Marxisme dan Intelektual —Teori Intelektual Non-Marxis

Karl Marx may have been the first major thinker who focused on the vital importance of technology in shaping social life (Mohit Suneja) // Sumber: Three things Karl Marx got mostly right

Ditulis oleh George Novack pada Desember 1935.

II. Teori Intelektual Non-Marxis

Peran penting yang dimainkan oleh para intelektual radikal dalam gerakan buruh, dan khususnya di partai-partai Marxis, telah membuat beberapa pemikir menyerang Marxisme sebagai filosofi anti-proletar. Yang paling cemerlang dan berbahaya dari serangan-serangan ini terhadap Marxisme dan konsepsi Marxis tentang peran intelektual dalam jajaran revolusioner, dibuat oleh Waclaw Machajski, seorang revolusioner Rusia-Polandia, yang teorinya disebarkan di kalangan kaum revolusioner Eropa Timur di awal dari abad ini, meskipun mereka tidak pernah melakukan pengaruh apa pun pada massa ataupun menarik orang banyak untuk menjadi pengikut.

Menurut Machajski, sosialisme bukanlah sebuah gerakan untuk emansipasi bersama dari kalangan 'pekerja otak' dan 'pekerja tangan’, seperti yang diklaim oleh kaum sosialis, akan tetapi hanya para 'pekerja otak’ saja. Para 'pekerja otak’ ini, yang terdiri dari para intelektual kelas menengah bawah yang dideklasifikasi, seperti Marx, Engels, dll., dan para pekerja mandiri seperti Bebel, bersama dengan rekan-rekan demokratis-liberal mereka, hanya menggunakan pekerja manual ['pekerja tangan’—Penj] untuk tujuan pribadi mereka. Para intelektual radikal (dan juga kaum kapitalis) mengeksploitasi para pekerja. Satu-satunya perbedaan di antara mereka terletak pada metode eksploitasi mereka. Pendidikan tinggi adalah modal yang memungkinkan para intelektual untuk membingungkan dan menyesatkan para pekerja. Karakter eksploitatif sosialisme Marxis ditunjukkan di satu sisi oleh pengkhianatan yang gigih dari kepentingan pekerja manual yang dibayar rendah oleh kaum sosialis parlementer, dan di sisi lain oleh fakta bahwa bahkan sayap revolusioner dari demokrasi sosial, kaum Bolshevik, tidak menjanjikan atau memberikan upah yang sama bagi semua pekerja, tetapi menunda kesetaraan seperti itu untuk masa depan yang jauh tanpa batas.

Machajski berusaha meletakkan landasan teoretis untuk posisinya dengan menuduh Marx sengaja menyembunyikan bagian yang sangat besar dari pendapatan nasional yang dikonsumsi oleh birokrasi pemerintah dalam formula reproduksi yang diberikan dalam volume kedua Capital, untuk menutupi karakter kelas sosialisme yang sempit dan menipu massa pekerja manual. Dia menegaskan bahwa, meskipun sosialis dan partai-partai Sosialis dapat mencapai kekuasaan negara, sosialisme, yang baginya berarti kesetaraan pendapatan universal, tidak akan didirikan. Dia menemukan konfirmasi atas pandangannya dalam tindakan kaum Bolshevik. Revolusi Oktober, menurut Machajski, hanya menggantikan satu set petualang politik tanpa prinsip untuk yang lain. Kediktatoran proletariat hanyalah kedok untuk kediktatoran kaum intelektual profesional atas kaum proletar. Negara Soviet tidak sosialis dalam kecenderungannya, seperti yang diklaim oleh komunis, tetapi suatu bentuk kapitalisme negara, yang tidak dapat dibedakan secara fundamental dari negara Fasis.

Max Nomad, seorang veteran jurnalis radikal, yang telah menyebarkan doktrin Machajski di negara ini, merangkum prosesnya dalam frasa aliteratif berikut: “Setelah mencapai pengakuan, pengaruh dan kekuasaan, para rasul kemarin menjadi murtad, mimbar-mimbar menjadi pengkhianat, dan pemberontak-pemberontak membelot." Harus diakui bahwa ada banyak dalam sejarah degenerasi pihak-pihak dari Internasional Kedua dan Ketiga untuk memberikan alasan yang masuk akal terhadap tuduhan Machajski, tetapi penjelasannya tentang fenomena ini adalah keliru sampai ke intinya.

Teori Machajski tidak dikandung dengan rapi. Ini hanya merek yang lebih canggih dan halus dari ideologi anarko-sindikalis, yang telah berselisih dengan Marxisme untuk hegemoni gerakan proletar sejak zaman Proudhon dan Bakunin. Seperti yang Trotsky catat dalam pamfletnya tentang The Soviet Union and the Fourth International [Uni Soviet dan Internasional Keempat], "Machajski hanya 'memperdalam' secara sosiologis dan ekonomis prasangka anarkis terhadap sosialisme negara."

Ultra-radikal ketika ide-ide seperti itu muncul pada pandangan pertama, mereka pada kenyataannya lemah dan reaksioner. Ini dapat dilihat dari fakta bahwa mereka telah begitu siap diadopsi, dan digunakan sebagai senjata melawan Marxisme dan Bolshevisme, oleh para teoretikus Fasisme seperti Michels dan Pareto. Jika Fasisme dan komunisme hanyalah bentuk alternatif dari kapitalisme negara, di mana kelas pekerja dieksploitasi oleh kelompok-kelompok saingan intelektual birokrasi, tidak ada bedanya bagi para pekerja apakah seorang Mussolini atau Stalin berkuasa atas mereka. Kesimpulan teoretis ini, tersirat dalam posisi Machajski, bermain langsung ke tangan-tangan kaum reaksioner yang terburuk.

Karakter reaksioner dari ide-ide Machajski juga dapat dilihat dalam kesimpulan praktis yang diambilnya sendiri. Menurutnya, “pemerintahan buruh” adalah sebuah kontradiksi dan ketidakmungkinan. Pemerintah adalah birokrasi, dikelola oleh kelas terdidik dan beroperasi untuk kepentingan mereka. Pekerja manual harus menghindari mereka sebagaimana wabah. Sesuai dengan semangat doktrin anarko-sindikalis ini, Machajski menyuruh para pekerja untuk membatasi perjuangan mereka melawan kelas kapitalis untuk memperjuangkan upah yang lebih tinggi, dan perjuangan mereka melawan negara kapitalis untuk layanan sosial, seperti jaminan sosial. Tujuan kelas pekerja seharusnya, bukan menghancurkan negara kapitalis dan penggantinya oleh rezim buruh, seperti yang diajarkan oleh kaum Marxis (untuk upaya ini hanya akan menghasilkan penggantian komplotan yang baru dari pengeksploitasi intelektual untuk yang lama) tetapi kesetaraan upah yang universal!

Apa pun bentuk politis dari aturan kelas, kesetaraan upah akan menjamin kesetaraan kesempatan pendidikan, dan dengan demikian monopoli pembelajaran yang memungkinkan satu kelompok birokrasi satu demi satu untuk mengeksploitasi pekerja manual yang bodoh dan buta huruf akan dihapuskan. Untuk mewujudkan tujuan ini, Machajski seperti Bakunin menganjurkan pembentukan sekelompok revolusioner rahasia, yang akan memandu ledakan spontan massa terhadap para pengeksploitasi mereka ke dalam saluran ini, dan pada akhirnya akan menjadi cukup kuat untuk melakukan pemogokan internasional, yang akan membawa setiap pemerintahan yang menindas untuk angkat kaki. Setelah revolusi terakhir ini, di mana para pekerja manual akan melempar kelompok terakhir yang mengeksploitasi birokrat, kaum intelektual sosialis, dari belakang mereka, kesetaraan sosial dan ekonomi universal pada akhirnya akan tercapai.

Betapapun revolusionernya kesimpulan-kesimpulan ini kedengarannya, mereka sebenarnya adalah produk kedangkalan sosiologis dan impotensi politik. Machajski mengurangi seluruh perjalanan perjuangan kelas dalam sejarah menjadi kompas kecil pertengkaran keluarga di antara kelompok-kelompok intelektual birokrasi yang bersaing. Dia tidak dapat membedakan antara kelas dan kelompok profesional dalam kelas. Akibatnya, ia tidak dapat melihat perbedaan antara pembalikan politik, seperti pergeseran dari demokrasi borjuis ke Fasisme, yang terjadi dalam batas-batas aturan kelas tunggal, dan revolusi sosial sejati di mana kekuasaan politik ditransfer, bukan dari satu kelompok yang berkuasa dalam kelas yang sama ke yang lain, tetapi dari satu kelas ke kelas lainnya.

Konsekuensi politik logis dari kesalahan teoretis ini adalah ketidakmampuan untuk mengejar kebijakan revolusioner sebelum perebutan kekuasaan oleh proletariat, dan kecenderungan untuk mengikuti kebijakan kontrarevolusioner setelah revolusi proletar yang menang. Jika perjuangan sehari-hari kelas pekerja dibatasi pada tuntutan ekonomi dan sosial, tidak termasuk persoalan politik, kelas pekerja tidak hanya kehilangan senjata yang tidak ternilai dari manuver parlementer dan propaganda politik, tetapi mereka akan terikat tangan dan kakinya, kemudian siap dikirim ke kaum Fasis, yang mana memiliki tanah cukup luas untuk mereka kerjakan. Dari proposisi bahwa negara Soviet bukanlah kediktatoran dari proletariat tapi kediktatoran atas kaum proletar, secara logis akan mengikuti perlunya menjungkirbalikkan negara Soviet atas nama kelas pekerja. Posisi semacam itu tidak memiliki kesamaan dengan posisi kaum Bolshevik-Leninis. Adalah perlu untuk membersihkan negara Soviet dari birokrasi Stalinis dengan tepat untuk mempertahankan dan memperkuat rezim buruh yang ada di Uni Soviet, yakni dengan menghancurkan kebijakan birokrasi yang merusak dan mengancam.

Selanjutnya Machajski gagal untuk membedakan antara parasitisme sosial, yang ada di bawah semua bentuk pemerintahan, dan eksploitasi kelas, yang muncul dari hubungan properti antagonistik masyarakat kelas. Parasitisme sosial ada saat ini, misalnya, di birokrasi Uni Soviet dan Jerman, tetapi hubungan sosial produksi di kedua negara berada di kutub yang berlawanan. Uni Soviet adalah negara pekerja yang telah mensosialisasikan alat produksi utama; Jerman adalah negara kapitalis di mana instrumen produksi tetap berada di tangan pemilik swasta. Persentase pendapatan sosial yang dikonsumsi oleh birokrasi kedua negara tidak dapat mengubah perbedaan mendasar dan sangat penting ini.

Pembelaan Machajski tentang kesetaraan upah yang langsung dan mencakup semua sebagai tujuan utama dari kelas pekerja hanyalah sebuah gema dari mimpi anarkistik untuk mencapai Utopia "dalam dua puluh empat jam". Ia tidak memperhitungkan tingkat aktual dari kekuatan-kekuatan produktif dan kebutuhan untuk pengembangan lebih lanjut dari alat-alat produksi dasar, ketika kelas pekerja merebut kekuasaan, suatu masalah yang disajikan dalam bentuk akut kepada proletariat Rusia. Upah diferensial sebagai stimulus untuk produksi, dan investasi lebih lanjut dari modal dalam alat-alat produksi, adalah instrumen yang sangat diperlukan untuk kemajuan sosialis. Tuntutan untuk kesetaraan upah segera pada kenyataannya mewakili perbudakan terhadap ideologi borjuis, yang tidak dapat membayangkan bentuk lain dari pembagian pendapatan sosial. Penekanan Machajski pada kesetaraan upah sebagai batu ujian sosialisme muncul dari keterbelakangan sosial dan ekonomi wilayah Eropa dari mana ia datang, di mana produsen kecil mendominasi. Hanya seseorang yang dibesarkan di daerah yang tidak memiliki industri dengan populasi buta huruf yang dapat memberikan tekanan yang besar pada tuntutan kesetaraan upah, sehingga salah mengartikannya sebagai revolusi sosialis, dan pada perbedaan antara yang berpendidikan dan yang tidak terdidik sehingga membingungkannya dengan perjuangan kelas.

Serangan Machajski adalah khas dari sikap anarko-sindikalis di semua negara terhadap intelektual, bahkan di antara kelompok-kelompok yang diorganisir dan dipimpin oleh intelektual itu sendiri. Anti-intelektualisme dari IWW, penghinaan mereka untuk “swivel-chair artists”[1] dan "pen-pushers"[2], dicontohkan oleh karakterisasi Bill Haywood tentang Daniel DeLeon sebagai "profesor teori", adalah tanda keterbelakangan teoritis gerakan proletar di Amerika Serikat. Penghinaan terhadap para teroris di antara kaum Revolusioner Sosial Rusia dan mahasiswa Tiongkok atas keragu-raguan teoretis kawan-kawan Marxis mereka terhadap tindakan teror individu adalah ekspresi lain dari sikap yang sama.

Marxisme mengajarkan bahwa pemikiran dan tindakan secara dialektik saling bergantung dan dalam kesatuan yang hidup. Dalam masalah-masalah politik, seperti juga semua yang lain, Marxis tidak dapat mentolerir tidak ada kontradiksi antara pemikiran dan tindakannya, tetapi terus-menerus berusaha untuk membuat yang satu sesuai dengan yang lain, dan keduanya menjadi sesuai dengan situasi objektif di depannya. Para teoretikus anarko-sindikalisme dan aliran radikal terbelakang, sebaliknya, mengangkat aksi di atas teori dan spontanitas di atas kebijakan yang beralasan. Para ahli teori yang lebih canggih meremehkan intelektualitas sebagai instrumen untuk mencapai pengetahuan obyektif demi sumber pengetahuan yang dianggap unggul, seperti intuisi atau impuls, dan mendukung tindakan dalam dirinya sendiri terlepas dari kondisi sosial dan konsekuensi politik. Lihatlah[!] popularitas idealisasi kekerasan Sorel yang sangat terintelektualisasi, penentangannya terhadap intuisi Bergson terhadap analisis Marxis; pilihannya untuk mitos daripada teori berprinsip sebagai panduan untuk aksi politik dalam gerakan sindikalis pra-perang di Eropa.

Lubang teori ini, sebagai produk dari aktivitas intelektual, melawan tindakan sebagai produk dari aktivitas vital, pengaturan ini; otak melawan otot atau kepala melawan jantung, pada dasarnya adalah tanda reaksi, di mana pun ia dapat ditemukan. Sisi reaksioner dari teori-teori anti-intelektualis dari sindikalis seperti Sorel dilemparkan ke dalam pembebasan yang agung, yang dengan mudahnya ide-ide utamanya diserap dan dikembangkan oleh para ahli ideologi Fasis. Penghinaan yang sempit dari para anarko-sindikalis untuk semua teori revolusioner kecuali teori mereka sendiri, dan untuk semua ahli teori kecuali diri mereka sendiri, menghambat proses klarifikasi yang diperlukan untuk memajukan gerakan revolusioner. Kecerobohan yang sama mendorong tindakan sabotase dan teror individu, yang hanya membantu penyebab dari reaksi.


» Lanjut ke bagian III, Reaksi dan Anti-Intelektualisme



Catatan-catatan
  1. Catatan Penerjemah: Adalah istilah slang untuk yang menuruk pada kerja umum yang melibatkan memasukkan data secara manual ke dalam satu sistem dan kemudian memasukkan data yang sama ke sistem lain. Istilah ini berasal dari praktik pengguna beralih dari satu sistem ke sistem lainnya menggunakan kursi putar.
  2. Catatan Penerjemah: Seseorang yang melakukan pekerjaan kantor yang tidak terlalu penting, yang berkaitan dengan banyak dokumen.

George Novack lahir di Boston, Massachusetts pada 5 Agustus 1905 dan meninggal di New York, AS pada 30 Juli 1992. Ia merupakan seorang intelektual Marxis, penulis dan editor. Ia juga merupakan salah satu pemimpin –anggota Komite Nasional –Partai Pekerja Sosialis Amerika (American Sosialist Worker Party –SWP). / gambar: George Novack Internet Archive


Artikel ini sebelumnya diterbitkan di marxists.org dalam bahasa Inggris dan diterbitkan ulang di sini dengan diterjemahkan ke bahasa Indonesia secara teks oleh David Dunn untuk tujuan pendidikan.


Posting Komentar

0 Komentar