksioner bahkan kontra-revolusioner ketika kesemuanya itu menjelma menjadi doktrin/dogma di dalam praktiknya. “Binatangisme” sendiri adalah ideologi yang pada akhirnya dianggap sebagai satu-satunya “yang benar”. Sementara kenyataan mengatakan bahwa para binatang belum siap—terburu-buru—bahkan terlampau “hiper-idealism” mengamininya dalam praktik. Mereka hanya mampu berkesimpulan bahwa segala sesuatu yang bertentang dengan ‘Tujuh Pedoman Dasar’ adalah buruk dan harus dilawan. Lebih jauh, doktrin tersebut menjadi berbahaya dan menyengsarakan mereka sendiri ketika ia dapat dimanipulasi dan dimanfaatkan oleh yang lainnya. Sehingga, dari sini kita memiliki pengetahuan bahwa lahirnya kediktatoran babi Napoleon bukan sepenuhnya karena kebejatan moral babi kader teladan tersebut. Akan tetapi juga disebabkan kondisi material yang belum matang dan tidak sesuai dengan anggapan-anggapan “umum” yang disandarkan pada ajaran “Binatangisme”.

Situasi demikian—kediktatoran, dogmatisme atas ideologi dan sejenisnya—hampir selalu menghinggapi suatu wilayah yang kondisi materialnya memungkinkan untuk lahir, tumbuh dan berkembangnya otoriterianisme. Di negara saya sendiri, peristiwa penumpasan gerakan buruh—yang dengannya membawa doktrin tentang penafsiran atas ideologi gerakan buruh—telah membawa pada lahirnya rezim otoriter. Yang pada perjalanannya, rezim tersebut—melanggengkan kekuasaanya dengan—menanamkan pemahaman lewat propaganda media dan pendidikan; bahwa ideologi negara adalah “yang benar”, yang tidak dapat diganggu gugat, yang mana segala sesuatu jika bertentangan dengannya adalah jahat dan musuh yang harus ditumpas sebagaimana ideologi gerakan buruh pada waktu itu. Sementara itu, penafsiran dan pemahaman atas ideologi, negara, dan pengetahuan-pengetahuan lainnya, harus menggunakan satu kacamata bersama; yaitu: versi rezim tersebut. Dengan demikian, mudah dibayangkan kehidupan seperti apa yang telah terjadi.

Namun, meskipun rezim otoriter tersebut telah ditumbangkan! Ia meninggalkan kerusakan yang sangat parah di mana-mana. Legitimasi pemahaman yang salah, doktrin-doktrin tidak mendasar tentang lawan-lawan rezim sebelumnya, hingga gagasan-gagasan yang lebih tepat disebut sebagai "konservatisme-rasis", hingga hari ini, hingga tulisan ini disusun, masih terus disebarkan, digembar-gemborkan dan diwariskan ke generasi-generasi terbaiknya. Akhirnya, ideologi negara—yang penuh akan utopia kehidupan,— menjadi tidak lebih dari slogan-slogan yang penafsirannya disesuaikan dengan keinginan para pemodal di belakang negara. Sungguh sebuah ironi[!]
∗∗∗

Sebagai penutup ulasan singkat buku ini, saya ingin memberikan informasi; bahwa karya ini diterjemahkan oleh Mahbub ketika rezim “Orde Baru” tengah mencengkeram negaranya, sehingga membawa saya pada keyakinan bahwa salah satu maksud atas apa yang dilakukannya bukan sekedar sebagai safari pengetahuan. Tetapi untuk memberikan pengetahuan dan pelajaran kepada rakyat di negaranya atas apa yang terjadi, atas apa yang menimpa mereka. Dengan demikian, pada periode sekarang, saya pikir tidak ada alasan serius untuk tidak membaca karya ini kembali. Karena masa-masa tersebut dan warisan-warisannya, hari ini masih menghinggapi kita. Masih melelapkan mayoritas dari kita yang terlampau kenyang dengan doktrin-doktrin yang disampaikan dengan penuh kengerian!

Akhir kata, saya ucapkan; selamat membaca.


Kediri, Mei 2020.



Catatan-catatan
  1. Orwell, George. 1983. Binatangisme. Terjemahan: Mahbub Djunaidi. Bandung: IQRA. Hal. 172.
  2. George, Binatangisme. Hal. 5.
  3. George, Binatangisme. Hal. 6.
  4. George, Binatangisme. Hal. 7.
  5. George, Binatangisme. Hal. 12-17.
  6. George, Binatangisme. Hal. 20.
  7. George, Binatangisme. Hal. 56-63.
  8. George, Binatangisme. Hal. 152.
  9. George, Binatangisme. Hal. 167.
  10. Yakni ketika seorang buruh yang bekerja di peternakan “Foxwood” ditinggalkan oleh majikan dan manusia lainnya dalam keadaan babak belur. Lihat: George, Binatangisme. Hal. 50-51.

Data Buku:
Judul Buku  : Binatangisme
Judul Asli  : Animal Farm
Penulis  : George Orwell
Penerjemah  : Mahbub Djunaidi
Penerbit  : IQRA, Bandung
Tahun  : 1983
Jumlah Halaman  : 175


  Apabila anda merasa situs ini bermanfaat dan ingin mendukung kami supaya bisa terus menyajikan konten berkualitas secara gratis. Maka anda dapat berkontribusi untuk keberlangsungan situs ini, di antaranya dengan memberikan donasi melalui halaman berikut:

Kirim Donasi


Posting Komentar

0 Komentar