Teori Konspirasi atau Kritik Ekonomi Politik?

Sumber: http://www.dutchanarchy.com/

Beberapa minggu lalu, selebriti dunia dadakan ini—Covid-19—telah kembali membantu mengungkapkan beberapa hal mengenai situasi materiil. Setelah sebelumnya—dan hingga tulisan ini disusun—dengan percaya diri menunjukkan berbagai kebobrokan rezim-rezim borjuis di dunia. Kali ini ia dengan tepat mempertontonkan kebingungan dan keterbelakangan para pemikir-pemikir borjuis, bahkan yang “terbaik” sekalipun.

Sempat menjadi trend dan penghubung ke salah satu keyword yang paling dicari[1], “teori konspirasi” nampaknya telah benar-benar dibuat tidak berarti ketika ia berhadapan dengan pandemi ini. Ia tak dapat digunakan untuk melawan Covid-19, selain hanya menambah “misteri” dan berbagai penyebab reaksi. Berbagai klaim tentang fakta yang berusaha menunjukan “kekuatan” teori ini, dengan sendirinya runtuh bagaikan disapu badai. Mereka saling bertabrakan dan bertentangan antara klaim di satu wilayah dengan klaim di wilayah lain, antara satu negara dengan negara yang lain, dan bahkan antara satu teoritikus “teori konspirasi” dengan teoritikus sejenis yang lain. Hal tersebut memaksa untuk menyalahkan klaim di sana dan membenarkan di sini, atau justru menjadikannya semakin kabur dengan adanya kemungkinan “fakta” setengah benar yang ditambah dengan narasi tanpa konteks.[2] Dengan deras, konten-konten konspirasi tersebut berlipat ganda menjadi kerancuan yang menyebar ke seantero dunia.
∗∗∗

Mengenai “teori konspirasi”, saya pertama kali bersinggungan dengannya ketika duduk di karpet pesantren. Saat itu saya mengambil perhatian pada tontonan menggelikan yang sedang mengklaim “fakta” dengan mengulas maksud dan pesan "tersembunyi” dari salah satu grup band terkenal di Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, penjelasan yang dikemas dalam bentuk video tersebut berjumlah lebih dari 5 episode. Dari situlah saya kemudian dibawa ke informasi yang lain; bahwa ternyata, tidak terhitung jumlahnya berbagai kemasan “hiburan” dengan kesan “jahat” dan nuansa kegelapan diproduksi dan diperjual-belikan. Misalnya serial The X-Files yang mampu berlayar hingga 11 season dan menghasilkan jutaan dolar (1993-2018). Tidak hanya itu, berbagai buku, serial, film, dst., tentang “Organisasi Rahasia”, Illuminati, Satanisme, Area 51, dsj., laris manis dikonsumsi secara luas.

Bagi saya hal tersebut tidaklah mengherankan karena mengingat konten yang menyajikan “teori konspirasi” sendiri telah cukup tua usianya di dunia ini. Sehingga banyak orang yang terjangkiti ide-ide tersebut dan mempercayainya hingga sekarang. Hal tersebut berdasarkan penelusuran yang saya lakukan dari beberapa literatur dan menemukan bahwa; tidak sedikit para penguasa di sepanjang sejarah manusia yang menggunakan konten konspirasi untuk menyingkirkan musuh ataupun suatu kelompok yang dapat mengancam kekuasaanya. Mereka—para penguasa—biasanya menuduh kelompok tertentu sebagai “organisasi penyihir”, “penyembah setan”, “aliansi aneh”, dsj., yang tengah menyusun rencana jahat ataupun pemberontakan ke kerajaan. Namun pada era tersebut, teori-teori konspirasi memiliki prevalensi yang tinggi dan cenderung tidak teratur. Dan, itulah yang membuatnya berbeda dengan “teori konspirasi” pada era modern, di mana konten-konten konspirasi telah mengalami perkembangan dan mampu menciptakan beberapa lonjakan.[3] Sehingga, pada periode sekarang kita melihat berbagai konten yang dengan “canggih” mampu mengkaitkan peristiwa satu dengan yang lainnya di masa lalu secara unik.[4]
∗∗∗

Teori ini, meskipun saya sendiri ragu menggunakan istilah “teori” untuk menunjuknya secara ilmiah, lebih sering menceritakan tentang maksud “jahat” segelintir manusia yang berambisi untuk menaklukan manusia selebihnya. Berdasarkan pengertian dari kamus pelajar Oxford, konspirasi merupakan rencana rahasia oleh sekelompok orang untuk melakukan sesuatu yang berbahaya atau ilegal. Seperti penggulingan pemerintahan, pembunuhan, dan penyembunyian fakta publik.

Di dalam konten konspirasi sendiri, memiliki beragam metode tentang bagaimana teori ini menjelaskan fokus pembahasannya. Biasanya mereka dimulai dengan menyandarkannya pada etnisitas, ras, agama, hingga yang mutakhir adalah “bisnis”. Akan tetapi, yang menjadi karakter umum dari “teori” ini adalah bagaimana cara mereka menjelaskannya dengan menghubungkan “simpul-simpul” acak dan aneh menjadi sebuah “teori” yang justru membawanya pada teka-teki baru yang menanti untuk diungkap.

Dari sinilah kemudian konten-konten konspirasi yang belum jelas itu mampu—dengan kekuatan misterinya—mempengaruhi pembacanya. Membawanya untuk melakukan suatu aksi, seperti; pemboikotan[5], pemogokan, dan berbagai protes hingga aksi langsung lewat penyerangan terhadap individu maupun kelompok[6]. Aksi tersebut menjadi masif karena konten konspirasi lebih sering meledak ketika, ataupun pasca situasi krisis terjadi.[7]

Pada titik itulah para jamaah “teori konspirasi” dibawa pada penarikan kesimpulan yang keliru tentang fenomena yang terjadi. Mereka diarahkan pada pemahaman bahwa dunia sedang tidak bekerja dengan “normal” karena disebabkan adanya individu ataupun kelompok “jahat” yang berambisi mencapai “tujuan” tertentu.

Conspiratoral mindset yang seperti itu secara sederhana menunjukan ketidakmampuannya untuk memahami kehidupan materiil secara ilmiah tentang pola hubungan sosial. Lebih jauh, mempertontonkan kekonyolan atas klaim empirisme vulgar dengan keterbelakangannya. Mereka, selama berpegang teguh terhadapnya, tidak akan pernah dapat menjelaskan sejarah perkembangan manusia secara ilmiah, terlebih mengungkapkan misteri eksploitasi modern.

Memang, di dalam “teori konspirasi” menaruh perhatian pada sejarah manusia yang mana “minoritas jahat” berusaha, dan berhasil mengeksploitasi “mayoritas yang tertindas”. Akan tetapi ia tidak dapat melihat peran “sistemik” yang menjadi kunci berhasilnya eksploitasi. Alih-alih mencari tahu, mayoritas penganut konten konspirasi justru membuang kecurigaan atasnya.

Hal itu berbeda ketika kita mengambil Marxisme sebagai alat untuk menganalisis fenomena yang terjadi. Kritik ekonomi politik menjelaskan dengan gamblang secara ilmiah—tanpa drama sekelompok “pria dan wanita berjubah”—tentang bagaimana misteri eksploitasi modern dilakukan melalui teori nilai-lebih.

Lebih lanjut, dengan menaruh perhatian pada konsepsi materialisme tentang sejarah, maka pemahaman akan adanya semata-mata individu atau kelompok yang sukses melampaui batas-batas individualitasnya otomatis luluh lantak. Karena bagaimanapun, posisi dalam kelas pada sistem tertentu yang mengkehendaki “pembagian kelas” dan berjalannya sebuah opresi yang pada akhirnya menentukan kecenderungan keberhasilan individu/kelompok untuk menarik perhatian dunia.

Sumber: http://euromaidanpress.com/

Ekspresi tersebut tidak berarti merupakan penolakan atas berbagai persekutuan yang pernah terjadi di antara “kaum kapitalis”—misalnya peristiwa 1965, “Operasi Jakarta”, kudeta Evo Morales, dan seterusnya. Akan tetapi lebih menaruh perhatian pada bagaimana sistem ekonomi politik bekerja dan bersamaan dengannya menentukan tingkat kesuksesan sebuah “aktivitas”.

Pada periode kapitalis sendiri, bahkan yang paling rendah sekalipun, terdapat berbagai perangkat untuk menunjang keberlangsungan kehidupan sistem kapitalisme. Mulai dari aparatur materiil hingga gagasan/pikiran yang dengannya berperan sebagai hegemoni. Manifesto Partai Komunis berbunyi; “Ide-ide yang menguasai dalam tiap-tiap zaman adalah senantiasa ide-ide kelas yang berkuasa.”[8] Dari sinilah kita dapat melihat kenyataan berbanding lurus dengannya dan seolah-olah berjalan di atas persekongkolan manusia. Fakta materiil menunjukkan di mana media-media borjuis, institusi pendidikan, agama, dst., tidak lebih dari instrumen untuk mengontrol kehidupan sosial.

Mengambil perhatian atasnya, yakni analisis terhadap elemen yang menjadi penentu terakhir di dalam sejarah manusia, yaitu produksi reproduksi kehidupan materiil. Di mana kekuatan produktif dan relasi hubungan produksi beroperasi, membawa analisis ekonomi politik pada metode perlawanan yang sepenuhnya akurat. Dengan “mengesampingkan” penilaian subjektif yang berdasar pada moralitas vulgar, Marxisme memperkenalkan metode perlawanan untuk mendobrak relasi sosial yang senantiasa hadir pada sistem yang menunjang ekploitasi—dan dengannya secara organik membawa pada penumbangan sistem tersebut. Metode perlawanan ini disebut dengan Perjuangan Kelas, yang mana menaruh perhatian dan meletakkan peran penting bagi kelas “tereksploitasi” yaitu para buruh atas tugasnya di dalam sejarah. Inilah yang tidak dapat dicapai oleh “teori konspirasi” ataupun beberapa teori lainnya yang paling radikal sekalipun.[9]

“Teori konspirasi” justru gagal dengan secara yakin mengelompokan segelintir bagian dari kelas kapitalis atas bagian kelas kapitalis lainnya. Atau bahkan yang paling mutakhir, menganggap hal tersebut semata-mata kebejatan moral individu yang membawa pada keserakahan, sehingga menyarankan pertaubatan individual.
∗∗∗

Hari ini, kita melihat bagaimana para borjuis radikal berdebat tentang “teori konspirasi”. Akan tetapi hal tersebut bahkan tidak dapat menjadi sebuah ancaman yang serius bagi kapitalisme atau justru memperburuknya. Alih-alih untuk bisa sampai ke sana, untuk dapat mengatasi pandemi Covid-19 pun ia tak dapat digunakan. Lebih lanjut, betapapun heroiknya kita kelak mampu mengalahkan pandemi ini, kemungkinan kita berjumpa dengan pandemi, bencana, dan berbagai krisis lainnya yang lebih besar adalah niscaya selama sistem yang memproduksi krisis ini tidak ditumbangkan bersama dengan krisis itu sendiri.

Dengan demikian, perjuangan untuk mengakhiri krisis dan sistem yang memproduksinya, harus dimulai dengan perjuangan menyiapkan syarat-syarat material untuk tumbuh dan berkembangnya sistem pasca kapitalisme atau yang kita sebut dengan sosialisme/komunisme. Dan, perjuangan-perjuangan tersebut, salah satunya dan yang pokok adalah dengan menyingkirkan pengetahuan yang keliru, menggantinya dengan pengetahuan; sebagai senjata ideologis yang dapat berguna bagi perjuangan kelas buruh. Melalui Kritik Ekonomi Politik ia dapat dicapai, yakni pengetahuan untuk menganalisis secara konsisten dan radikal agar memahami hukum gerak mode produksi kapitalis dalam keterkaitan historisnya serta keniscayaannya dalam sebuah epos sejarah tertentu, dan memahami karakter esensial dari sistem kapitalis yang diungkap melalui penemuan teori nilai-lebih.[10]


“[...]
Lenjapkan adat dan paham tua,
kita rakjat sadar-sadar.
Dunia sudah berganti rupa,
untuk kemenangan kita.
[...]”

—Internasionale [Terjemahan oleh Ki Hajar Dewantara]




Catatan-catatan
  1. Lihat Parker, Ben. 2020. “How a tech NGO got sucked into a COVID-19 conspiracy theory”. The New Humanitarian. https://www.thenewhumanitarian.org/news/2020/04/15/id2020-coronavirus-vaccine-misinformation (diakses 17 April 2020). Lihat juga Thomas, Elise. 2020. “As the Coronavirus Spreads, Conspiracy Theories Are Going Viral Too”. Foreign Policy. https://foreignpolicy.com/2020/04/14/as-the-coronavirus-spreads-conspiracy-theories-are-going-viral-too/ (diakses 17 April 2020).
  2. Setelah beberapa waktu yang lalu beberapa media Amerisa Serikat (AS) mengklaim dapat menunjukkan informasi terkait konspirasi bahwa pandemi ini adalah senjata biologis pemerintah Tiongkok. Baru-baru ini di Tiongkok justru tersebar kabar sebaliknya, bahwa Covid-19 terbaru berasal dari AS. Lihat. Chunshan, Mu. 2020. “On China, COVID-19, and Conspiracy Theories”. The Diplomat. https://thediplomat.com/2020/03/on-china-covid-19-and-conspiracy-theories/ (diakses 1 April 2020).
  3. Konten konspirasi setidaknya tercatat telah mengalami dua lonjakan penting; pertama, terjadi pada puncak Revolusi Industri kedua, atau sebelum tahun 1900. Pada periode ini industri-industri mulai bangkit dan berkembang dengan masif, sehingga ia menjadi salah satu resep mujarab untuk menyusun “teori” ini. Lonjakan kedua, terjadi pada periode awal Perang Dingin (akhir 1940an – awal 1950an) yang mana lebih menaruh perhatian pada kelompok ataupun lembaga yang berhubungan dengan komunisme. Lihat Van Prooijen, Jan-Willem., dan Karen M Douglas. 2017. “Conspiracy theories as part of history: The role of societal crisis situations”. Memory Studies, 10(3), 323–333. https://journals.sagepub.com/doi/pdf/10.1177/1750698017701615 (diakses 17 April 2020).
  4. Lihat Bligh, Annabel. 2020. “A short history of conspiracy theories – listen to part three of our expert guide”. The Conversation. https://theconversation.com/a-short-history-of-conspiracy-theories-listen-to-part-three-of-our-expert-guide-134305 (diakses 13 April 2020).
  5. Lihat Irfani, Faisal. 2020. “Rotary Club di Antara Aksi Kemanusiaan dan Tuduhan Organisasi Sesat”. Tirto.id. https://tirto.id/rotary-club-di-antara-aksi-kemanusiaan-dan-tuduhan-organisasi-sesat-eAB8 (diakses 10 April 2020).
  6. Lihat Damarjadi, Danu. 2019. “Grafiti-grafiti Teori Konspirasi Yahudi dan 9/11 Muncul di London”. DetikNews. https://news.detik.com/internasional/d-4839606/grafiti-grafiti-teori-konspirasi-yahudi-dan-911-muncul-di-london/1 (diakses 13 April 2020).
  7. Jan-Willem. Op.cit., hal. 324.
  8. Marx, Karl., dan Frederick Engels. 1998. “The Communist Manifesto”. New York: Monthly Review Press., hal. 37.
  9. Para pengkritik “perjuangan kelas” lebih banyak tidak mampu melihat dan membedakan antara parasitisme sosial dan eksploitasi kelas. Sehingga mereka beranggapan bahwa “perjuangan kelas” hanya akan membawa pada penindasan terhadap kelas yang “digulingkan” dan membentuk kelas penindas baru atau sejenisnya.
  10. Lihat Engels, Frederick. 2016. “Sosialisme Utopis dan Sosialisme Ilmiah”. Terjemahan: Ted Sprague. Marxists Internet Archives. https://www.marxists.org/indonesia/archive/marx-engels/1880/utopi-ilmu/index.htm (diakses 1 April 2020).


Posting Komentar

0 Komentar