Copyleft vs. Copyright: Sebuah Kritik Marxis // Bagian 1

The Battle of Copyright / Gambar: https://www.flickr.com/


Abstrak

Hak cipta diciptakan oleh dan untuk kapitalisme di masa-masa awal, dan sejak saat itu ia memiliki arti penting bagi sistem tersebut. Menentang hak cipta berarti menentang kapitalisme. Jadi, Marxisme adalah sebuah titik awal yang niscaya ketika [kita] menentang [konsep] hak cipta. Konsep Marx tentang ‘kecerdasan umum’, yang menunjukkan bahwa pada titik tertentu proses pembelajaran kolektif akan melampaui kerja fisik sebagai kekuatan produktif, menawarkan latar belakang yang menjanjikan untuk memahami pencapaian komunitas perangkat lunak bebas[1] [miring oleh penerjemah]. Lebih jauh, perhatian utama dari filosofi hacker, kreativitas dan pemberdayaan teknologi, erat hubungannya dengan konsep utama Marxis tentang alienasi, pembagian kerja, deskilling, dan komodifikasi. Di akhir pertanyaan saya, saya akan menyarankan bahwa pengembangan perangkat lunak bebas memberikan model awal dari kontradiksi yang melekat pada kapitalisme informasi, dan bahwa pengembangan perangkat lunak bebas memiliki relevansi yang lebih luas dengan semua produksi informasi di masa mendatang.

Pengantar

Johan Söderberg meraih gelar Ph.D. di Göteborgs Universitet, Swedia, pada bidang Sains dan Teknologi dengan tesisnya "Free software to open hardware: Critical theory on the frontiers of hacking". Ketika ini disusun, ia sedang menempuh tingkat dua [second degree] di bidang Illustration, di Falmouth College of Arts, UK.
Saat ini ia merupakan dewan editorial di beberapa jurnal; Journal of Peer Production; Science as Culture and Engaging Science; dan Technology and Society.
Pada tahun 90-an program komputer yang dikembangkan oleh para penghobi sedang tumbuh dan menjadi pesaing serius bagi perangkat lunak komersial. Pada saat ini [jurnal ini disusun pada tahun 2002–penj.] satu-satunya penantang monopoli Microsoft dalam sistem operasi, Windows, adalah salah satu dari proyek komunitas ini –Linux. Saat komunitas perangkat lunak bebas dan industri komputer saling berhadapan, warna politik dari gerakan hacker teraktualisasikan. Menurut beberapa orang, perangkat lunak bebas sama dengan komunisme[2]. Beberapa di dalam komunitas dengan keras menolak hubungan politik semacam itu sementara yang lain merangkul perangkat lunak bebas sebagai kekuatan radikal. Saya akan memberikan sebuah kasus untuk menunjukkan bahwa perangkat lunak bebas bukanlah sekedar model bisnis yang lain sebagaimana yang dipahami oleh para pendukung Ideologi Californian, akan tetapi sebuah proyek politik untuk perubahan sosial. Meskipun frasa Marxis sering beredar dalam tulisan-tulisan para peretas [hackers], hanya ada sedikit upaya pada analisis Marxis yang komprehensif tentang perangkat lunak bebas. Demikian pula, sebagian besar teori radikal telah mengabaikan fenomena peretasan, sekalipun persoalan informasi, pengawasan, Internet dan rezim kekayaan intelektual tengah menarik perhatian.

Tujuan saya adalah untuk mengatasi perpecahan dan menunjukkan bahwa kedua kelompok1 dapat memperoleh manfaat dari fertilisasi-silang. Artikel ini ditujukan kepada para pembaca yang bersimpati terhadap proyek Marxis dan juga sebagai pengetahuan dasar terkait terminologi Marxis. Saya telah mengambil dari berbagai tradisi Marxis, serta sumber-sumber post-Marxis dan non-Marxis, tanpa memberikan banyak perhatian pada perbedaan internal mereka. Ini bukanlah penjelasan yang komprehensif mengenai posisi Marxis tentang persoalan itu; Saya telah memadukannya karena mereka berkaitan dengan penyelidikan saya terhadap rezim kekayaan intelektual. Bagian pertama dari artikel ini bersifat teoritis, jadi saya meminta para pembaca untuk bersabar, dan semoga ini akan benar-benar bermanfaat setelah diterapkan pada realitas perangkat lunak bebas.

Masalah

Bagaimana teori Marxis digunakan untuk memahami perkembangan perangkat lunak bebas?

Metode dan Kepustakaan

Artikel ini adalah sebuah studi literatur. Literatur tentang kekayaan intelektual ditandai dengan kurangnya referensi ke buku yang lain [cross-references] antara dua pandangan yang berlawanan tentang isu tersebut. Tulisan-tulisan mainstream dan komisi resmi [miring oleh penerjemah] memperlakukan kekayaan intelektual secara eksklusif sebagai persoalan teknis finansial dan hukum; mereka membedahnya dalam konsensus bahwa kekayaan intelektual adalah entitas yang tak terbantahkan. Para penulis yang mengakui kekayaan intelektual sebagai medan yang diperebutkan juga menulis untuk berkampanye menentangnya. Pendekatan di kubu terakhir berasal dari pengalaman para peretas atau dari analisis Marxis akademis, dan kedua cabang tersebut sama-sama terpisah satu sama lain.

Analisis saya mengambil dari kerangka teoretis materialisme historis. Penggunaan teori ini memerlukan beberapa komentar karena telah berserakan [miring oleh penerjemah] dan ditinggalkan oleh banyak kaum Marxis. Teori tersebut kehilangan kredibilitas ketika prediksi bahwa kapitalisme yang tak terelakkan akan berkembang menjadi sosialisme tampaknya dianggap keliru. Secara teoritis ia ditantang karena kecenderungan evolusionisme, determinisme teknologi, fungsionalisme dan reduksionisme ekonomi (Giddens, 1981). Oleh sebagian, berkaitan dengan dan untuk kritik ini, beberapa Marxis menanggapi komentar Giddens yang menyatakan bahwa materialisme historis yang direkonstruksi terbukti benar dan merupakan alat analisis yang berharga (Wright, Levine, dan Sober, 1992). Versi yang lemah [miring oleh penerjemah] dari model tersebut masuk akal, kata mereka, untuk membantu menyusun pemahaman kita tentang sejarah masa lalu dan saat ini, sekiranya teori tersebut tidak secara hipokrit meramalkan masa depan. Sesuai dengan mereka, saya pikir adalah hal relevan untuk membangkitkan materialisme historis di sini karena;

"Gagasan bahwa perjuangan kelas sangat penting untuk memahami perubahan sosial didasarkan pada klaim materialis atas sejarah. Jika materialisme historis sepenuhnya ditolak, maka konsep dan ide ini akan kekurangan fondasi yang memadai"[4].

Meskipun demikian, saya tidak akan memberikan penjabaran lengkap tentang kontroversi seputar teori tersebut, tetapi hanya menunjukkan bagian-bagian yang berkaitan dengan pertanyaan saya tentang pengembangan perangkat lunak bebas.

Materialisme Historis

Konsep materialisme tentang sejarah[5] dimulai dengan asumsi bahwa kesadaran manusia dikondisikan oleh lingkungan fisiknya, dan oleh karena itu keunggulan dalam masyarakat mengalir dari basis materialnya ke organisasi kehidupan sosialnya. Pada intinya terletak ‘kekuatan produksi’ [forces of production] (terutama mesin, bahan mentah, tenaga kerja, dan pengetahuan), yang mempengaruhi ‘hubungan produksi’ [relations of production], yaitu komposisi kepemilikan dalam masyarakat. Kelas yang mendominasi hubungan produksi menyukai konstitusi hukum, politik dan ideologi tertentu dari masyarakat (suprastruktur) yang akan mendukung tatanan sosial mereka. Tetapi karena kekuatan-kekuatan produksi terus berkembang, sementara tatanan yang sudah mapan cenderung mempertahankan posisinya, maka organisasi masyarakat akan menjadi semakin bertentangan dengan produksi materialnya. Pada satu titik, tibalah pada kondisi ketika kemapanan lama membelenggu kekuatan produktif yang muncul. Perjuangan antara kelas penguasa dan kelas-kelas yang ditenggelamkannya (yang telah berlangsung) kemudian meledak menjadi perubahan revolusioner. Sebuah tatanan sosial baru muncul yang mana ia lebih sesuai dengan basis produksi material (Cohen, 2000).

Contoh utama dari transisi ini adalah dari feodalisme ke kapitalisme-awal. Hak istimewa [previlege] dan tradisi, menolak mobilitas sosial dan geografis yang bebas dan memicu penolakan terhadap disiplin pabrik, sementara nilai-nilai Kristen meremehkan kebajikan yang dilakukan kapitalis. Untuk berkembang, kelas borjuis harus merobohkan penghalang aliran bebas dari modal, kerja upahan, dan pertukaran pasar ini. Dengan cara yang sama, teori mengklaim, bahwa kapitalisme akan membelenggu kekuatan produksi masa depan[6].

Ada banyak kesulitan yang dihadapi teori ini. Bantahan umum dari post-Marxis (dan Marxis juga) adalah bahwa ‘rantai arah’ rusak karena suprastruktur menjadi produktif dengan sendirinya di

"... era informasi, ditandai dengan kemandirian budaya vis-a-vis basis material keberadaan kita"[7].


Argumen ini, bagaimanapun, juga menyiratkan bahwa materialisme historis sampai sekarang telah berjalan. Jika demikian, teori tersebut tidak boleh dibuang begitu saja, namun kekurangannya harus diperiksa secara cermat untuk mengungkap perubahan yang tepat. Saya tidak memiliki tujuan tersebut pada kesempatan kali ini. Namun demikian, dalam artikel ini saya berpendapat bahwa meskipun materialisme historis sulit untuk dipertahankan secara teoritis, dalam praktiknya ciri-ciri tertentu Zaman Informasi, jauh dari membuat materialisme historis menjadi usang, sebaliknya, ia mencerminkan dan memperkuat beberapa ciri-cirinya.

Namun, bahkan jika asumsi dasarnya benar, Wright, Levine, dan Sober menunjukkan bahwa “untuk menyimpulkan bahwa akan ada lintasan penting secara keseluruhan atas perubahan sosial dari dalil-dalil materialisme histori, sebuah kasus harus dibuat, secara umum, kecenderungan kekuatan produksi untuk berkembang adalah penyebab yang lebih kuat dari destabilisasi hubungan produksi kecuali suprastruktur adalah stabilisasinya”[8]. Cohen mengalami kesulitan untuk memastikan bahwa belenggu dapat memicu revolusi yang berhasil melawan kapitalisme. Dia berkata, dengan enggan, bahwa pembatasan laju perkembangan produktivitas tidak cukup menyebabkan destabilisasi. Rupanya, ia bersandar pada Use Fettering [Belenggu Kapitalisme—penj.], penyebaran kekuatan produktif yang tidak rasional, sebagaimana bias dalam kapitalisme terhadap konsumsi dengan mengorbankan waktu luang. Penggunaan Belenggu Kapitalisme lebih menjanjikan: "... karena perbedaan antara kapasitas dan kegunaan lebih nampak di luar perkiraan, dan, oleh karena itu, merupakan pendorong dari kerusuhan, protes, dan perubahan yang lebih kuat daripada, penurunan laju perkembangan ..."[9]. Saya nanti akan kembali pada perbedaan antara Pembangunan dan Penggunaan Belenggu Kapitalisme dalam makalah ini dan berpendapat bahwa keduanya sesuai dengan rezim kekayaan intelektual.

Sejarah Hak Cipta

Hak kekayaan intelektual ditemukan di negara-negara pedagang Italia dan menyertai penyebaran kapitalisme awal yang terjadi di Belanda dan Inggris[10]. Bentuk awal dari apa yang telah menjadi hak cipta dapat ditelusuri lebih jauh ke dalam sejarah, seperti yang terkadang dilakukan oleh para pendukung hak cipta. Dalam tradisi Talmud, misalnya, sumber informasi didokumentasikan secara menyeluruh, tetapi untuk memastikan keaslian informasi. Hak cipta dalam arti kuat [non-trivial] hanya dapat diwujudkan dalam konteks masyarakat kapitalis, karena fungsinya tidak berarti tanpa ekonomi pasar yang berkembang (Bettig, 1996).

Untuk sebagian besar eksistensi manusia, tradisi lisan telah mendominasi. Narasi terus berubah-ubah. Kinerja dianggap lebih tinggi daripada otoritas-kepemilikan [authorship], yang jarang dapat dipercaya [credited] karena sebagian besar budaya dibangun di atas mitos agama atau cerita rakyat secara umum, dan tidak berasal dari kreator individual.

Dengan munculnya kesadaran borjuasi akan individu dan properti, meluasnya hubungan pasar, dan terobosan teknologi, terutama percetakan, maka kebutuhan akan hak cipta pun tercipta. Akibatnya, Inggris Raya mengembangkan undang-undang hak cipta tingkat lanjut yang pertama. Pada abad ke-16, konflik agama memicu peredaran pamflet, diikuti oleh undang-undang yang melarang tulisan bid’ah, hasutan, dan makar. Brendan Scott (2000) berpendapat bahwa penyensoran ini mengandung warisan hak cipta. Misalnya, kebiasaan pencetak dan penulis untuk mencantumkan nama mereka dengan kreasi mereka dimulai sebagai undang-undang yang menuntut praktik ini, bukan untuk memastikan kredibilitas pembuatnya, tetapi agar raja dapat melacak penulis yang tidak patuh.

Pada tahun 1556, sebuah piagam kerajaan mendirikan Perusahaan Alat Tulis dan memberinya kendali eksklusif atas semua pencetakan [printing] di Inggris Raya. Membatasi jumlah penerbit adalah strategi kunci dalam gudang senjata pemerintah untuk mengatur tulisan (Bettig, 1996). Dua strategi untuk mengkonsolidasikan kontrol dengan menghapus anonimitas dan membatasi jumlah sumber dari reproduksi adalah tema yang bergema hingga saat ini.

Perluasan paten dan hak cipta telah berkembang sejak saat itu. Ia memasuki tahap baru dengan penandatanganan Perjanjian TRIPS, perjanjian global tentang kekayaan intelektual, pada tahun 1994 (Mei, 2000). Pengetatan rezim kekayaan intelektual bertepatan dengan meningkatnya nilai tukar informasi dan apa yang dianggap sebagai datangnya era informasi.

Kaum Marxis tentang Informasi

Kaum Marxis telah meremehkan literatur yang memprioritaskan informasi daripada tenaga kerja dan modal dalam produksi. Gagasan tentang era pasca-industri telah dikaitkan dengan futuris apolitik. Klaim bahwa informasi akan menggantikan tenaga kerja sebagai sumber utama nilai menyumbang untuk meningkatkan kecurigaan di antara kaum Marxis, dan (bukan tanpa sebab) hiper post-industrial sering dihapuskan sebagai tabir asap hegemoni. Kaum Marxis dengan tepat mengkritik para pendukung pasca-industrialis karena gagal memperhitungkan hubungan kekuasaan, melupakan bahwa informasi adalah hasil kerja manusia, mengabaikan bahwa staf ‘analis-simbol’ memerlukan tenaga kerja yang memenuhi kebutuhan material masyarakat, dan untuk kritik yang meremehkan kelangsungan industrialisme kapitalis di era baru (Dyer-Witheford, 1999). Utopia teknologi telah disebut-sebut sebelumnya untuk membenarkan kerusakan dan memperlancar penerimaan teknologi baru (Stallabrass, 1995).

Akan tetapi, pentingnya informasi dalam produksi tidak dapat lagi diabaikan, dan posisi Marxis yang vulgar yang membuang informasi hanya sebagai pemakan surplus produksi industri[11] tidak lagi dapat dipertahankan.

Dan Shiller mewakili tradisi Marxisme yang mengakui pentingnya informasi yang muncul tetapi membantah nilai unik yang disandarkan [credited] ke informasi oleh para pemikir pasca-industri. Shiller mengkritik teori tersebut karena gagal membedakan antara informasi sebagai sumber daya, sesuatu yang aktual atau potensial, dan informasi sebagai komoditas.

Tersirat pada pandangan ini adalah bahwa informasi sebagai sumber daya tetap konstan; seperti halnya dibutuhkan informasi untuk membuat kapak batu. Perubahannya terletak pada informasi yang telah dikomodifikasi. Seperti sumber daya lain sebelumnya, informasi diklaim oleh ekspansi kapitalis sehingga diproduksi oleh kerja upahan untuk dan di dalam pasar. Shiller menolak klaim bahwa komoditas informasi memiliki elemen immaterial yang melekat padanya. Salah satu poin yang akan saya kemukakan adalah bahwa pendirian ini menghalangi kaum Marxis seperti Shiller untuk mengenali kontradiksi yang berkembang dalam kapitalisme informasi yang melekat pada rezim kekayaan intelektual.

Pendekatan Marxis lainnya terhadap teknologi informasi, dipelopori oleh Harry Braverman, yang mana mempelajari bagaimana teknologi digunakan untuk membantu modal melawan tenaga kerja, sebagian melalui pengawasan, sebagian dengan mentransfer pengetahuan dari tenaga kerja ke mesin. Namun, karena umat manusia terbagi-bagi, dan tidak ada tempat yang lebih terbagi-bagi selain dalam proses kerja:

“... mesin datang ke dunia bukan sebagai hamba ‘kemanusiaan’, tetapi sebagai instrumen dari mereka yang kepadanya akumulasi modal memberikan kepemilikan atas mesin. Kapasitas manusia untuk mengontrol proses kerja melalui mesin direbut di atas oleh manajemen sejak permulaan kapitalisme sebagai alat utama dimana produksi dapat dikendalikan bukan oleh produsen langsung tetapi oleh pemilik dan perwakilan kapital”[12]


Dari perspektif ini, Era Informasi sedang menyempurnakan proses yang dimulai dengan Revolusi Industri, ketika para pengrajin terampil dipaksa bekerja di pabrik yang tidak memenuhi syarat dan terfragmentasi, sekarang memperluas pengaruh modal melalui mekanisasi ke dalam masyarakat luas dan ke tingkatan tenaga kerja intelektual yang lebih tinggi[13]. Robins dan Webster menggambarkan era baru ini sebagai ‘Taylorisme Sosial’ [Social Taylorism]:

“Pendapat kami adalah bahwa pengumpulan keterampilan/pengetahuan/informasi ini, yang sampai sekarang paling terlihat dalam proses kerja kapitalis, kini memasuki tahap baru dan lebih luas ... Kita berbicara tentang proses pelambanan sosial [social deskilling], perusakan pengetahuan dan keterampilan, yang kemudian dijual kembali dalam bentuk komoditas [...]”[14].


Teknologi dirancang menjadi ‘kotak hitam’ [black box], sehingga pekerja/pengguna dibiarkan tanpa daya atas fungsi-fungsi yang dibebankan mesin padanya. Ilustrasi klasik bagaimana teknologi digunakan dengan cara ini untuk mengontrol aktivitas tenaga kerja adalah kecepatan yang ditetapkan oleh jalur perakitan di sebuah pabrik (Edwards, 1979). Studi terbaru menunjukkan bahwa otomatisasi yang ramah pengguna tetapi tak-terkalahkan telah meningkatkan rasa ketidakberdayaan yang menundukkan di antara tenaga kerja kerah biru yang tidak terlatih yang mengoperasikan permesinan (Sennett, 1999). Lebih jauh, komputer bahkan membuat profesi intelektual dan artistik yang sangat rentan terhadap proses deskilling (Rifkin, 1995). Kekhawatiran meningkat bahwa multimedia dan teknologi perekaman dapat memekanisasi pendidikan, mengubahnya menjadi ‘pabrik diploma digital’ (Noble, 1998).

Pandangan pesimistis tentang teknologi informasi sebagai alat kontrol kapitalis, yang dianut oleh banyak kaum Marxis, akhir-akhir ini telah diimbangi dengan minat untuk melawan penggunaan teknologi tersebut.

“[...] Kelenturan [melleability] teknologi mutakhir berarti bahwa desain dan aplikasinya menjadi tempat konflik dan memiliki potensi yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk direbut kembali”.[15].


Kata kuncinya adalah kelenturan, yang memberikan otonomi subjek atas penggunaan teknologinya. Secara khusus, komputer [PC] dengan kemampuan jaringannya telah memberdayakan sebagian kecil populasi dengan keterampilan teknologi[16]. Berkat penurunan biaya produksi, kekuatan teknologi ini disebarluaskan ke lingkaran populasi (barat) yang semakin luas. Stallabrass dengan tepat menunjukkan bahwa penurunan biaya dipenuhi dengan lebih banyak kapasitas komputer untuk harga yang lebih tinggi, dan oleh karena itu komputer yang baru tidak akan pernah tiba pada mayoritas yang miskin (Stallabrass, 1995). Namun, kritik tersebut gagal untuk mengakui tumpukan komputer bekas yang beroperasi sempurna tetapi ketinggalan zaman, yang akan ‘menetes ke bawah’.

Tradisi Marxis dengan demikian sangat menekankan konstruksi sosial dari teknologi (informasi). Dalam kata-kata Dyer-Witheford, teknologi: “[...] sering dibentuk oleh tuntutan persaingan yang ditanamkan di dalamnya potensi kontradiktif: yang mana di antaranya disadari dan itu merupakan sesuatu yang hanya akan ditentukan dalam perjuangan dan konflik lebih lanjut”[17]. Saya akan fokus pada perjuangan ini nanti, dan berpendapat bahwa komunitas peretas memainkan peran penting di dalamnya. Tetapi pertama-tama saya ingin memberikan kasus, mengapa saya percaya, berlawanan dengan beberapa Marxis, bahwa informasi telah menjadi sangat berharga.

Informasi sebagai Sebuah Sumber Daya

Meskipun saya menekankan pentingnya mengakui konstruksi sosial bahwa informasi menjadi komoditas, saya percaya bahwa pendukung post-industrial benar dalam informasi, bahwa sumber daya telah berubah secara kualitatif. Pergeseran ini dapat diekstrapolasi dari ambisi kapital untuk menggantikan tenaga kerja dengan mesin dan sains, terutama untuk menekan militansi tenaga kerja. Konsekuensi dari penggantian tenaga kerja dengan robot adalah bahwa biaya tenaga kerja dalam produksi turun, sementara biaya modal tetap, mesin berteknologi tinggi dan ilmu pengetahuan mutakhir, meningkat tajam. Demikian, muncullah pergeseran cepat biaya relatif (nilai tukar) dari tenaga kerja ke modal tetap – yaitu informasi. Lebih lanjut, produktivitas industri sekarang lebih bergantung pada pengembangan modal tetap daripada tenaga kerja manusia:

“Tetapi sejauh industri besar berkembang, penciptaan kekayaan riil tidak terlalu bergantung pada waktu kerja dan jumlah tenaga kerja yang dipekerjakan, lebih dari itu, pada kekuatan agensi yang bergerak selama waktu kerja, yang kekuatan keefektivitasnya tidak sebanding dengan waktu kerja langsung yang dihabiskan untuk produksinya, tetapi lebih bergantung pada keadaan umum sains dan kemajuan teknologi, atau penerapan sains pada produksi”[18].


Ini menandai munculnya apa yang disebut Marx sebagai ‘kecerdasan umum’ sebagai sumber produktif itu sendiri.

Lebih banyak petunjuk ditawarkan dalam teori marjinal (non-Marxis) dalam ekonomi politik yang dikenal sebagai Gelombang Kondratiev[19]. Dalam tradisi ini, Perez dan Freeman menulis, mereka memperkenalkan gagasan ‘Paradigma Tekno-Ekonomis’[20], berdasarkan karya klasik Thomas Kuhn tentang evolusi ilmiah (Kuhn, 1996). Paradigma Tekno-Ekonomi berlangsung selama 50-60 tahun dan berpusat pada terobosan teknologi besar di satu sektor yang memengaruhi ekonomi, industri, dan bentuk organisasi selama periode tersebut. Pelajar [scholars] yang berbeda telah menyarankan batu bara, besi, kereta api, baja, listrik, minyak, dan mesin pembakaran sebagai teknologi kunci dari Paradigma Ekonomi-Tekno sebelumnya. Yang umum dari teknologi utama ini adalah bahwa mereka berada di bidang material, energi, dan transportasi. Namun, mengamati Paradigma Tekno-Ekonomi terbaru, hampir ada konsensus di antara para scholar bahwa teknologi utamanya dimanifestasikan dalam mikroelektronika dan kemungkinan juga mikrobiologi (Volland, 1987; Grubler dan Nowotny, 1990).

Kesinambungan yang rusak dapat dijelaskan dengan teori nilai Marxis. Selama periode industri, material dan energi sangat penting untuk penciptaan nilai tukar, dan pengangkutan nilai ini bergantung pada infrastruktur. Namun, ketika nilai tukar tertinggi diambil dari informasi, (sementara nilai tukar barang material menjadi periferal relatif terhadap informasi) sektor-sektor tersebut kehilangan kepentingannya.

“Pada puncak produksi kontemporer, informasi dan komunikasi adalah komoditas yang diproduksi; jaringan itu sendiri adalah tempat produksi dan sirkulasi”[21].


Jaringan komputer menjadi pabrik dan saluran distribusi nilai tukar.

Karakteristik sektor informasi secara bertahap akan mencakup sebagian besar perekonomian. Kecenderungan ini penting dalam analisis Marx. “Dalam semua bentuk masyarakat ada satu jenis produksi tertentu yang mendominasi yang lainnya, yang hubungannya dengan demikian memberikan peringkat dan pengaruh kepada yang lain. Ini adalah iluminasi umum yang membersihkan [bathes] semua warna lain dan mengubah kekhususannya”[22]. Atau, lebih spesifiknya: “Sama seperti proses industrialisasi yang mengubah pertanian dan membuatnya lebih produktif, begitu pula revolusi informasional akan mengubah industri dengan mendefinisikan ulang dan meremajakan proses manufaktur”[23].

Kenaikan biaya/nilai tukar informasi (modal tetap) dalam kaitannya dengan tenaga kerja langsung menjadi penyebab kapitalisme mengkomodifikasi informasi, bukan sebaliknya. Tetapi karena sifat informasi yang tidak berwujud, kontradiksi muncul dari upaya untuk menyertakannya.

Informasi Mikroekonomi

“Jika sifat dasar telah membuat satu hal menjadi lebih kuat [less susceptible] dibandingkan semua properti eksklusif lainnya, hal itu adalah tindakan dari kekuatan berpikir yang disebut ide, yang mungkin dimiliki seseorang secara eksklusif selama ia menyimpannya untuk dirinya sendiri; tetapi saat itu dibocorkan [divulged], ia memaksa dirinya menjadi milik setiap orang, dan penerima [receiver] tidak dapat melepaskan dirinya dari itu”[24].


Kata-kata Thomas Jefferson merangkum fitur-fitur unik dari informasi. Informasi digital dapat digandakan tanpa batas dalam salinan sempurna dengan biaya marjinal mendekati nol.

Bradford De Long dan Michael Froomkin, jelas ekonom non-Marxis, mempertimbangkan konsekuensi dalam makalah mereka “Speculative Microeconomics for Tomorrows Economy”. Informasi, menurut mereka, menantang tiga pilar yang menjadi sandaran ekonomi pasar: pengecualian [excludability; pelonggaran atau kekhususan], persaingan [rivalry], dan transparansi [transparency]. Excludability adalah kekuatan untuk mencegah penggunaan utilitas yang dikehendaki, dan diperlukan bagi pemilik properti untuk memaksa pengguna agar membayar (mengekstrak nilai tukar). Meskipun De Long dan Froomkin mengakui bahwa excludability dari properti material selalu “bukan masalah watak dan lebih merupakan masalah budaya” yang harus ditegakkan oleh tindakan polisi, sifat informasi yang tidak material telah merusak kapasitas kebijakan. Hal ini terkait erat dengan penghapusan persaingan [rivalry], yang mengasumsikan bahwa biaya meningkat secara linier dengan peningkatan produksi, contohnya dua barang dibuat dengan harga dua kali lipat dari satu. Tanpa persaingan, dua pengguna dapat mengonsumsi produk informasi yang sama tanpa mengorbankan konsumsi satu sama lain. Ketiga, konsep transparansi [transparency], anggapan dalam teori ekonom bahwa pembeli dan penjual memiliki informasi yang sempurna tentang apa yang mereka inginkan dan apa yang dijual, gagal karena kompleksitas pasar teknologi yang tinggi. Kesimpulan mereka adalah bahwa "Revolusi yang sedang berlangsung dalam pemrosesan data dan teknologi komunikasi data mungkin mulai merusak fitur-fitur dasar kekayaan [property] dan pertukaran yang menjadikan tangan tak terlihat sebagai mekanisme sosial yang kuat untuk mengatur produksi dan distribusi."

Komodifikasi Informasi

“Kontradiksi yang terletak di jantung ekonomi politik dari kekayaan intelektual adalah antara biaya marjinal reproduksi pengetahuan yang rendah bahkan tidak ada dan perlakuannya sebagai properti yang langka”[25].


Kontradiksi ini[26], Mei menunjukkan, disembunyikan oleh kapitalis informasi yang kepentingannya dilayani dengan sangat baik jika ide-ide diperlakukan sebagai properti material yang langka[27]. Privatisasi dari ekspresi budaya berhubungan dengan pemagaran tanah publik [enclosure] di abad ke-15 hingga ke-18.

Kemudian, pemagaran yang baru [new enclosure] berkaitan dengan menciptakan kondisi untuk pengecualian [excludability]. Lawrence Lessig mencatat empat metode untuk mengarahkan perilaku individu agar sesuai dengan regulasi properti: norma sosial, pasar, arsitektur (termasuk teknologi dan kode), dan hukum. “Batasan bekerja sama, meskipun fungsinya berbeda dan efek masing-masing berbeda. Norma membatasi melalui stigma yang diberlakukan komunitas; pasar membatasi melalui harga yang mereka ekstrak; arsitektur membatasi melalui beban fisik yang mereka paksakan; dan hukum membatasi melalui hukuman itu mengancam”[28].

Beberapa undang-undang nasional baru telah disahkan dalam beberapa tahun terakhir tentang hak kekayaan intelektual. Di AS, Digital Millennium Copyright Act disahkan pada tahun 1998 dan telah ditiru oleh undang-undang di Eropa. Kantor Paten Eropa mengelak dari keputusan politik terjadwal yang akan diambil oleh pemerintah Eropa, dan mengeluarkan peraturan yang mengesahkan klaim paten untuk program-program komputer[29]. Hukum nasional ini dilaksanakan di bawah arahan yang dikenal sebagai perjanjian Uruguay Round[30], yang ditetapkan oleh Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Sebagai bagian dari tawar-menawar itu muncul perjanjian Trade Related Intellectual Property (TRIP), dan kepentingannya terletak pada dua hal: “sebagai perpanjangan hak yang diberikan kepada pemilik kekayaan intelektual dan sebagai bagian dari perluasan liberalisme pasar berbasis properti ke dalam area interaksi sosial baru, yang sebelumnya berada di luar hubungan pasar”[31]. Hanya dengan mengoordinasikan peraturan nasional di tingkat global, jaringan kekayaan intelektual diperketat. TRIP didukung oleh perusahaan farmasi dan industri hiburan Amerika dan Eropa, dan gagal ditentang oleh negara berkembang dan masyarakat sipil utara.

Terlepas dari perdebatan yang dicurangi tentang kekayaan intelektual di media mainstream[32], retorika ‘pembajakan’ belum mengubah norma sosial yang lebih jauh. Kegagalan untuk mengekang penyalinan terkait dengan biaya rendah dan risiko rendah bagi individu untuk menyalin, misalnya ketiadaan penyempitan pasar. Namun, Bettig berkomentar “Periode awal setelah pengenalan media komunikasi baru, sering kali melibatkan hilangnya kendali sementara oleh pemilik hak cipta atas penggunaan properti mereka”[33].

Demikian pula, Lessig memperingatkan terhadap kepercayaan palsu [the false reliance], yang umum di kalangan peretas, bahwa teknologi informasi pada dasarnya bersifat anarkistik. Industri bertekad untuk merancang ulang perangkat keras dan perangkat lunak agar sesuai dengan rezim kekayaan intelektual. “Kode [code] dapat, dan akan, menggantikan hukum sebagai pertahanan utama kekayaan intelektual di dunia maya”[34]. Inilah perjuangan utama yang saat ini akan saya ikuti.

Teknologi Telah Disesuaikan

The firm: Owners, managers, and employees / Gambar: https://core-econ.org/

Dalam sejarah produksi pabrik, banyak contoh tentang bagaimana permesinan disesuaikan untuk mengarahkan perilaku pekerja. Bentuk regulasi, ‘kontrol teknologi’, sangat penting untuk menjinakkan tenaga kerja di paruh pertama abad kedua puluh (Edwards, 1979). Kami menduga bahwa strategi yang sama untuk diterapkan karena teknologi konsumen sekarang menyebar ke seluruh masyarakat.

Para kapitalis perlu memanfaatkan Internet, karena Internet diyakini sebagai pusat produksi utama dan saluran distribusi nilai tukar di masa depan. Tetapi untuk mencapai visi mereka tentang Internet sebagai pasar yang halus, arsitektur Internet harus memenuhi lima persyaratan:

“(1) otentikasi, untuk memastikan identitas orang yang Anda hadapi; (2) otorisasi, untuk memastikan bahwa orang tersebut diberi disetujui untuk fungsi tertentu; (3) privasi: untuk memastikan bahwa orang lain tidak dapat melihat pertukaran apa di sana, (4) integritas: untuk memastikan transmisi tidak diubah dalam perjalanan, dan (5) nonrepudiation, untuk memastikan bahwa pengirim pesan tidak dapat membantah bahwa dia memang mengirimkannya”[35].


Singkatnya, pengawasan harus menggantikan anonimitas dan anarki dari Internet. Sejumlah teknologi digunakan untuk mewujudkan agenda ini. Sebuah komite yang ditunjuk oleh pemerintah AS mencatat lima metode berbeda: fitur keamanan/integritas dalam sistem operasi (akses file), bahasa manajemen-hak (beberapa di level bahasa mesin), enkripsi (mengacak dan menata informasi file), enkripsi persisten (memungkinkan konsumen untuk menggunakan informasi saat dienkripsi), dan watermarking (membantu melacak penyalinan dan distribusi). Yang menjadi masalah bagi desainer keamanan sistem adalah informasi yang terenkripsi harus diakses di beberapa titik. Ini meninggalkan celah potensial yang kemungkinan dapat dieksplorasi oleh peretas, dan sejauh ini para peretas tetap memanfaatkan enkripsi (Dewan Riset Nasional, 2000). Teknologi yang mendukung rezim properti harus membangun kotak hitam [black box] yang tidak dapat dipahami oleh pengguna yang paling cerdas, dan nyaman dioperasikan untuk pengguna dengan keterampilan serendah mungkin. Pengguna harus kehilangan pengetahuan teknologinya yang memberi mereka kendali atas produk, atau mereka akan menghadapi sistem keamanan[36]. Salah satu strategi yang disarankan untuk mencegah penyangkalan adalah dengan mengikat [bind] perangkat lunak pada perangkat keras dan dengan demikian memperkenalkan komponen material ke barang non-materi. Perangkat semacam itu harus dirancang untuk tujuan khusus (satu mesin untuk bermain game, satu untuk membaca buku, dan sebagainya) untuk menentang keumuman dan fleksibilitas komputer pribadi yang memberikan otonomi kepada pengguna atas tindakannya. Masa depan dari sistem keamanan akan diselesaikan dalam konflik saat ini. Ketika Napster ditutup oleh tindakan hukum dari industri pengodean ulang [recoding industry], dan kemudian berubah menjadi outlet komersial, dua program berbagi file baru, Freenet dan Gnutella, segera menggantikannya[37]. Tidak seperti Napster, program-program ini tidak bergantung pada server pusat manapun, dan dengan demikian tidak ada administrasi pusat yang dapat ditekan (Markoff, 2000). Mungkin ada keraguan bahwa sistem keamanan akan dapat bertahan karena pesatnya perkembangan teknologi dan minat di antara para kapitalis yang tersesat tidak bergantung pada hak cipta, tetapi [pada bagaimana] mendapatkan keuntungan dari penjualan perangkat yang memungkinkan untuk dilakukan penyalinan [copying][38]. Oz Shy menyatakan bahwa: "menarik untuk dicatat bahwa perangkat ini umumnya menghasilkan efek samping yang mengurangi kualitas dokumen asli dan salinan, dan oleh karena itu [di situlah letak] nilainya bagi konsumen."[39]. Namun, dengan koordinasi negara yang mendukung kepentingan bersama dari rezim properti, undang-undang akan mendesak para kapitalis yang tersesat untuk mundur[40]. Tekanan oleh industri rekaman meyakinkan produsen pita audio digital (DAT) untuk memasang chip yang membatasi penyalinan (Samuelson, 1996a). Nampaknya modal akan semakin bergantung pada teknologi untuk mengatur perilaku sosial secara umum. Dalam perebutan kekuasaan ini perlawanan harus semakin diakurasi dan ditingkatkan dengan keterampilan teknologi. Dalam konteks inilah komunitas peretas dan Gerakan Perangkat Lunak Bebas menjadi kritis. Inilah saatnya untuk memeriksa sisi lain dari konflik tersebut.


Tulisan ini adalah bagian pertama dari jurnal yang, sebelumnya beredar di Jurnal First Monday dengan judul "Copyleft vs. Copyright: A Marxist Critique". Atas persetujuan penulis (Johan Söderberg) dan Kepala Editor First Monday, tulisan tersebut diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh M. R. Hidayatulloh dan diterbitkan di sini sebagai bahan belajar.

Untuk perbaikan dan saran terjemahan, anda bisa menghubungi kami di sini.




Catatan-catatan
  1. ‘Free Software’ : Perangkat Lunak Bebas; Terbuka; Gratis. Merujuk pada perangkat lunak yang beredar (didistribusikan) secara gratis. Termasuk untuk dikembangkan atau dimodifikasi. Sebenarnya, kata ‘gratis’ di sini menunjukkan bahwa kecenderungan atas tidak diperlukannya biaya (Rp. 0) untuk memanfaatkanya. Namun demikian, penerjemah lebih memilih kata ‘bebas’ dengan tujuan agar tidak membatasi makna dan maksud dari kalimat aslinya—penj.
  2. Diatribusikan kepada Bill Gates, menurut James Wallace, Overdrive: Bill Gates and the Race to Control Cyberspace, (New York: Wiley, 1997), hal. 266; dikutip oleh Barbook (1998); lihat juga JS Kelly, 2000. "Opinion: Is free software communist?" di http://www.cnn.com/2000/TECH/computing/02/11/free.software.idg/, diakses 4 Maret 2002, yang mencatat bahwa "Pernyataan terkenal itu sering dikaitkan dengan Bill Gates, meskipun sebenarnya dia mengklaim bahwa dia tidak pernah membuatnya.".
  3. 'Kedua kelompok’ merujuk pada kelompok para hacker dan pendukung perangkat lunak bebas, dengan kelompok yang memiliki pendapat sama namun dibekali analisis Marxis akademis—penj.
  4. Wright, Levine, dan Sober, 1992, hal. 11.
  5. Tulisan-tulisan Marx tentang masalah ini kurang jelas, dan pendapat di antara kaum Marxis kontemporer berbeda tentang apa yang sebenarnya dia maksud. Saya akan mengikuti sumber otoritatif, interpretasi ortodoks dari materialisme historis seperti yang dijelaskan oleh G. Cohen dalam bukunya, Karl Marxs Theory of History: a Defense.
  6. Castells, 1996, volume I, hal. 478.
  7. Melampaui titik tertentu, perkembangan kekuatan produksi menjadi penghalang bagi kapital; karenanya hubungan kapital menjadi penghalang bagi perkembangan kekuatan kproduktif dari kerja. Ketika sudah mencapai titik ini, kapital, seperti tenaga kerja upahan, masuk ke dalam hubungan yang sama terhadap pengembangan kekayaan sosial dan kekuatan produksi sebagai sistem serikat, perbudakan, perbudakan, dan harus dilucuti seperti sebuah belenggu.” Marx, 1993, hal. 749.
  8. Wright, Levine, dan Sober, 1992, hal. 37.
  9. Cohen, 2000, hal. 331.
  10. Asal kata ‘patent; paten’ sama menariknya. Kata ini berasal dari ‘surat paten’, surat terbuka yang diberikan oleh penguasa Eropa untuk menaklukkan tanah asing atau untuk mendapatkan monopoli impor; lihat Shiva, 2000.
  11. Didukung oleh Baran dan Sweezy sebagaimana yang dikritik oleh Shiller dalam Mosco and Wasko, 1988.
  12. Braverman, 1998, hal. 133, (huruf miring pada aslinya).
  13. Ekspansionisme (imperialisme) didorong oleh kebutuhan simultan untuk mendorong kembali biaya tenaga kerja (upah) sambil memperbaiki kapasitas produksi. Pasar konsumen di negara-negara kapitalis, yang terdiri dari pekerja, tidak mampu menyerap peningkatan output barang dan pasar di luar wilayah kapitalis diperlukan untuk menyelesaikan krisis produksi berlebih. Tetapi segera setelah bagian luar terlibat, hal itu menjadi terinternalisasi ke dalam ekonomi kapitalis dan pencarian ‘luar’ baru dimulai. Untuk tinjauan komprehensif tentang ekspansionisme kapitalis, lihat Hardt dan Negri, 2000, hal. 221 dst. Rosa Luxemburg meramalkan bahwa perluasan tak terbatas ibu kota akan runtuh ketika dihadapkan pada batas-batas bumi yang terbatas (Ibid., P. 228). Hardt dan Negri berpendapat bahwa globalisasi adalah titik di mana seluruh bagian luar telah diinternalisasi,tetapi bukannya runtuh “kapital tidak lagi melihat ke luar melainkan ke dalam domainnya, dan ekspansi ini dengan demikian cenderung intensif daripada ekstensif” (Ibid., hal. 272). Ekspansi intensif adalah penjajahan budaya.
  14. Robins dan Webster dalam Mosco and Wasko, 1988, hal. 65 dan 66.
  15. Dyer-Witheford, 1999, hal. 180.
  16. Bisa dibilang, Ivan Illich mungkin menganggap komputer pribadi sebagai peralatan yang kemungkinan ramah digunakan; Illich, 1973, hal. 22:
    Tools/peralatan menjadi ramah sejauh mana mereka dapat dengan mudah digunakan, oleh siapa saja, sesering atau sejarang mungkin yang diinginkan, untuk pencapaian tujuan yang dipilih oleh pengguna. Penggunaan tools semacam itu oleh satu orang tidak menghalangi orang lain untuk menggunakannya secara setara. Mereka tidak memerlukan sertifikasi sebelumnya dari pengguna. Keberadaan mereka tidak memaksakan kewajiban apa pun untuk menggunakannya. Mereka memungkinkan pengguna untuk mengekspresikan maksudnya dalam tindakan.”
    Sebagai contoh alat yang ramah, Illich menyebutkan telepon.
  17. Dyer-Witheford, 1999, hal. 72.
  18. Marx, 1993, hlm.704-705.
  19. Bo Göransson dan saya telah mengeksplorasi pendekatan ini lebih jauh dalam makalah yang belum diterbitkan.
  20. Dalam Dosi dkk., 1988.
  21. Hardt dan Negri, 2001, hal. 298.
  22. Marx, 1990, hal. 106-107.
  23. Hardt dan Negri, 2001, hal. 285.
  24. Jefferson dikutip Barlow, 1994, di http://www.wired.com/wired/archive/2.03/economy.ideas_pr.html, diakses 4 Maret 2002.
  25. May, 2000, hal. 42.
  26. Privatisasi informasi akan memiliki konsekuensi yang luas. Sains bergantung pada kepentingan komersial (Nelkin, 1984), serta sistem pendidikan (Noble, 1998). Ekspresi budaya diambil alih dan diberi merek (Klein, 1999). Ketimpangan baru akan tercipta dalam aksesibilitas informasi (Rifkin, 2000). Dan pengawasan menjadi perlu untuk menjaga properti non-materi, sarana yang disediakan oleh revolusi komputer (Lyon, 1994).
  27. Kaum anarkis di tengah-tengah masyarakat konsumen telah meramalkan kontradiksi ini di bidang material sepenuhnya. “Seabad yang lalu, kelangkaan harus diatasi; hari ini, kelangkaan harus ditegakkan – karena itulah pentingnya negara di era sekarang”; Bookchin, 1977, hal. 37.
  28. Lessig, 1999, hal. 88.
  29. Lihat EuroLinux Alliance, di http://www.eurolinux.org/, diakses 4 Maret 2002.
  30. Lihat http://www.wto.org/english/docs_e/legal_e/legal_e.htm, diakses 4 Maret 2002.
  31. May 2000, hal. 72.
  32. Upaya yang dilakukan oleh Organisasi Kekayaan Intelektual Dunia (WIPO) untuk 'mendidik' publik, sangatlah absurd dan kotradiktif. Misalnya 26 April, menurut WIPO, adalah Hari Kekayaan Intelektual Sedunia, "sebuah kesempatan untuk menyoroti pentingnya kreativitas dan inovasi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat dan dalam kemajuan masyarakat"; lihat http://www.wipo.int/news/en/worldip/world_ip.htm, diakses 4 Maret 2002.
  33. Bettig, 1997, hal. 140, penekanan saya.
  34. Lessig, 1999, hal. 126.
  35. Gail L. Grant, dikutip Lessig, 1999, hal. 40.
  36. Operasi Sundevil, sebuah kampanye penegakan hukum nasional di AS, yang ditujukan kepada komunitas hacker (Sterling, 1994), harus dilihat dari sudut pandang ini. Bagaimanapun, represi langsung terhadap pengguna yang memiliki skill tinggi hanyalah sebagian kecil dan menjadi bagian pelengkap dalam agenda mengamankan sistem dari subjek independen. Momentum sebenarnya terletak pada represi dengan pengurangan tingkat keterampilan (skill) bagi rata-rata pengguna, seperti yang diungkapkan dalam frase licik ‘teknologi yang ramah pengguna/user-friendly’.
  37. Satu kesulitan penting bagi I.P. agenda diidentifikasi oleh Scott dalam "Hak Cipta dalam Dunia Tanpa Gesekan": "[...] Sebagian besar pelanggaran sedang dialihkan dari aktivitas mencari untung ke aktivitas pengurangan biaya. Di mana sebelumnya pemegang hak cipta mungkin memiliki distributor yang menjual puluhan ribu eksemplar sebuah ciptaan, kini distributor tersebut telah digantikan oleh puluhan ribu individu yang semuanya memperoleh satu salinan dari ciptaan itu dari sumber informasi yang mungkin berbeda .... Ada terlalu banyak target, tidak ada satu pun yang layak untuk dikejar. " Refleksi ini hanya meyakinkan jika kita berasumsi bahwa mengatur puluhan ribu individu adalah prestasi yang mustahil. Jika kita takut komputer menyediakan kemampuan seperti itu, inilah alasan mengapa ada insentif yang kuat untuk membuat panoptikon (bangunan institusional dan sistem kontrol yang dirancang oleh filsuf Inggris dan ahli teori sosial Jeremy Bentham di abad ke-18. Bentuk Panoptikon dianggap sebagai representasi Invisible Power dalam Sosial Media Kontemporer sehingga ia sering digunakan dalam frase satire—penj) dalam skala penuh.
  38. May 2000, hal. 147.
  39. Dalam Kahin dkk., 2000, hal. 97.
  40. “Dalam Digital Millennium Copyright Act 1998, Kongres menyatakan bahwa tindakan menulis dan menjual perangkat lunak yang menyalahi skema manajemen hak cipta adalah suatu tindak pidana”; Lessig, 1999, hal. 49.


  Apabila anda merasa situs ini bermanfaat dan ingin mendukung kami supaya bisa terus menyajikan konten berkualitas secara gratis. Maka anda dapat berkontribusi untuk keberlangsungan situs ini, di antaranya dengan memberikan donasi melalui halaman berikut:

Kirim Donasi


Posting Komentar

0 Komentar