Sosialisme dan Humanisme

Mosaics in the Uzbek city of Bukhara // Sumber: https://www.theguardian.com/

Oleh: William F. Warde – nama samaran dari George Novack. Pada Musim Semi 1959.*


Munculnya kecenderungan di kalangan para pemikir di Zona Soviet untuk menempatkan manusia di atas kesuksesan materiil, [telah] memberikan tantangan bagi kaum Marxis dalam perjuangan mereka demi Humanisme sosialis


George Novack lahir di Boston, Massachusetts pada 5 Agustus 1905 dan meninggal di New York, AS pada 30 Juli 1992. Ia merupakan seorang intelektual Marxis, penulis dan editor. Ia juga merupakan salah satu pemimpin –anggota Komite Nasional –Partai Pekerja Sosialis Amerika (American Sosialist Worker Party –SWP). // gambar: George Novack Internet Archive

Sejak kematian Stalin, para intelektual pemberontak di Uni Soviet telah melakukan perang gerilya melawan birokrasi atas nama Humanisme. The Thaw-nya Ehrenburg memberikan sinyal atas serangan mereka. Novel pendek ini menggambarkan kemunafikan rezim di mana slogan-slogan yang bersuara bertentangan dengan realitas yang menyedihkan, di mana lickspittle[1] makmur sementara orang yang memiliki kredibilitas serta bakat sesungguhnya justru dibungkam, dan kesucian hak asasi manusia diproklamasikan dengan keras tetapi sangat direpresi. Tema serupa dikembangkan di Not By Bread Alone-nya Dudintsev.

Fitnah Boris Pasternak atas penghargaan Hadiah Nobel telah menyebabkan friksi antara pihak berwenang dan penulis non-konformis ke puncak yang lebih sengit. Patut dicatat bahwa banyak penulis Soviet terkemuka yang belum bergabung dengan perlawanan dan protes publik[2].

Pasternak menentang Humanisme semi-Kristen yang menyerupai “Marxisme-Leninisme” yang dipaksakan secara resmi yang mana telah memberikan pukulan ke wajahnya. Melalui tokoh utama dalam novelnya yang terlarang, Doctor Zhivago, dia mengeluh bahwa idealisme Revolusi Rusia yang dulu sangat tinggi telah merosot menjadi materialisme kasar, dicemooh oleh para self-seeker[3], dan berakhir dengan hilangnya kebebasan.

“Sebagian besar dari kita,” tulisnya, “diharuskan menjalani kehidupan munafik yang sistematis dan konstan. Kesehatan Anda pasti akan terpengaruh, jika hari demi hari, Anda mengatakan kebalikan dari apa yang Anda rasakan, jika Anda merendahkan diri di hadapan apa yang tidak Anda sukai dan bersukacita atas apa yang tidak membawa apa-apa selain kemalangan ...”

Apa pun kelebihan sastra dari Dokter Zhivago dan meskipun keterlibatannya sebagai shuttlecock[4] dalam perang dingin, ia memiliki arti penting sebagai kesaksian sosiologis. Pasternak adalah salah satu penulis Rusia yang paling populer dan dihormati. Dia hidup di antara elemen masyarakat Soviet yang lebih diistimewakan. Jika dia dapat menyuarakan kepahitan yang demikian selama empat puluh tahun setelah Revolusi Oktober 1917, maka kita berhak bertanya: apa yang pasti dirasakan oleh orang-orang yang tidak beruntung?

Memang, para penulis, jurnalis, kritikus dan ekonom yang telah mengangkat panji-panji Humanisme Sosialis di seluruh zona Soviet berbicara untuk orang lain di samping mereka. Mereka mengartikulasikan kebencian rakyat terhadap kemarahan Stalinisme. Dalam karya-karya mereka, sastra sekali lagi menjadi, seperti di Rusia-nya Tsar abad ke-19, kendaraan utama protes sosial dan meningkatnya oposisi dari berbagai sumber terhadap otokrasi di teluk[5].

Humanisme baru ini, yang bermunculan seperti rumput hijau di celah-celah trotoar batu, merupakan fenomena atas berbagai aspek. Ia menjalankan keseluruhan masalah sosial dari hukum dan etika ke ekonomi dan sejarah. Ia menimbulkan dengan tajam pertanyaan pada bidang moral. Ia membela kebenaran melawan penipuan resmi; untuk kepercayaan di antara orang-orang bukannya sebagai mata-mata dan talebearing[6] yang [kerjanya] dimulai di sekolah, merayap menembus semua lembaga sosial, dan mengakhirinya di dokumen polisi rahasia. Ia menjunjung tinggi kebanggaan dan martabat individu terhadap penghinaan diri di hadapan para pemegang kekuasaan. Ia berbicara untuk kebebasan sebagai pengganti kepatuhan; untuk keadilan dan legalitas terhadap pelanggaran sinis terhadap legalitas dan keadilan; untuk penilaian independen dan kritis alih-alih sesuai dengan keputusan dari atas. Ia menolak standar perilaku ganda: satu untuk pertunjukan publik, yang lain untuk kehidupan pribadi; satu untuk negara, lainnya untuk individu; satu untuk para penguasa, yang lain untuk yang diperintah. Ia meminta agar cara-cara itu sesuai dengan tujuan sosial yang diproyeksikan: "Suatu tujuan yang benar harus diperjuangkan dengan cara yang benar."

Para penulis ingin membuang baju pengekang dari "Realisme Sosialis" yang memaksa mereka untuk menulis, bukan karena mereka menginginkannya dan mempercayainya, tetapi karena selama ini seni mereka didikte secara brutal oleh pengawas dungu. Pengekangan yang telah terjadi menangkis dan menghilangkan sumber penciptaan artistik pada asalnya, perkataannya, dan menjadikannya inspirasi produksi yang tidak tulus, tanpa bakat, tanpa minat, dan tidak realistis karena mengubah fakta nyata kehidupan sehari-hari.

Jangan terus-menerus memberi tahu kami bahwa semuanya telah berubah menjadi lebih baik ketika kita semua tahu bahwa kenyataanya tidak demikian, teriak Adam Wazyk dalam Poem for Adults (Puisi Orang Dewasa) yang terkenal, yang muncul dalam mingguan Polandia Nova Cultura, 21 Agustus 1956. Ini adalah bait kunci:

Fourier, si pemimpi, dengan apik
menubuatkan
bahwa limun akan mengalir di laut.
Apa ia tidak mengalir?
Mereka minum air laut,
meratap:
"limun!"
pulang ke rumah secara diam-diam
untuk muntah.

Pada musim panas 1946, penyair komunis Hongaria Gyula Hay menulis sebuah manifesto, berjudul One Sentence on Tyranny (Satu Kalimat pada Tirani), yang memicu kemarahan para penulis paling paling sensitif terhadap pemerkosaan nurani artistik mereka. Berapa banyak kebebasan yang harus diizinkan untuk menjadi seniman kreatif? Dia bertanya.

“Sepatutnya hak prerogatif penulis untuk mengatakan yang sebenarnya. Untuk mengkritik siapa pun dan apa pun. Untuk bersedih. Untuk jatuh cinta. Untuk memikirkan kematian. Tidak merenungkan apakah cahaya atau bayangan seimbang dalam karyanya. Untuk percaya pada kemahakuasaan Tuhan. Untuk meragukan kebenaran angka-angka tertentu dalam Rencana Lima Tahun. Untuk berpikir secara non-Marxis. Untuk berpikir secara Marxis. Untuk memercayai sesuatu yang tidak adil yang secara resmi dipertahankan tetap adil.”


Memiliki Ikatan dengan Pekerja

Masalahnya adalah, seperti yang diketahui oleh pemerintah Rakosi[7] dengan cepat, bahwa ukuran kebebasan berekspresi yang terbatas tidak dapat diberikan kepada para penulis tanpa menuntut kebebasan yang sama yang timbul dari pelajar, pekerja dan anggota partai Komunis sendiri. Intelektual di blok Soviet memiliki ikatan yang lebih dekat, setidaknya secara teori, dengan kelas pekerja dan tujuan sosialisnya daripada rekan-rekan mereka di negara-negara kapitalis. Beberapa di antaranya adalah putra dan putri pekerja dan petani. Keterkaitan di antara mereka diungkapkan dalam dorongan yang diberikan oleh para intelektual kepada revolusi Polandia dan Hongaria tahun 1956.

Why we need Marxist-Humanism now // Sumber: https://www.plutobooks.com/

Seruan mereka untuk moralitas yang telah direnovasi, untuk perhatian pada "kebenaran, kebebasan dan alasan," secara langsung terkait dengan keinginan massa untuk perbaikan dalam kondisi material mereka dan untuk ikut serta dalam arah ekonomi nasional. Mereka mencerminkan keluhan terhadap kejelasan dan lonjakan ketidaksetaraan ekonomi di antara berbagai kategori masyarakat. Kelompok yang memerintah, yang kesejahteraannya diurus dengan baik, terus memaksakan pengorbanan yang tak tertanggungkan kepada para pekerja atas nama prestasi masa depan dan kepuasan yang tertunda tanpa batas waktu. Humanis menegaskan bahwa rezim pekerja tidak dapat mengabaikan standar hidup produsen terlalu banyak dan terlalu lama dalam mendukung pengembangan industri berat dengan kecepatan sangat tinggi dan tidak sebanding dengan pendapatan dan sumber daya negara.

Garis pemikiran ini jelas memiliki implikasi politik yang serius. Ia mendukung klaim massa terhadap dikte birokrat. Ia membela hak kebangsaan untuk bebas dan mandiri, dan, jika perlu, untuk menolak pengikut kekuasaan asing. Perwakilannya yang paling radikal menekankan perlunya kelas pekerja untuk menjadi yang paling unggul [berkuasa], bukan hanya dalam ritual tetapi dalam kenyataan.

Tidak heran jika pemerintah Moskow, dan replika mereka di Eropa Timur, takut akan suara-suara ini. Majalah teoretis Partai Komunis Uni Soviet, Kommunist (No.5, 1957), mengecam "'reformis' yang baru muncul yang memohon 'reformasi' pada prinsip-prinsip humanis dari struktur sosial yang ada" dan menegaskan bahwa Leninisme "tidak memerlukan semacam ‘humanisasi,' maupun reformasi yang diusulkan oleh para pendukung 'sosialisme humanis'.” Yang pasti, Leninisme sejati tidak membutuhkan humanisasi. Yang dilawan oleh para kritikus Humanis adalah penyelewengan Stalinis terhadap Leninisme.

Tenor ajaran mereka diungkapkan sebagai berikut dalam publikasi Polandia Nova Cultura, 28 April 1957:

“Cita-cita Komunis menuntut pembebasan umat manusia—dan individu dalam kerangka masyarakat—dari keterasingan dalam semua ranah masyarakat. Tujuannya adalah untuk mendapatkan kedaulatan massa yang nyata, untuk menghancurkan pemisahan antara mereka yang dirampas kebebasannya dan kelompok penguasa yang tidak bertanggung jawab kepada rakyat. Gagasan Komunisme, humanisme yang dimasukkan ke dalam kehidupan, adalah universal. Ia lebih tua dari Marxisme, itu adalah warisan zaman.”

Setahun sebelumnya, pada 19 Juni 1956, penulis komunis Hongaria, Tibor Dery, telah menyatakan di pertemuan Klub Petoefi: "Kita telah berjuang untuk banyak hal sehingga kita melupakan hal utama: humanisme." Perjuangan mereka untuk "hal utama" menjerumuskan Dery dan rekan-rekan penulisnya ke pemberontakan Hongaria beberapa bulan kemudian, dan setelah itu, ke penjara-penjara pemerintah Kadar[8].

Evolusi Komunis-Humanis Hongaria menjadi pejuang revolusioner melawan Stalinisme menunjukkan betapa potensi ledakan yang ada dalam kecenderungan ideologis ini. Kritik mereka mengkristal dan menstimulasi meningkatnya sentimen anti-birokrasi di antara massa dan mereka menjadi pewarta intelektual dari demokrasi langsung yang berakar pada kelas pekerja.

Diingatkan oleh pelajaran dari Hongaria dan Polandia, para pemimpin Moskow bergegas untuk mengambil tindakan balasan ketika nada yang sama dibunyikan oleh penulis Soviet. Pada September 1957, Khrushchev memperingatkan para penulis "yang berusaha menggunakan kesalahan masa lalu untuk menentang kepemimpinan sastra dan seni oleh partai dan negara." Meskipun Sekretaris Pertama mengatakan dia untuk "kebebasan karya kreatif," dia mengangkat "pelajaran Hongaria, di mana kontrarevolusi menggunakan beberapa penulis ini untuk tujuan yang kotor dan mengingatkan kita pada apa yang dapat menyebabkan ini." Serangan Dudintsev dan novelnya yang populer ditindaklanjuti setahun kemudian dengan pengusiran Pasternak dari Union of Soviet Writers (Serikat Penulis Soviet).

Keduanya tidak sendirian. Selama beberapa tahun terakhir banyak novel dan cerita pendek telah muncul yang kontras [mempertentangkan] antara perilaku brutal fungsionaris dengan kualitas manusia yang lebih hangat dari segmen lain dari rakyat Soviet dan yang mempertegas jurang pemisah di antara mereka. Light in the Window oleh Yuri Nagibin, mengutip satu contoh, menceritakan tentang direktur rumah peristirahatan yang memiliki apartemen paling mewah, dengan hati-hati dibersihkan [apartemen tersebut—Penj] dan selalu siap untuk bos Partai yang tidak pernah datang. Suatu malam sang perempuan cleaning service memutuskan untuk menghibur keluarganya di tempat suci tersebut. Semuanya berubah ketika direktur mengusir para penyusup itu, dia (direktur) kemudian membaca di mata mereka ketika mereka meninggalkan kebencian mereka untuknya dan untuk semua yang wakilinya.

Gerakan Humanis ini sendiri mengalami pembatasan dan penindasan dari negara polisi yang mencegah para penganjurnya untuk mengatakan secara langsung dan sepenuhnya dari apa yang mereka maksudkan. Mereka harus berbicara dalam istilah dengan berhati-hati dan menyajikan pandangan mereka secara insidentil untuk perlindungan diri. Tetapi, pembaca Soviet yang terbiasa membaca yang tersirat, dapat mengambil dari pengalaman mereka sendiri apa yang disiratkan.

Ada banyak ketidakjelasan dalam kekacauan yang kacau balau ini, terutama pada sisi ideologisnya. Ia diisi dengan perasaan kuat dan ide-ide setengah terbentuk. Juru bicaranya lebih tahu apa yang mengusir mereka daripada bagaimana menyingkirkan kejahatan sosial.

Sebagian besar Humanis Soviet belum sampai pada program yang berhasil atau perspektif yang jelas. Mereka meraba-raba ke arah cahaya setelah berkeliaran dalam kegelapan Stalinis dan tipu muslihat selama bertahun-tahun. Sangat wajar bahwa mereka harus sedikit tergagap sekarang karena lidah mereka dapat mengutarakan beberapa pemikiran dan sentimen nyata mereka setelah keheningan yang lama, bahwa pendekatan pertama mereka terhadap analisis realitas Soviet dan alasan pengembangannya tidak lengkap dan tidak pasti, dan bahwa mereka sering berkelana ke ratapan dan moralisasi para borjuis. Penjelajahan pemikiran yang lebih dalam, pengalaman lebih lanjut dan perluasan perjuangan antara birokrasi dan rakyat, harus kemungkinan yang terbaik di antara mereka untuk mendefinisikan ide-ide mereka dengan lebih jelas dan membawa mereka ke kesimpulan kelas yang benar.

Hatchet men[9] neo-Stalinis telah memanfaatkan beberapa keanehan idealis kaum Humanis untuk mendiskreditkan seluruh gerakan, mengucilkannya, dan menghukum tokoh-tokoh utamanya. Mereka bahkan mengklaim warisan Humanis dari Marxisme karena alasan mereka sendiri dan mengejek pretensi para kritikus Humanis. Perselisihan antara dua kelompok ini di atas mantel Humanisme mungkin tampak seperti perang kata-kata. Sebenarnya ini adalah bagian dari persaingan terus-menerus kekuatan sosial yang berbeda: para pembela dari kerak atas[10] birokrasi di satu sisi, dan juru bicara intelektual untuk ketidakpuasan massa di sisi lain.

Klaim atas hierarki Kremlin sebagai repositori Humanisme sama tidak berdasarnya dengan klaim mereka sebagai penerus Marxisme dan Leninisme. Tidak ada yang sosialistik atau Humanistik dalam penindasan pemberontakan Hongaria dan Dewan Buruhnya. Humanisme Sosialis seharusnya menjadi musuh parasitisme aristokratis dan penyalahgunaan kekuasaan, bukan [sebagai] pelayannya yang patuh. Di mana pun dan kapan pun lawan-lawan Humanis dari birokrasi mengutuk kekejian ini, mereka ada di sebelah kanan.

Ketika pada satu ekstrim, beberapa perwakilan dari kecenderungan ini menolak materialisme yang mendukung nilai-nilai moral absolut, kepercayaan semi-agama atau demokrasi tanpa kelas, mereka melewati batas dan membuatnya berada pada [posisi] salah. Tetapi kesalahan dan keberlebihan ini, yang memerlukan koreksi, tidak boleh dibiarkan menenggelamkan karakter yang pada dasarnya sehat dan progresif dari fenomena budaya ini.

Idealisme kaum Humanis adalah salah satu cara yang, dengannya, kesadaran politik generasi baru pemikir Soviet, para pemimpin massa masa depan, sedang dibentuk. Ia mungkin yang pertama, tetapi itu bukan final, perumusan pandangan-pandangan mereka. Di bawah kondisi-kondisi tertentu, kemarahan moral mereka, betapapun canggung formulasi teoretisnya, jauh lebih berharga daripada “materialisme” palsu, di mana polisi-polisi dari hak istimewa birokrasi dan tirani mencari persembunyian di belakangnya.


Kecenderungan yang Berbeda

Humanis Rusia tidak memiliki pandangan yang seragam. Ada arus yang sangat berbeda di antara mereka yang pada saat ini bersatu dalam oposisi terhadap kekuatan penguasa. Tren-tren ini berkisar dari penolakan total terhadap Marxisme dan Bolshevisme, sebagaimana ditunjukkan dalam novel Pasternak, hingga penegasan kembali posisi-posisi esensial dan tujuan sosialisme revolusioner melawan Stalinisme.

Perpecahan yang serupa ada di antara para intelektual muda Soviet. Karakteristik mereka digambarkan dalam sebuah artikel pada 18-25 Agustus 1958, New Leader (Pemimpin Baru) oleh David Burg, sampai tahun 1957, dia sendiri seorang mahasiswa di USSR. Dia memisahkan anak-anak muda yang memberontak menjadi dua kelompok khas: Neo-Bolshevik dan Anti-Komunis.

Kaum Neo-Bolshevik “sedang mencari 'Marxisme sejati',” Burg menulis.

“Ada nostalgia yang meluas untuk periode pra-Soviet dan untuk tahun-tahun awal periode pasca-Revolusi. Dewasa ini, kaum muda Soviet sering menunjukkan penentangan mereka terhadap rezim dengan mengangkat cermin klasik Marxisme-Leninisme ke realitas kontemporer. Dalam pandangan mereka, pembersihan [cetak miring oleh penerjemah] tahun 1937 melikuidasi para pemimpin sejati Revolusi. Mereka membandingkan Thermidor[11] dengan Oktober ...

“Mereka mengidealkan Revolusi dan menyerukan untuk kembali ke cita-cita asli Leninisme, yang mereka pikir mereka temukan dalam beberapa karya Lenin (State and Revolution [Negara dan Revolusi]). Mereka sering berbicara tentang ‘degenerasi birokrasi’ rezim dan munculnya birokrasi yang berkuasa dan istimewa yang telah melembagakan kediktatoran terhadap rakyat. Mereka yang menganut pandangan ini condong ke tradisi partai revolusioner lama dan menyukai metode radikal pertempuran aktif."

Sementara kaum Neo-Bolshevik merasa bahwa "Barat sendiri telah mencapai kebuntuan moral dan spiritual," kaum Anti-Komunis "menyadari kemajuan ekonomi dan sosial yang besar di Barat dan menganggap eksperimen 'Sosialis' di Rusia sebagai sebuah kegagalan total ... Bagi mereka, [revolusi] Oktober adalah kesalahan besar sejarah yang dengan pasti mengarah pada monopoli-kapitalisme negara."

Kaum Neo-Bolshevik melihat "birokrasi hanya sebagai perkembangan dari tumor yang ganas" yang harus dihapus dengan "teknik pembedahan[12]" di dalam urutannya untuk memungkinkan "kesehatan utama" organisme sosial sehingga dapat "berkembang secara normal." Kaum Anti-Komunis "merasa bahwa birokrasi partai adalah hasil logis dari sistem ... dan mendesak perlunya transformasi radikal dari sistem ekonomi."

Dengan demikian, jalan kaum Neo-Bolshevik mengarah ke tahap yang lebih tinggi dari Revolusi Rusia, yang mana pencapaian sejak 1917 akan diselamatkan dari Stalinisme dan dimahkotai oleh demokrasi pekerja sejati yang dibuat oleh Lenin. Sedangkan kaum Anti-Komunis berbalik ke belakang menuju pemulihan perdagangan bebas yang mungkin akan membuka jalan bagi demokrasi borjuis dari tipe parlementer dan tentunya kebangkitan bentuk dan kekuatan kapitalis.

Ketika perjuangan anti-birokrasi semakin dalam dan meluas, kedua kecenderungan ini, yang berorientasi pada arah yang berbeda, tentunya menjadi lebih dan semakin bertentangan satu sama lain, karena mereka mewujudkan program-program dan perspektif yang tidak sesuai untuk perjalanan ekonomi dan politik lebih lanjut dari masyarakat Soviet. Dalam proses ini, Humanisme yang berfungsi untuk menyaring ide-ide dan kepentingan borjuis kecil yang baru lahir akan menjadi berbeda dari Humanisme revolusioner yang mengekspresikan tujuan materialisme sosialis.

Menjadi jelas, ulasan tentang perkembangan Humanisme ini, serta kontroversi mengenai Humanisme Sosialis baik di negara-negara berbahasa Inggris dan di blok Soviet, lantas, bagaimana seharusnya kita menyimpulkan hubungan antara Humanisme dan Marxisme? Dan apa syarat yang diperlukan untuk Humanisme Sosialis yang asli?

Untuk menjadi seorang Marxis, tidak perlu meninggalkan Humanisme atau warisannya. Tetapi, tentu saja, [adalah] anti-Marxis untuk menyerahkan [miring oleh penerjemah] pandangan revolusioner materialisme dialektik demi merangkul Humanisme. Masalah krusialnya ini adalah: apakah Humanisme merupakan komponen integral dari filsafat materialis yang konsisten atau, apakah materialisme didorong oleh penyakit latennya ke bentuk sosialisme sentimental atau moralisasi?

Humanisme yang seharusnya menjadi bagian dari sosialisme ilmiah harus dipandang sebagai pencapaian serangkaian gerakan intelektual dan sosial yang menjangkau kembali ke peradaban Mediterania sebelum Kekristenan. Humanisme Yunani, Humanisme Renaisans, dan Humanisme revolusioner-demokratik dari era borjuis adalah upaya berturut-turut oleh kekuatan yang tercerahkan di zaman mereka untuk membawa hubungan sosial di bawah kekuasaan akal manusia. Setiap upaya ini membantu mendorong umat manusia melangkah maju. Tetapi mereka semua gagal mencapai tujuan akhir mereka karena hambatan yang tidak dapat diatasi yang timbul dari pengembangan kekuatan produksi yang tidak memadai dan keterbatasan yang dihasilkan dari masyarakat kelas mereka.

Humanis kontemporer yang merendahkan peran teknologi, aktivitas kerja dan faktor material lainnya dalam penyusunan sejarah dan kemajuan hubungan manusia, mengabaikan salah satu fitur yang paling bertahan lama dari pencapaian Humanis. Kaum Humanis yang hebat sejak [masa] masyarakat Yunani adalah pelopor dalam menekankan pentingnya seni, kerajinan, ilmu pengetahuan, dan teknik.

Orang-orang seperti Leonardo da Vinci dan Marcilio Ficino memuliakan kerja manusia dan teknik kerajinan, mengagungkan Archimedes Yunani di atas Plato. Dalam visi Campanella tentang masa depan, City of the Sun[13], semua warga negara diajarkan seni mekanik dan bekerja hanya empat jam sehari untuk memenuhi kebutuhan mereka. Bacon menulis bahwa penemuan seperti mesin percetakan, bubuk mesiu, dan magnet "telah mengubah wajah dan keadaan di seluruh dunia" dan mengusulkan sebuah ensiklopedia seni dan kerajinan sebagai dasar untuk filosofi alam yang sejati. Ini [baru] diwujudkan selama abad kedelapan belas oleh Encyclopedia Diderot dan d'Alembert. Benjamin Franklin kita sendiri, yang bereksperimen dengan listrik dan penemu tungku Franklin, mengorganisasi American Philosophical Society pada 1744 untuk "mempromosikan pengetahuan yang bermanfaat" dengan mengumpulkan data tentang tanaman, hewan dan mineral dan mendorong penemuan yang dibutuhkan.

Kaum Humanis semacam itu berjuang, masing-masing dengan caranya sendiri, untuk menghubungkan penguasaan alam melalui kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan peningkatan kondisi kehidupan. Gagasan pembebasan yang hebat ini diumumkan oleh Bacon dengan luar biasa dalam uraiannya tentang Rumah Solomon di The New Atlantis (Atlantis Baru):

“Tujuan dari Yayasan kita adalah pengetahuan tentang Penyebab, dan gerakan rahasia berbagai hal; dan memperbesar batas-batas Kerajaan Manusia, untuk membuat akibat segala hal menjadi mungkin.”

Betapapun banyak gerakan-gerakan awal ini berkontribusi pada kemajuan sosial, mereka tidak memiliki kondisi ekonomi dan kekuatan sosial yang diperlukan untuk melakukan “perluasan batas-batas Kerajaan Manusia” atas alam dan sistem sosial. Tetapi mereka meninggalkan warisan mereka sebagai prospek optimis bahwa melalui upaya kolektif mereka, dibantu oleh sains dan teknik, manusia dapat memperoleh kekuatan yang cukup dari alam untuk mengubah hidup mereka dan mewujudkan cita-cita tertinggi mereka.

Sosialisme ilmiah secara sadar mengambil alih tujuan dari menaklukkan alam, menciptakan hubungan yang masuk akal di antara manusia, dan menyempurnakan kepribadian manusia yang telah diproyeksikan oleh Humanisme. Itu dilakukan untuk menunjukkan, pertama dalam teori dan kemudian dalam praktek, bagaimana janji-janji Humanisme ini dapat diwujudkan. Berasal dari sains, teknik, dan potensi produktif besar dari industri skala besar yang dikembangkan di bawah kapitalisme, kelas pekerja modern akan memenangkan supremasi politik, memusatkan alat-alat produksi di bawah kepemilikan dan kontrol kolektif, dan membentuk kembali tatanan sosial dari bawah ke atas secara terencana dan rasional.

Humanisme Sosialis bersandar pada proposisi berikut:

  1. Kepemilikan kapitalis atas fasilitas produksi adalah hambatan utama bagi pengembangan sarana untuk mencapai keamanan ekonomi, solidaritas sosial, dan kebahagiaan manusia.
  2. Kelas pekerja industri adalah satu-satunya kekuatan sosial yang, berdasarkan posisi dan fungsi ekonominya, sangat berkepentingan dan secara konsisten didorong untuk melampaui kapitalisme.
  3. Kekuasaan dan properti kapitalis hanya dapat dihapuskan dengan membawa perjuangan massa melawan para pembela mereka dan para parasitnya hingga pada kesimpulannya di setiap negara dan pada skala dunia.
  4. Jalan menuju masyarakat yang harmonis dan tanpa kelas harus melewati gerbang revolusi sosialis dunia untuk menghilangkan akar penyebab konflik antara satu bagian manusia dan lainnya.

Program dan pandangan kelas revolusioner ini dengan tegas memisahkan Marxisme dari semua jenis Humanisme borjuis yang terkait dengan liberalisme, progresivisme, dan reformisme.

Sejak kebangkitan Stalinisme, Marxisme telah menambahkan proposisi lain. Ia mengajarkan bahwa para pekerja tidak mengusir kaum kapitalis dari belakang mereka sehingga setiap penguasa baru dalam bentuk birokrat yang kurang ajar dapat mengambil tempat mereka. Ia menuntut pemerintahan sendiri yang demokratis oleh pekerja dan kontrol yang ketat atas semua pelayan negara mereka sampai pejabat profesional seperti itu, dan negara itu sendiri, tidak lagi diperlukan. Demokratisme revolusioner ini mempertentangkan Humanisme Sosialis yang asli dengan tiruan Stalinisnya.


Persatuan Umat Manusia[14]

Persatuan umat manusia adalah mimpi kuno. Kaum Kristen berkhotbah bahwa itu akan datang melalui Kebapaan Allah dan mediasi Putra Tunggal-Nya. Eropa feodal memproklamasikannya melalui One Universal Catholic Church. Pemberontak borjuis bercita-cita untuk mencapainya dengan menggulingkan institusi dan kebiasaan pra-kapitalis.

Para Ekonom dari Sekolah Manchester pada abad ke-19 membayangkan pendekatannya yang lebih sederhana melalui perluasan perdagangan bebas di pasar dunia. Kaum liberal dan humanis abad ke-20 berharap itu akan datang melalui Liga Bangsa-Bangsa dan sekarang Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kaum Stalinis menyatakan bahwa hal itu hanya dapat dipromosikan dengan menerima "peran kepemimpinan Uni Soviet" yang berarti, pada dasarnya, bersujud sebelum didikte oligarki Kremlin.

Haruskah tujuan itu dilepaskan sebagai ilusi? Tidak, jawab Marxisme, ia bisa dimenangkan. Mengatasi perpecahan dan konflik di antara penduduk di dunia ini tidak lebih utopis daripada penyatuan tiga belas negara bagian Amerika Utara pada abad ke-18. Teknologi modern memungkinkannya; ancaman perang nuklir membuatnya sangat mungkin untuk diperhatikan. Namun, persatuan seperti itu tidak dapat dicapai dengan metode agama, borjuis, reformis, kemanusiaan atau [pun] Stalinis. Seperti halnya dibutuhkan Revolusi Amerika pertama untuk membawa prasyarat guna menggabungkan koloni-koloni, sehingga hanya kesuksesan lanjutan dan penyelesaian revolusi sosialis internasional yang dapat membuka jalan bagi keharmonisan dunia.

Begitu para pekerja berkuasa di negara-negara paling maju, mereka dapat membantu rakyat yang kurang berkembang mengangkat standar kehidupan dan budaya mereka melalui federasi republik sosialis dan rencana ekonomi bersama. Perdamaian dan persaudaraan universal tidak dapat menjadi nyata dan aman kecuali jika tidak ada yang kaya dan miskin di negara mana pun dan tidak ada negara kaya yang menguras darah kehidupan dari yang miskin.

Ini adalah perspektif besar yang dikemukakan oleh Humanisme Sosialis sebagai panduan untuk gerakan di zaman kita sekarang.

Materialisme dialektis memberi ruang lingkup yang sempurna kepada Humanisme karena ia menghilangkan segala sesuatu yang salah dalam ungkapan-ungkapan sebelumnya dan memberikan landasan ilmiah yang kuat pada kecenderungannya yang paling progresif. Mari kita mulai dengan hubungan manusia dengan alam. Beberapa Humanis liberal yang paling tercerahkan tidak terbebas dari obskurantisme atas persoalan mendasar ini. Misalnya, Julian Huxley, eksponen "Humanisme Ilmiah," baru-baru ini menulis sebuah buku Religion Without Revelation (Agama Tanpa Wahyu). Sementara kakek Thomas Huxley membantu melepaskan sains dari cengkeraman agama, keturunannya berusaha menyelamatkan "nilai-nilai" agama melalui interpretasinya tentang Humanisme.

Sosialisme ilmiah, di sisi lain, memberikan formulasi yang paling jelas dan paling konsisten terhadap anti-super-naturalisme dan anti-klerikalisme yang ada dalam Humanisme sejak awal. Marxisme bukanlah agnostik tetapi ateistik tanpa kompromi. Tidak ada sesuatu apapun di luar alam dan manusia. Alam telah menjadi generator umat manusia melalui evolusi organik. Manusia telah menjadi penghasil alam yang dimanusiakan melalui evolusi sosial.

Tuhan tidak menciptakan manusia – atau apa pun. Manusia telah mencipta dan menciptakan kembali dirinya sendiri melalui pengembangan proses kerja. Pada titik-titik tertentu dalam sejarah mereka, imajinasi manusia mengarang kekuatan supernatural dalam citra sosial mereka sendiri untuk mengimbangi kurangnya kekuatan nyata mereka atas alam dan kehidupan sosial. Kemudian, pada tahap yang jauh lebih tinggi dari perkembangan ekonomi mereka, mereka mulai menyingkirkan semua kebutuhan untuk sujud di hadapan hantu ilahi.

Kehidupan akhirat, yang disebut-sebut oleh gereja-gereja, adalah fiksi yang sama berbahayanya dengan preinkarnasi para transmigrasi. Alam semesta material yang menghasilkan, menopang dan menyerap kembali kita adalah satu-satunya dunia nyata. Misi umat manusia adalah untuk terus menyempurnakan kehidupan manusia di platform global ini, untuk memunculkan potensi tak terbatas dari organisme kita dengan mengungkap, menggunakan, dan menguasai kekuatan dan kekayaan dari lingkungan material. Kemampuan kita untuk melakukannya adalah ukuran obyektif dari kemajuan manusia.

Pernyataan Protagoras bahwa "manusia adalah ukuran dari segala sesuatu" terlalu menyapu dan antropomorfis. Tetapi manusia tentu saja merupakan ukuran dari semua nilai. Bagi kaum sosialis, tidak ada kebaikan yang lebih besar daripada pemenuhan kebutuhan umat manusia dalam pendakiannya ke tingkat kehidupan sosial yang lebih tinggi. Segala sesuatu yang lain adalah lebih rendah [subordinat] untuk memenuhi persyaratan kemajuan sosial. Pembantaian dan konsumsi hewan, yang dikutuk oleh beberapa kultus vegetarian, dibenarkan karena hewan adalah bentuk kehidupan yang lebih rendah daripada kita.

Socrates yang humanistik percaya bahwa alam semesta dan bagian-bagiannya telah dibuat sebelumnya agar sesuai dengan kesejahteraan umat manusia. Konsepsi teleologis yang demikian tentang hubungan antara manusia dan alam semesta membuka pintu bagi agama dan [itu] menjijikkan bagi Marxisme. Manusia bukanlah anak ciptaan yang dimanja. Tetapi melalui pengerahan anugerah alaminya dan peningkatan kekuatan sosialnya, ia telah membuktikan bahwa ia dapat membentuk kembali alam secara lebih luas dan menjadikan bagian alam semesta di dalam dominasinya melayani kebutuhannya dan mendukung tujuannya.

Makhluk tertinggi bagi manusia adalah manusia itu sendiri–bukan manusia sebagaimana ia berada pada tahap tertentu, tetapi manusia yang sedang membuat, manusia yang ia bisa dan akan menjadi. Humanisme Sosialis mengakui bahwa esensi dari pencapaian generasi yang lalu sampai sekarang adalah mempersiapkan kondisi untuk membuat manusia bebas. Umat manusia harus merangkak keluar dari keadaan binatang dengan cara biadab sampai akhirnya kita telah mencapai titik di mana cara keberadaan manusia yang sesungguhnya ada dalam pandangan. Penghuni bumi saat ini adalah bahan mentah untuk menghasilkan ras manusia yang otentik.

Itulah sebabnya Marx menandai semua tahap awal organisasi sosial hingga munculnya sosialisme sebagai prasejarah umat manusia. Era sejarah manusia yang khas akan diresmikan hanya dengan terbentuknya kondisi kehidupan manusia–ketika, seperti yang ditulis Trotsky, “pertumbuhan kekayaan sosial yang terus-menerus telah membuat kita para bipedar[15] melupakan sikap kikir kita terhadap setiap menit kerja yang berlebihan, dan ketakutan kita yang memalukan terhadap besarnya [jatah] ransum kita."


Hubungan manusia

Yang tak kalah penting dalam skema humanistik dari hubungan manusia dengan alam adalah masalah hubungan manusia satu sama lain. Meskipun kaum Humanis menganggap diri mereka menguasai dalam masalah kodrat manusia, mereka memiliki konsepsi yang sangat tidak memadai tentang proses pembentukan dan transformasi.

Bagi mereka sejarah telah menjadi hasil tarik ulur antara kebaikan dan keburukan, komponen rasional dan irasional dari sifat manusia.

Ini adalah versi sekuler dari interpretasi Kristen tentang kemanusiaan dan sejarahnya sebagai sebuah pertarungan antara kekuatan ilahi dan iblis. Bagi seorang Humanis konservatif seperti Profesor Irving Babbitt, manusia cenderung pada keburukan dan karenanya kecenderungan alami mereka harus diatasi. Bagi kaum Humanis liberal, manusia tertarik pada kebaikan dan harus didorong untuk menampilkan sisi yang lebih baik dari kodrat mereka.

Impuls manusia itu sendiri tidak berbudi luhur ataupun ganas. Agresivitas yang sama yang mendorong manusia untuk mengubah lingkungan alami mereka dan memerangi kejahatan sosial dapat diarahkan ke saluran yang secara sosial berbahaya dan merusak diri sendiri. Karakteristik dan perilaku masyarakat terutama ditentukan oleh latar sosial mereka dan arah perkembangannya.

Masyarakat bukanlah produk dari sifat manusia, seperti yang diyakini kaum Humanis. Sifat manusia, baik, buruk, atau acuh tak acuh, adalah produk masyarakat. Kualitas manusia tidak dapat berubah selamanya, sama seperti kapasitas potensial mereka yang tidak terbatas. Sifat manusia jauh lebih plastik [mudah dibentuk] daripada kaca, yang dapat mengalir seperti cairan, ditarik ke dalam benang, atau menjadi beku kaku. Sifat manusia, yang dikeraskan menjadi satu cetakan, dapat dihancurkan, dibentuk kembali dan disusun kembali menjadi bentuk yang sangat berbeda, yang bahkan hampir tidak dapat dikenali.

Seluruh panorama evolusi sosial bersaksi tentang plastisitas umat manusia ini. Misalnya, perbedaan antara orang Indian yang menduduki Lower California (California Bawah) beberapa abad yang lalu dan penduduk Los Angeles saat ini. Meskipun secara biologis mereka sama, betapa kesenjangan sosial yang sangat besar memisahkan orang-orang suku liar [primitif-biadab] dari para perwakilan peradaban kapitalis kontemporer!

Kaum primitif memiliki cara hidup, kebiasaan, mental, dan pandangan yang sangat berbeda. Mereka tidak punya rumah; mereka kebanyakan telanjang. Makanan terbatas mereka sebagian besar terdiri dari akar, buah-buahan, binatang buruan, ikan, serangga, dan belatung yang mereka kumpulkan. Kelompok mereka rata-rata sekitar 45 orang.

Mereka hanya kawin dan tidak memiliki kata-kata untuk "pernikahan" ataupun "ayah." Mereka memiliki sedikit harta dan tidak memiliki konsepsi kepemilikan pribadi. Mereka tidak melakukan perdagangan. Sebelum orang kulit putih datang, mereka percaya bahwa distrik kecil tempat mereka tinggal adalah seluruh dunia dan mereka adalah satu-satunya penghuninya.

Bahasa mereka sangat buruk. Mereka tidak bisa menghitung lebih dari enam. Dalam pidato mereka, mereka tidak memiliki istilah berbeda untuk kuning atau merah. “Semua istilah yang berkaitan dengan kehidupan manusia dan sipil yang, rasional, dan banyak kata untuk menandakan benda lain, sepenuhnya hilang ... Kehidupan, kematian, waktu, dingin, panas, hujan, pengertian, keraguan, dll.,” Kata Pastor Baegert, Jesuit Jerman yang tinggal bersama mereka selama tujuh belas tahun.


Perbedaan besar antara organisasi sosial dan sifat manusia dari penduduk asli California Bawah ini dan warga Los Angeles, hanya dapat dijelaskan oleh perbedaan kekuatan produktif di negara bagian masing-masing mereka. Teknologi dan produktivitas yang jauh lebih tinggi dari yang terakhir memungkinkan tahap pengembangan ekonomi dan budaya yang lebih tinggi. Keunikan yang dominan dari sifat manusia dapat, kemudian, dilacak ke penyebab material. Kelemahan dan kekurangan manusia muncul terutama dari kelemahan kekuatan produktif atas kekuasaan mereka, tidak memadainya sarana keberadaan dan perkembangan mereka.

Masyarakat menciptakan manusia seperti apa mereka dan mencegah mereka dari yang sebaliknya. Itulah yang dimaksud Marx ketika dia menulis bahwa tidak ada yang namanya manusia abstrak, atau sifat manusia pada umumnya. Manusia adalah totalitas dari kondisi sosial tertentu yang diperlukan untuk produksi mereka. Dan, ketika kondisi sosial berkembang dari satu tahap perkembangan ekonomi ke tahap lainnya, sifat dan aktivitas manusia berubah bersama mereka.

Tidak ada yang khas Marxis tentang proposisi bahwa manusia pertama kali dibentuk oleh masyarakat dan kemudian diubah oleh kondisi materialnya yang berubah. Kaum materialis abad ke-18 mengajarkan bahwa manusia adalah apa yang diciptakan oleh lingkungan fisik dan sosial mereka dan mereka menyimpulkan bahwa, jika manusia dibentuk oleh keadaan sosial, maka umat manusia dapat ditingkatkan dengan mengubah kondisi sosial tempat mereka tinggal dan bekerja. Marxisme mengambil alih ide-ide ini dari kaum materialis revolusioner di Prancis dan Inggris.

Marxisme juga menegaskan bahwa jika masyarakat membentuk manusia, manusia pada gilirannya dapat membentuk kembali masyarakat melalui upaya kolektif mereka. Gagasan ini juga tidak khas Marxisme. Ini sama tuanya dengan masyarakat Yunani dan telah menginspirasi banyak reformasi dan gerakan revolusioner sejak masa mereka di dunia Barat.

Apa yang khas dari pemikiran Marxis tentang masalah ini adalah cara menggabungkan pemikiran-pemikiran tersebut. Masyarakat membentuk manusia—dan kemudian manusia mengubah hubungan sosial dan diri mereka di dalam proses. Dengan, menambahkan materialis historis, cara manusia berperilaku terhadap satu sama lain dan jenis ikatan yang mereka miliki satu sama lain, ditentukan, baik dalam contoh pertama dan terakhir, oleh kekuatan produktif yang mereka miliki. Dan tingkat di mana mereka dapat mengubah hubungan sosial mereka, dan arah evolusi organisasi sosial mereka, tergantung pada kapasitas sistem produksi mereka.

Kondisi historis material di mana manusia hidup dan bekerja sangat menentukan karena mereka memperbaiki kerangka kerja aksi sosial, baik dalam hal luasnya maupun dalam batas-batasnya, pada waktu tertentu. Adalah mungkin untuk mengatasi kondisi-kondisi ini tetapi tidak mungkin untuk melompat keluar darinya atau mengatasinya sesuka hati. Dan, adalah salah untuk mengabaikan atau meremehkan peran terpenting mereka dalam menciptakan manusia menjadi apa adanya, membiarkan manusia melakukan apa yang mereka bisa, atau mencegah mereka melakukan apa yang mereka inginkan pada periode tertentu. Itulah yang ditekankan Marx ketika dia menulis bahwa "manusia membuat sejarah mereka sendiri–tetapi hanya di bawah kondisi historis yang diberikan."

Kondisi historis yang berlaku tidak hanya mengedepankan tugas-tugas utama yang harus diselesaikan oleh umat manusia, atau setidaknya bagian progresifnya, pada titik tertentu; mereka juga menentukan jalan dan menunjukkan cara untuk mencapainya.

Semua sekolah Humanisme telah bercita-cita untuk mengubah sifat manusia. Yang paling maju di antara mereka bahkan mengakui bahwa sifat manusia hanya dapat diubah dengan mengubah struktur sosial. Tetapi bagaimana dan oleh siapa lingkungan sosial direkonstruksi?

DI SINI sosialis ilmiah berpisah dengan tipe humanis lainnya. Tugas tertinggi zaman kita adalah menghapus kapitalisme sebagai sistem yang ketinggalan zaman dan berbahaya, dan untuk melanjutkan proyek membangun sosialisme pada skala dunia. Ini hanya dapat dilakukan melalui aksi massa yang dipimpin oleh pekerja industri. Kesimpulan ini khas Marxis. Memahami dan menerima mereka pada prinsipnya, dan menerapkannya pada semua masalah sosial, memberikan tanda materialis dari semua jenis Humanis lainnya.

Pemilihan kelas pekerja sebagai agen utama rekonstruksi sosial dan politik terlalu partisan dan metode perjuangan revolusioner terlalu keras, tidak beradab, dan tidak rasional, tidak disukai oleh kaum Humanis liberal. Semua individu yang memiliki niat baik, terlepas dari status sosial atau kepentingan ekonomi mereka, harus dipanggil untuk bekerja bersama demi kebaikan bersama, kata mereka. Dan cara untuk mewujudkan kolaborasi semacam itu adalah melalui pendidikan dan menarik perasaan yang lebih halus dan kualitas yang lebih mulia dari orang-orang yang terlibat.

Meskipun mereka mengklaim sebagai ilmiah dalam sosiologi dan politik mereka, kaum Humanis tersebut gagal menganalisis dengan benar struktur kapitalisme yang sebenarnya, dan karakter serta konsekuensi dari pertentangan kelasnya. Mereka menganggap kelas dan konflik mereka sebagai kutil [miring oleh penerjemah] pada tubuh tatanan yang mapan daripada aspek organik dari struktur dan fungsinya. Mereka lebih terlanjur berasumsi bahwa sistem kapitalis jauh lebih rentan terhadap reformasi dan para pemilik dan penguasanya jauh lebih dapat menerima pengaruh pertimbangan "rasional" daripada yang sebenarnya. Para pemilik tidak “mendengarkan alasan” ketika keuntungan dan hak milik mereka terancam serius tetapi menanggapinya dengan refleks yang kuat sebagaimana serigala yang memegang mangsanya.

Setiap lapisan masyarakat memiliki gagasan tentang apa yang masuk akal atau tidak dalam situasi tertentu yang sesuai dengan posisi sosialnya sendiri. Kaum liberal kelas menengah mungkin berpikir sangat tidak masuk akal bagi kapitalis untuk menghancurkan demokrasi demi kediktatoran militer atau fasis, atau bagi Eisenhower untuk bersekutu dengan Franco[16]. Tapi suara angkuh dari "alasan" mereka sendiri berbicara sebaliknya kepada kelas penguasa.

Humanis liberal tidak berdaya menghadapi konflik kelas kontemporer karena kurangnya wawasan tentang evolusi kemanusiaan itu sendiri. Penentu utama sejarah bukanlah konflik antara impuls baik dan buruk dalam manusia, sebagaimana dipertahankan oleh kaum Humanis borjuis dengan etika kuasi-Kristen mereka. Awalnya, penaklukan kolektif umat manusia terhadap alam yang dengannya unsur-unsur dan sifat-sifatnya ditundukkan untuk melayani tujuan manusia.

Ironisnya, komando yang terus berkembang atas alam ini disertai dan dibayangi oleh penindasan yang semakin intensif terhadap mayoritas umat manusia oleh minoritas pengekploitasi yang telah memuncak dalam dominasi imperialisme dunia. Situasi paradoks ini tidak terjadi melalui niat jahat seseorang tetapi melalui operasi proses pembangunan sosial yang tidak disadari yang diatur oleh hukum produktivitas tenaga kerja. Karena orang Indian di California Bawah tidak dapat menghasilkan atau mengakumulasi kelebihan kekayaan, mereka tetap setara secara ekonomi dan sosial, meskipun pada tingkat budaya yang paling primitif.

Karena kekuatan produksi material telah meningkat sejak diperkenalkannya pertanian dan munculnya peradaban, manusia telah mampu menciptakan surplus kekayaan yang besar dan cukup memikat untuk merangsang hasrat peningkatan keteraturan individu tetapi [ia] tidak cukup untuk mengangkat standar hidup keseluruhan komunitas dalam ukuran yang sama. Pertarungan berikutnya untuk menguasai surplus semacam itu terjadi di antara para pemilik alat-alat produksi, sementara para produsen langsung dikutuk untuk bekerja hanya demi upaya bertahan hidup secara nyata, [kesemuanya itu] telah membentuk hubungan sosial dan karakteristik utama manusia dalam masyarakat kelas.

Kaum Humanis liberal berpendapat bahwa adalah sektarian, memecah-belah dan mengalahkan diri sendiri untuk mengharapkan satu kelas khusus untuk membebaskan umat manusia dari kesulitan ini. Mereka bersikeras bahwa tugas memberantas kejahatan sosial dipercayakan kepada semua orang dengan niat baik. Mereka tidak sepenuhnya konsisten dalam argumen ini, karena kaum Humanis memang mengharapkan dan meminta satu bagian dari umat manusia untuk memimpin yang lain menuju kehidupan yang lebih baik. Tetapi mereka memilih para perintis ini, bukan berdasarkan fungsi ekonomi atau kepentingan material mereka, tetapi karena kualitas kecerdasan mereka yang unggul, niat baik, cinta kasih, dll. Namun, pengalaman telah membuktikan bahwa; bahkan di mana koalisi elemen sosial dengan kepentingan kelas yang berbeda terbentuk, mereka terpecah ke dalam pertikaian satu sama lain ketika momen paling penting dari perjuangan datang dan demikian mereka tidak dapat melakukan pekerjaan yang harus dilakukan.

Kami sebelumnya telah menjelaskan bahwa Marxisme memilih pekerja industri, bukan karena kualitas mereka yang lebih baik sebagai individu, tetapi karena posisi dan fungsi mereka dalam ekonomi. Mereka adalah objek utama eksploitasi di bawah kapitalisme di mana para pejuang menentangnya—menentang ekploitasi. Dan mereka menjadi pembawa mode produksi yang lebih tinggi dan pembangun sistem sosial yang unggul di bawah kondisi pasca-kapitalis.

Pencabutan eksploitasi dan pembangunan tatanan sosial yang mana manusia bisa bebas dan setara dengan prospek kemajuan tanpa batas akan menjadi pencapaian puncak dari kemanusiaan yang sulit [dikerjakan]. Konsepsi materialis tentang sejarah memberikan tempat utama dalam pembentukan dan transformasi umat manusia pada aktivitasnya yang sulit [dikerjakan]. Pekerja adalah karakteristik paling khas umat manusia. Pekerja mengangkat spesies kita di atas kondisi hewan dan menciptakan masyarakat. Perkembangan dan diversifikasi bentuk-bentuk kerja sejak saat itu telah menciptakan semua kekayaan yang bertanggung jawab atas kemajuan budaya.

Ketika Marxisme mengajarkan bahwa perluasan kekuatan-kekuatan produktif dan peningkatan produktivitas tenaga kerja adalah sumber utama dari semua kemajuan, ia menambahkan bahwa yang paling vital dari kekuatan-kekuatan produktif adalah tenaga manusia yang menjadikan sisanya bergerak untuk tujuan sosial tertentu. Marxisme menempatkan manusia aktif di pusat proses sejarah–dan karenanya humanistik dalam pengertian yang paling mendalam. Manusia, sebagai produsen, telah menghasilkan sejarah mereka sendiri.


Manusia Masa Depan Sosialis

Sayangnya, sampai sekarang, mereka belum menghasilkan sejarah mereka secara sadar atau terencana–dan itulah sebabnya hasil murni dari pekerjaan mereka telah menyebabkan konsekuensi yang kontradiktif tersebut. Dengan pengembangan energi nuklir, otomatisasi dan pencapaian ilmiah dan industri lainnya, umat manusia memiliki peluang untuk menghilangkan semua hubungan penindasan dan eksploitasi dan kemudian meringankan beban tenaga kerja yang diperlukan–dan kutukan lainnya–yang dipaksakan oleh rendahnya tingkat produktivitas tenaga kerja.

Manusia masa depan sosialis akan dapat menciptakan kembali kepribadiannya dari ubun-ubun hingga ujung kaki berkat pengurangan yang terus-menerus, dan akhirnya penghapusan total, dari semua kerja paksa produksi. Hanya pada saat itu, ketika seluruh waktunya menjadi bebas, untuk melakukan sesuai keinginannya, manusia dapat membuang aktivitas, sifat, sentimen, kebiasaan dan tindakannya yang seperti binatang, dan tanpa berhenti menumbuhkan sifat-sifat khas manusiawi.

Kita hanya dapat secara samar menduga seperti apa manusia dengan kesadaran sosial dan kekuatan materi yang sangat terorganisir. Mereka akan menghasilkan keajaiban, yang membuat tepukan energi nuklir dan terbang ke ruang angkasa akan tampak seperti permainan anak-anak. Dan tidak sedikit dari keajaiban ini adalah apa yang akan dibuat manusia dari dirinya sendiri.

Kreativitas adalah kualitas terbaik umat manusia. Inisiatif apa yang ditampilkan pada masa bayi oleh ras kita untuk menggunakan dan membuat alat, menjinakkan proses kimia api, berbagi hasil kerja, dan kemudian untuk memelihara hewan, menciptakan pertanian dan kerajinan tangan! Kapasitas untuk berinovasi ini bukan semata-mata sifat individu yang sangat berbakat. Ini telah dilakukan oleh massa yang tertindas pada saat-saat puncak klimaks revolusioner dalam sejarah ketika energi dan antusiasme mereka menyapu institusi-institusi dan mode-mode pemerintahan yang kuno dan mendirikan jenis-jenis organisasi sosial dan politik yang baru dan lebih tinggi.

Dalam periode transisi revolusioner dari masyarakat kelas ke sosialisme saat ini, Marxisme berusaha untuk mencerahkan kaum lelaki dan perempuan yang bekerja untuk merangsang inisiatif mereka dalam satu bidang kegiatan sosial satu demi satu, yang dimulai dengan substruktur ekonomi dan rezim politik. Ia melakukannya, menyadari bahwa di masa lalu pembukaan/penciptaan potensi atas kreatifitas jarang terjadi untuk individu dan masih lebih sedikit untuk mayoritas umat manusia. Tujuan akhir dari tatanan sosialis baru adalah untuk mewujudkan kondisi-kondisi yang akan membuat kreativitas individu dan kolektif menjadi aturan, alih-alih pengecualian, dalam kehidupan manusia.

Humanisme Sosialis sangat meyakini kekuatan kecerdasan dan pengembangan kesadaran. Tapi ia bukanlah kekeliruan ktika sebuah pujaan [miring oleh penerjemah] diciptakan sebagai alasan yang terlepas dari konteks sosial, seperti halnya kaum Humanis idealis yang percaya pada kemahakuasaan kecerdasan terlepas dari waktu, tempat, dan keadaan yang menguasainya. Akal budi, seperti halnya kapasitas manusia lainnya, adalah produk dari aktivitas sosial dan fungsi dari perkembangan sosial. Cakupan dan efektivitasnya sempit selama keadaan ekonomi yang buruk menghambatnya dan mencekik pertumbuhannya. Tugas utama akal manusia saat ini adalah membantu menyapu bersih dengan cara revolusioner, jalan, semua kondisi, dan kekuatan yang menghambat sejauh mana penerapan dan pengembangannya sendiri. Itulah mengapa rasionalis yang konsisten di zaman kita seharusnya menjadi seorang revolusioner sosialis.

Humanisme Sosialis sangat meyakini pandangannya, sebagaimana ia melihat kredo-kredo lain, dalam hal kesusilaan manusia, martabat dan persaudaraan. Ia bukanlah sebuah rasional tanpa rasionalistis, demikian juga dengan moral, ia tidak serta merta jatuh ke dalam moralisasi kosong. Moralitas yang benar-benar praktis dan progresif tidak dapat dipisahkan dari kondisi aktual, kekuatan yang bersaing, dan masalah-masalah dasar masyarakat kelas. Menurut kode moral Humanisme Sosialis, apa pun yang membantu [perlawanan oleh] yang dieksploitasi terhadap para penghisap dan yang tertindas terhadap penindas mereka, dan tindakan apa pun yang membuka jalan menuju masyarakat yang bebas dan sederajat, apakah ini ditujukan terhadap kapitalis, kolonialis atau birokrat yang merebut, adalah dibenarkan dan benar secara moral.

Partisan dari gerakan sosialis yang ilmiah dan humanistik didedikasikan untuk mempersiapkan masa depan di mana hubungan manusia dibersihkan dari semua kekejaman. Di sisi lain, orang-orang barbar yang beradab, yang bertekad untuk menegakkan masyarakat kelas dengan harga berapa pun, kadang-kadang memaksa para pejuang untuk maju untuk mengambil langkah tegas dalam membela diri.

Penulis Komunis Jerman, Bertold Brecht, mengalamatkan sebuah puisi To Posterity yang meminta pemahaman simpatik dari kebutuhan ini:

Anda, yang akan muncul keluar dari banjir
di mana kami tenggelam,
Pikirkan—
Ketika Anda berbicara tentang kelemahan kami,
Juga tentang masa kelam
yang membawa mereka bersamanya ...
Pun kebencian terhadap kemelaratan
Membuat alis dan kening semakin mengerut dan keras.
Bahkan kemarahan terhadap ketidakadilan
Membuat suara semakin keras dan tajam. Sayangnya, kami
yang ingin meletakkan dasar
kebaikan
tidak bisa [menjadikan] diri kami baik.

Tetapi Anda, ketika akhirnya [masa itu] datang untuk terjadi.
Manusia itu dapat membantu sesamanya,
Janganlah menghakimi kami
terlalu keras.

Apa pembenaran utama untuk sosialisme itu sendiri dan sarana perjuangan yang diperlukan untuk mencapainya? [miring oleh penerjemah] Ia sendiri dapat menciptakan untuk pertama kalinya prasyarat material dan budaya untuk mewujudkan persaudaraan manusia yang diberitakan oleh agama, kebebasan, kesetaraan dan keadilan yang dijanjikan oleh demokrasi borjuis, bersama dengan pengembangan semua sisi dari individu dan kebahagiaan seluruh keluarga manusia di bumi yang dibayangkan oleh kaum Humanis.


» Kembali ke bagian I, Sosialisme & Humanisme


Catatan-catatan
  1. Lickspittle [pengangkat]; merupakan seseorang yang patuh terhadap mereka yang berkuasa. Atau biasa diartikan sebagai “penjilat”. Hampir senada dengannya, Kamus Pelajar Oxford menerjemahkannya sebagai; seseorang yang mencoba untuk mendapatkan penerimaan dari orang penting.
  2. Teks asli; “the hue and cry”, dalam konteks sejarah diartikan sebagai sebuah seruan keras yang menyerukan pengejaran dan penangkapan seorang penjahat. Dalam hukum Inggris sebelumnya, seruan itu harus diajukan oleh seratus penduduk di mana perampokan telah dilakukan. Sementara itu, Kamus Cambridge dan Kamus Collins mendefinisikannya sebagai ekspresi riuh kemarahan atau ketidaksetujuan publik.
  3. Self-seeker: seseorang yang menempatkan kemanfaatan di atas prinsip. Kamus Collins menerjemahkannya sebagai seseorang yang hanya mencari atau terutama untuk memajukan kepentingannya sendiri.
  4. Shuttlecock: Yang aktif bergerak ke sana kemari, seperti dalam argumen. Lihat Kamus Collins "Shuttlecock".
  5. Teluk adalah tubuh perairan yang menjorok ke daratan dan dibatasi oleh daratan pada ketiga sisinya. Oleh karena letaknya yang strategis, teluk banyak dimanfaatkan sebagai pelabuhan. Lihat Wikipedia.
  6. Talebearing: penyebaran desas-desus
  7. Mátyás Rákosi, seorang politikus komunis Hongaria.
  8. János Kádár seorang pemimpin Republik Rakyat Hongaria dan Sekretaris Jenderal Partai Pekerja Sosialis Hongaria, yang memimpin negara dari tahun 1956 sampai ia mengundurkan diri pada tahun 1988.
  9. Hatchet men: “orang-orang kapak”, seseorang yang dipekerjakan untuk melakukan tugas kontroversial atau tidak menyenangkan, seperti pemecatan sejumlah orang dari pekerjaan; pembunuh bayaran.
  10. Teks asli: "upper crust", merupakan istilah informal dari “kelas atas”. Lihat Kamus Collins Upper Crust.
  11. Bulan kesebelas dari kalender Republik Perancis (1793–1805), awalnya berjalan dari 19 Juli hingga 17 Agustus.
  12. Teks asli: "surgical"; merujuk pada sesuatu yang dengannya diperlukan sebuah ketelitian, keakuratan dan kecepatan.
  13. City of the Sun (Kota Matahari) merupakan karya filosofis oleh filsuf Dominika Italia, Tommaso Campanella. Karya ini menggambarkan masyarakat teokratis, yang mana barang, wanita dan anak-anak dimiliki bersama. Salah satu aspek terpenting darinya adalah distribusi pekerjaan.
  14. Catatan Penerjemah: Bagian ini, menurut saya memiliki konteks dan relevansinya. Sehingga sangat mungkin jika hari ini beberapa bagiannya tidaklah sesuai. Demikian, sebagaimana tradisi marxisme, ia bukanlah sebuah doktrin dan, semoga, dapat digunakan sebagaimana mestinya.
  15. Biped; binatang yang berkaki dua.
  16. Mengenai ini, lihat: Shaffer, Robert. 2016. “Rejecting the Cold War Alliance with Franco”. The Volunteer.



* Ini adalah yang kedua dari dua artikel.
Artikel ini sebelumnya terbit di marxists.org dalam bahasa Inggris dan diterbitkan ulang di sini dengan diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh David Dunn untuk tujuan pendidikan.


Sumber: International Socialist Review, Vol.20 No.2, Winter 1959, pp.53-59. [1]



Posting Komentar

0 Komentar