Analisis Kelas Weberian: Contoh Implementasi Metode pada PHP dan Kritik Atasnya


Gambar: pinterest.com

Kelas, dianggap sebagai salah satu konsep dasar dalam kajian di bidang SOSHUM ketika kita ingin memahami tentang kondisi sosial, ekonomi dan politik. Berhubungan dengannya secara tiba-tiba saya mengambil contoh dalam konteks hari ini, yaitu ketika seorang programmer hendak mendeploy sebuah aplikasi, maka ia harus cerdas dalam menentukan ‘kelas mana’ yang akan menggunakan aplikasi tersebut. Lebih luas, ketika suatu infrastruktur akan dibangun—misalkan alat transportasi umum, jalan tol, taman, dan sebagainya—maka perlu dilihat siapa yang akan menggunakannya. Dari sinilah konsep analisis kelas weberian cukup berguna untuk tujuan mengeksploitasi pasar, mengambil dayagunanya dan meraih keuntungan darinya—dari pertukaran yang terjadi dipasar.

M. Rahmat Hidayatulloh merupakan sarjana jurusan Teknik Informatika di Universitas Muhammadiyah Malang.
Sebelum kita masuk ke analisis kelas weberian dengan model yang saya formulasikan yang, diturunkan dari konsep kelas weberian. Perlu diketahui juga, bahwa analisis kelas sendiri memiliki berbagai model kelas dalam kajian ilmiah. Dan, model-model tersebut, sampai hari ini, telah menjadi perdebatan yang sangat tajam di kalangan akademisi, hingga para aktivis; khususnya terkait konseptualisasi kelas dan keterkaitannya dengan dimensi kekuasaan. Yang saya maksudkan adalah bahwa mungkin sedikit berlebihan untuk mengatakan; ada teori kelas yang hampir sama banyaknya dengan analis kelas dalam mengamati fenomena sosial.

Lantas, kenapa kita mengambil (membahas bagian dari) analisis kelas weberian?

Tulisan ini sebenarnya terinspirasi dari Tugas Akhir yang telah saya kerjakan. Yang pada satu hari, saya dipaksa untuk menyanjung kekurangan-kekurangan model kelas weberian di mimbar akademik. Yakni ketika model kelas marxian yang saya ajukan, ditolak hanya karena menyertakan referensi laporan riset kelas yang pernah dilakukan oleh Barisan Tani Indonesia—Kaum Tani Mengganyang Setan-Setan Desa. Akhirnya, setelah sedikit berdebat dan mulai menghadapi alasan-alasan non-ilmiah, saya kemudian menuruti maksud para penguji di sidang akademik yang disebut-sebut agung itu. Tentunya dengan ‘niat baik’ yang sudah saya rencanakan. Yaitu menelanjangi konsep analisis kelas weberian secara objektif dan menunjukkan bukti bahwa ia tidak relevan jika hanya berdiri sendiri. Dari situ, saya rasa sedikit tujuan tersebut juga yang mendasari saya menuliskannya di halaman ini.
∗∗∗

Berikut secara ringkas saya akan menjabarkan hasil formulasi analisis kelas yang saya turunkan dari konsep dasar dalam analisis kelas weberian.

Pertama-tama saya menaruh perhatian pada metode yang digunakan untuk melakukan analisis kelas. Yakni berdasarkan teori kelas weberian, kemudian menurunkannya dan melihat kriteria yang menjadi fokus dan parameter dalam analisis kelas, dan yang terakhir adalah hasil darinya; yaitu penjabaran posisi kelas. Terkait ini, saya sedikit menulis di sini; bahwa model kelas weberian—hasilnya—sebagaimana biasa kita temui dalam data lembaga profit hingga pemerintahan seperti di Badan Pusan Statistik (BPS). Yakni kita mendapati model kelas sederhana yang membagi kelas menjadi kelas menengah, atas dan bawah.

Kemudian sebagaimana saya singgung di bagian awal, bahwa konsep kelas weberian cenderung menempatkan arena pertarungan kelas pada pasar (distribusi) dan, menaruh perhatian pada pendapatan yang, dalam bidang sosial, variabel tersebut dianggap sebagai status untuk menentukan kesempatan hidup yang diterima.

Saya selanjutnya mengambil variabel kebutuhan, mengingat bahwa unit yang menjadi fokus analisis adalah individu. Ini tentu tidak terlepas dari konseptualisasi kelas dalam mazhab weberian (menganggap kelas sebagai agregasi individu-individu). Dari sinilah, saya mendapatkan 3 varibel terkait kebutuhan individu, yakni; x mewakili kebutuhan biologis (makan, tempat tinggal, pakaian, dsj.), y kebutuhan psikologis (sekolah, rekreasi, ibadah, dsj), dan z yang merupakan alokasi penunjang kedua kebutuhan tersebut atau biasa kita sebut kebutuhan tak terduga (kebutuhan di luar rencana/kebiasaan). Dengan demikian, secara sederhana saya merumuskan formula untuk mengetahui nilai material suatu subjek, yakni sebuah nilai yang menghimpun beberapa informasi yang dimiliki satu subjek terkait.



Keterangan:
=Nilai meterial satu subjek
=Pendapatan
=Kebutuhan biologis
=Kebutuhan psikologis
=Penunjang

Selanjutnya untuk melakukan kategorisasi kelas, kita memerlukan threshold atau nilai ambang batas. Yakni sebuah nilai di mana sesuatu akan berangkat, akan terjadi, akan berhenti dan menjadi benar. Formulasi umum yang saya dapatkan, dinyatakan dalam formula berikut:



Keterangan:
=Threshold
=Konstanta


Untuk dapat melakukan pemrosesan data, dalam hal ini kualifikasi kelas, saya mengambil data nilai yang paling umum digunakan di berbagai negara yang menerapkan sistem kapitalisme liberalisasi pasar. Sehingga darinya, kita dapat menurunkan threshold.




Dengan demikian kita telah memiliki sejumlah formula yang darinya, berdasarkan fungsinya, menjadi algoritma sebagai berikut:

Kategori 1:
if


Kategori 2:
if


Kategori 3:
if


Dari algoritma yang telah disusun tersebut, kita dapat mengimplementasikannya menjadi sebuah program. Dari sini, sebagai contoh, saya menerapkannya pada Pemrograman Web dengan memanfaatkan bahasa PHP untuk mengeksekusi algoritmanya. Secara sederhana, saya menggunakan konstruksi if-else untuk fungsi utamanya. Sehingga disusun kode program (coding) seperti berikut:



Berdasarkan sourcode di atas, alur eksekusi program (aliran kontrol atau flow graph) yang menggambarkan kondisi yang terjadi dan tindakan yang akan diambil oleh algoritma, ditunjukkan oleh gambar di bawah ini.

Gambar: Analisis kode program untuk meberikan koordinat pada flow graph


Gambar: Flow graph


Dan secara eksplisit, setelah data dimasukkan dan diproses, hasilnya adalah kategorisasi kelas berdasarkan threshold yang telah ditentukan. Yaitu kategorisasi kelas dengan kategori kelas menengah sebagai acuan—jika lebih besar darinya, ia terkategorikan kelas atas dan sebaliknya. Dari sini, ada berbagai kelemahan yang sedikit akan kita uraikan di sini terkait konsep analisis kelas weberian.

Pertama-tama kita mengambil perhatian pada konsep kelas weberian, yaitu pada metode pembagian kelasnya yang dapat dilakukan secara semena-mena dan, ini berkaitan dengan salah satu acuan pembagian kelas. Pada contoh ini saya mengambil rekomendasi dari Asian Development Bank untuk menentukan standar kebutuhan (pengeluaran). Namun, standar tersebut tidaklah persis pada kenyataanya. Sehingga misalkan, sejumlah tertentu dianggap sebagai standar di wilayah A, akan tetapi ia, sejumlah tertentu tersebut, belum pasti sebagai standar di wilayah B.

Selanjutnya jika kita telah menentukan threshold, misalkan nilainya P, maka jika nilai R kurang dari nilai P, maka ia terkategorikan kelas bawah. Sementara jika nilai R lebih besar dari nilai P, maka ia terkategorikan kelas atas. Persoalan yang muncul adalah bagaimana jika rentang nilai R yang lebih besar dari nilai P adalah sangat besar? Mungkin kita bisa mengabaikan dengan secara paksa menutup mata terhadap kemungkinan nilai R adalah 0, tapi fakta di lapangan mengatakan jika kemungkinan nilai R minus (-) adalah sangat mungkin. Sementara nilai R jauh berjuta kali lipat di atas P juga sebuah kenyataan, lantas apakah kita akan tetap mengkategorisasikannya sebagai kelas atas pun dengan kelas bawah jika mendapati data sebagaimana tersebut? Dari sinilah berbagai peneliti cenderung secara semena-mena membuat kategori kelas. Sehingga tidak jarang kita menemui kategori kelas yang bahkan bisa sampai 12 kategori, bahkan lebih (misalkan kelas menengah, kelas menengah tengah atas, kelas menengah atas, kelas atas, kelas atas atas, dan seterusnya).

Kemudian untuk mengetahui batas yang dapat diakomodir oleh konsep kelas weberian, kita memiliki 3 pertanyaan yang seluruhnya memiliki jawaban “kelas”.

Pertama, bagaimana seseorang menempatkan diri mereka dalam struktur sosial ketidaksetaraan?

Jawaban untuk pertanyaan tersebut menempat konsep kelas yang darinya terdapat dimensi pengertian bahwa kelas merupakan “kategori sosial yang berbagi seperangkat atribut yang dominan secara subjektif dalam sistem stratifikasi”. Pada bagian ini konsep weberian hampir mampu mengakomodirnya.

Kedua, apa yang menjelaskan ketidaksetaraan dalam peluang hidup dan standar hidup yang ditentukan secara ekonomi?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, konsep kelas biasanya tidak mengambil pengertian atas definisi kepemilikan atribut subjektifitas penting dari lokasi sosial (atribut yang secara subjektif dari keberadaan sosial), melainkan oleh hubungan orang dengan sumberdaya atau aset yang menghasilkan pendapatan dari berbagai jenis. Di bagian ini konsep weberian agaknya mulai kehilangan tempatnya yang terbaik untuk dapat menjelaskan hal tersebut.

Ketiga, perjuangan seperti apa yang berpotensi mengubah ekonomi kapitalis ke arah emansipatoris?

Pertanyaan ketiga tersebut khas marxian, dan ini yang sepenuhnya gagal diakomodasi oleh konsep kelas weberian. Sementara itu, alih-alih mencari jawaban untuk pertanyaan kedua, konsep weberian justru menutup mata dan melihat pada hasil akhir (pendapatan) yang mempengaruhi peluang/standar hidup. Sedangkan fakta lapangan menunjukan bahwa satu waktu seseorang mendapati pendapatannya melonjak, misalkan karena warisan, menang kuis, dsb., dan suatu waktu seseorang benar-benar kehilangan pendapatan. Dengan begitu konsep kelas weberian tidak akan sampai pada pertanyaan ketiga, karena ia melihat arena pertarungan kelas terjadi pada pasar (distribusi), berarti juga, kembali, ia menutup mata akan terjadinya proses produksi yang mana proses tersebut posisi kelas juga cenderung menentukan dan saling menjatuhkan. Yang lebih sembrono adalah melihat relasi antar kelas sebagai kompetisi semata, konsep weberian tidak memahami bahwa antar kelas memiliki kepentingan yang berbeda dengan sifatnya yang antagonistik. Dan, ini semua, tentunya, merupakan pengaruh atas apa yang menjadi perhatian bagi konsep kelas weberian: distribusi.
∗∗∗


Apa yang selanjutnya dapat kita ambil sebagai kesimpulan adalah, salah satunya, bahwa usaha yang dilakukan melalui metode analisis kelas weberian menjadi tidak berarti. Ia gagal mengakomodir tuntutan untuk merubah kondisi dan sepenuhnya keliru dalam melihat serta memahami fakta yang terjadi. Dengan demikian, paling baik metode ini hanya dapat menambah penyebab reaksi bukan untuk menyelesaikannya.




Bacaan penunjang:

  • Marshall, Gordon, dkk. 2005. “Social Class in Modern Britain”. London: Routledge. 
  • Olin, Wright Erik. 1999. “Foundations of Class Analysis: A Marxist Perspective”. Chicago: American Sosiological Assosiation. 
  • N., Edward Wolff dan Ajit Zacharias. 2007. “Class Structure and Economic Inequality”. New York: Levy Economics Institute of Bard Collage. 487: 1-42. 
  • Habibi, Muhtar. 2019. “Menelaah Lebih Jauh Transisi Agraria”. Prisma. 38(3). 
  • Asian Development Bank. 2010. “Key Indicators for Asia and the Pacific 2010”. Manila: Asian Development Bank. 
  • Solichin, Achmad. 2009. “Pemrograman Web dengan PHP dan MySQL”. Jakarta: Univetsitas Budi Luhur. 
  • Air Putih. 2014. “Modul Panduan Framework CodeIgniter (CI)”. Jakarta: Perkumpulan Air Putih.


Catatan: sourcode program, dapat diakses pada akun GitHub kami.


Posting Komentar

0 Komentar